PROPOSAL PENELITIAN
PROGRAM
STUDI S1 FARMASI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MANDALA WALUYA
2024
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Tinjauan Teoritis Variabel Bebas
B. Tinjauan Teoritis Variabel Terikat
BAB III KERANGKA
KONSEP PENELITIAN
B. Bagan Kerangka Konsep Penelitian
D.Definisi Operasional dan Kriteria
Objektif
A. Jenis dan Rancanan Penelitian
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
F. Pengolahan Dan Analisis Data
H. Jadwal Dan Waktu Penelitian
Lampiran
1. Skema kerja pembuatan ekstrak
Lampiran 2. Skema kerja pembuatan
tepung Kentos kelapa
Lampiran
3. Skema Kerja Analisis Kandungan Proksimat
Lampiran
4. Skema Kerja Uji Kadar Polifenol Total
Lampiran 5. Skema Kerja Uji
Aktivitas Antibakteri
Lampiran 6. Perhitungan Penimbangan
Bahan
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kebaruan
Penelitian............................................................... 7
Tabel 2. Daftar
Komponen Bioaktif Pangan Fungsional................... 17
Tabel 3. Klasifikasi
kelapa................................................................ 18
Tabel
4. Klasifikasi Bakteri Escherichia coli.................................... 26
Tabel
5. Klasifikasi Penghambatan Pertumbuhan Bakteri ............... 29
Tabel 6. Standar
Analisis Proksimat.................................................. 31
Tabel 7. Jadwal
Penelitian................................................................. 56
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta
Sulawesi Tenggara.................................................. 11
Gambar 2.
Pohon Kelapa.................................................................. 19
Gambar 3. Kentos
Kelapa ................................................................ 21
Gambar 4.
Bakteri Escherichia coli.................................................. 25
Gambar 5. Struktur
dan Antigen Bakteri Escherichia coli............... 25
Gambar 6. Rumus
perhitungan diameter Zona Hambat................... 33
Gambar 7. Bagan
Kerangka Konsep Penelitian................................ 47
DAFTAR LAMBANG DAN
SINGKATAN
|
No. |
LAMBANG/SINGKATAN |
ARTI LAMBANG dan KETERANGAN |
|
1 |
m |
Meter |
|
2 |
cm |
Sentimeter |
|
3 |
mm |
Milimeter |
|
4 |
g |
Gram |
|
5 |
kg |
Kilo Gram |
|
6 |
NA |
Nutrien Agar |
|
7 |
DMSO |
Dimetil Sulfoksida |
|
8 |
% |
Persen |
|
9 |
< |
Kurang Dari |
|
10 |
> |
Lebih Dari |
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Skema
Kerja Pembuatan Ekstrak................................. 61
Lampiran 2. Skema
Kerja Pembuatan Tepung Kentos Kelapa........ 62
Lampiran 3. Skema
Kerja Analisis Kandungan Proksimat.............. 63
Lampiran 4. Skema
Kerja Uji Kadar Polifenol Total....................... 64
Lampiran 5. Skema
Kerja Uji Aktivitas Antibakteri........................ 65
Lampiran 6. Perhitungan
Penimbangan Bahan................................ 66
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pangan fungsional adalah
pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi
kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di
dalamnya. Pangan fungsional didefenisikan sebagai makanan ataupun minuman yang
kandungan nutrisinya memiliki manfaat lebih kepada manusia melampaui kandungan
nutrisinya saja baik untuk meningkatkan status kesehatan maupun untuk mencegah
terjadinya berbagai kasus penyakit yang mungkin terjadi (Abbas, 2020).
Pemanfaatan
pangan fungsional sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern saat ini, selain
gizi makanan yang diperoleh juga bahan senyawa aktif yang secara tidak langsung
ikut terkonsumsi. Pangan fungsional sendiri saat ini mendapatkan banyak
perhatian sebagai pengganti nutrisi dan juga sebagai agen farmasi. Menurut data
World Health Organization (WHO)
pemanfaatan keanekaragaman hayati (bioprospecting)
sangat besar sekali, sekitar 80% umat manusia terutama di negara-negara
berkembang masih menggantungkan dirinya pada tumbuh-tumbuhan (ekstrak dan bahan
bioaktif) sebagai bahan obat untuk menjaga kesehatannya. Lebih jauh, pangan
fungsional tidak hanya sekedar bahan makanan yang terdigesti dalam saluran
pencernaan, tetapi sudah menjadi salah satu cara atau media untuk mencegah
bahkan untuk mengobati beberapa penyakit tertentu, karena beberapa kandungan
esensialnya pangan fungsional dapat memberikan dampak positif terhadap
kesehatan manusia (Abbas, 2020).
Tanaman
kelapa sudah umum dikenal masyarakat, termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Banyak masyarakat yang memanfaatkan buah dan daun kelapa untuk dijadikan produk
maupun untuk dikonsumsi langsung. Salah satu daerah pengasil kelapa di Sulawesi
Tenggara adalah Konawe Selatan. Menurut data Badan Pusat Statistik Konawe Selatan (2022)
Kabupaten Konawe Selatan merupakan daerah
penghasil utama komoditas kelapa
di Provinsi Sulawesi Tenggara, baik dari segi luas areal pertanaman
maupun dari segi
jumlah produksi. Berdasarkan
potensi sumber daya alam di Kabupaten Konawe Selatan,
perkebunan berada di urutan
ke-2 setelah pertanian
yang membantu kesejahteraan wilayah tersebut. Tanaman kelapa
sendiri tersebar di berbagai tempat di
Konawe Selatan salah satunya adalah di Desa Masagena, Kecamatan Konda (Irayanti,dkk 2022).
Salah satu bagian dari tanaman kelapa yang
sering dikonsumsi oleh masyarakat adalah kentos kelapa. Kentos kelapa merupakan
cikal bakal pembentukan tunas kelapa, berbentuk bulat dan terdapat di dalam
buah kelapa yang sudah tua. Kentos semakin lama akan semakin membesar dan
apabila kelapa tidak dibelah maka akan menghasilkan tunas baru. Tunas kelapa
pada biji kelapa akan tumbuh membesar dengan memanfaatkan nutrisi, seperti
endosperm (daging kelapa) dan air kelapa yang ada dalam biji kelapa tersebut,
sehingga semakin besar tunas kelapa maka biji kelapa menjadi gosong. Demikian
juga kentos yang ada dalam biji kelapa juga menjadi sumber nutrisi bagi
pertumbuhan tunas kelapa (Suanda, 2021).
Kentos
kelapa juga dikenal masyarakat dengan sebutan tombong kelapa. Kebiasaan
konsumsi kentos kelapa pada masyarakat biasanya dengan cara dimakan langsung
tanpa adanya pengolahan. Daging Kentos Kelapa selain kaya akan nutrisi juga
memiliki rasa manis dan gurih, sehingga dijadikan sebagai cemilan. Manfaat dari
kentos kelapa adalah mencegah kerusakan pada pembuluh darah, anemia, mencegah
penyakit liver, memperkuat tulang dan gigi, mencegah penyakit jantung koroner,
mencegah stroke, mencegah rabun jauh atau hipermetropi, mencegah radang selaput
otak, mencegah rabun dekat atau miopi, mengobati sakit kepala dan migrain,
mengandung kalsium yang melimpah, meringankan depresi dan stress akut, mencegah
mata silinder supaya tidak makin parah, mengobati batuk kering, mencegah kanker
kolon, mengobati insomnia dan hipersomnia, mengobati mood swing, menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi,
mengobati flu dan pilek dan menguatkan daya pikir (Azis dkk, 2020).
Beberapa
manfaat kentos kelapa diatas tentunya berhubungan dengan kandungan nutrisi yag
terkandung. Menurut study Sholika
(2021) kentos kelapa memiliki banyak kandungan seperti protein, karbohidrat,
mineral, antioksidan dan enzim lipase. Menurut Chikku dan Rajamohan (2012), coconut sprout (kecambah kelapa)
merupakan salah satu bagian yang dapat dimakan dari kelapa dan memiliki
sejumlah kandungan zat gizi yang dibutuhkan manusia untuk proses metabolisme
tubuh, antara lain karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin serta
komponen-komponen bioaktif seperti alkaloid dan polifenol. Valli dan Gowrie
(2017) mengemukakan bahwa kecambah kelapa umumnya secara spesifik dikonsumsi
sehari-hari oleh masyarakat di Chennai-Tamil Nadu untuk menyembuhkan radang
(inflamasi) pada perut, dan diketahui sebagai sumber phytokimia yang baik dengan kandung vitamin, mineral, protein dan
beberapa metabolit sekunder. Kentos kelapa juga mengandung komponen fungsional
seperti fenol dan flavonoid (Siahaya dkk, 2021).
Berdasarkan
beberapa kandungan senyawa bioaktif pada kentos kelapa yaitu fenolik, flavonoid, asam
lemak, dan serat yang diketahui mampu
berpotensi sebagai antibakteri alami. Menurut riset penelitian sebelumnya
kentos kelapa menggunakan metanol dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80%
dengan persentase hambatan maksimum pada bakteri Staphylocccus epidermidis dan Psudomonas aeruginosa masing-masing sekitar 92% dan 91% dengan zona
hambatan maksimum 35 mm pada konsentrasi 80 kedua bakteri. Hasil yang didapatkan pada konsentrasi rendah
aktivitas antibakteri kurang efektif yang ditandai dengn hasil zona hambatan
yang tergolong lemah berkisar < 5 mm. Menurut riset penelitian Rastina
(2015) bahwa aktivitas antibakteri pada bahan pangan dengan konsentrasi rendah
tidak memberikan perbedaan yang bermakna dan semakin tinggi konsentrasi semakin
terlihat perbedaannya. Sehingga pada penelitian ini digunakan perbandingan
konsentrasi 40%, 60%, dan 80%. Dari datadiatas
maka diketahui bahwa penggunaan antibakteri
alami yang berasal dari tanaman merupakan solusi strategis untuk memperbaiki
masalah yang kini dihadapi dalam bidang kesehatan yaitu resistensi antibiotik
akibat penggunaan yang kurang bijaksana. Resistensi antibiotik sendiri telah menjadi masalah kesehatan
global dengan berbagai dampak merugikan.
Salah
satu bakteri yang masih menjadi penyebab resistensi ialah Escherichia coli yang hidup di usus manusia dan hewan. Bakteri
ini pada umumnya tidak berbahaya dan merupakan bagian penting saluran
pencernaan yang sehat. Namun, beberapa E.
coli dapat bersifat patogen yang menyebabkan penyakit seperti diare dan
penyakit saluran usus lainnya seperti menyebabkan diare ringan hingga diare
berdarah
dan hemorrhagic
colitis dan hemolytic uremic syndrome
(HUS).
Hasil penelitian antimicrobial
resistance in Indonesia (AMRIN-Study) terbukti bahwa dari 2.494 individu
tersebar di seluruh Indonesia, 43 persen E.
coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Antibiotik yang telah
resisten di antaranya adalah (34%), kotrimoksazol (29%) dan kloramfenikol (25%)
(Cahyadi dkk, 2019).
Salah
satu kandungan kentos kelapa adalah polifenol yang merupakan senyawa dengan
kandungan satu atau lebih gugus
fenolik dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia seperti antioksidan,
antiinflamasi, antidiabetik, antialergi, antiaterogenik, antihipertensi,
antitrombotik, antikanker, kardioprotektif, osteoprotektif, neuroprotektif,
anti penuaan, dan hepatoprotektif dan juga antibakteri,
antitoksin. Polifenol juga digunakan sebagai pengawet alami dalam industri
makanan karena sifat antioksidan dan antimikrobanya. Beberapa penelitian telah
melaporkan bahwa ekstrak tumbuhan yang kaya akan polifenol dapat menghambat
pertumbuhan bakteri dan jamur pathogen sehingga secara klinis dapat bertindak
sebagai alternatif antibakteri alami. Polifenol juga menunjukkan aktivitas
antibakteri terhadap sejumlah besar bakteri (termasuk bakteri gram positif dan
gram negatif) dan jamur (Manso et al., 2021).
Sehingga
berdasarkan beberapa hal diatas maka peneliti menduga bahwa bahan pangan
seperti kentos kelapa dengan kandungan nutrisi yang cukup banyak dapat
memberikan manfaat bagi tubuh dan dapat menjadi solusi yang mengarah pada
pengembangan nutraceuticals untuk
meningkatkan harapan hidup manusia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan
untuk mencari tau kandungan proksimat, kandungan polifenol total, dan uji
aktivitas antibakteri kentos kelapa (Cocos nucifera) yang berpotensi sebagai
antibakteri alami dalam menghambat pertumbuhan mikroba.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Berapakah
kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan serat yang terkandung dalam
kentos kelapa (Cocos nucifera)?
2. Berapakah
kadar polifenol total yang terkandung dalam ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera)?
3. Apakah
ektrak kentos kelapa (Cocos nucifera)
memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Escherichia coli?
4. Pada
konsentrasi berapa ekstrak kentos kelapa dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara optimal?
C.
Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang hendak di
capai pada penelitian ini adalah:
1. Untuk
mengetahui kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan serat yang terkandung
dalam kentos kelapa.
2. Untuk
mengetahui berapa kadar polifenol total yang terkandung dalam ekstrak kentos
kelapa (Cocos nucifera).
3. Untuk
mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kentos kelapa terhadap bakteri Escherichia coli.
4. Untuk
mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak kentos kelapa dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli
secara optimal.
D.
Manfaat
Penelitian
1. Manfaat
Teoritis
Penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan tentang kandungan
proksimat, kandungan polifenl total dan uji aktivitas antibakteri dalam kentos
kelapa (Cocos nucifera) terhadap
bakteri Escherichia coli.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi
ilmu pengetahuan
Dapat memberikan informasi yang dapat di
pertanggung jawabkan secara ilmiah mengenai manfaat kentos kelapa (Cocos nucifera)
b. Bagi
institusi
Meningkatkan kredilibilitas institusi
Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya sebagai pemanfaatan tanaman bahan alam
lokal.
c. Bagi
Peneliti
Meningkatkan
kemampuan peneliti dalam keilmuan terkhusus dalam bidang fitokimia dan
mikrobiologi.
E.
Kebaruan
Penelitian
Berdasarkan kajian literatur peneliti belum
menemukan penelitian yang sama mengenai “Analisis Proksimat, Penentuan Kadar
Polifenol Total dan Uji Aktivitas Antibakteri Kentos Kelapa (Cocos nucifera)
Medukung Pangan Fungsional Masyarakat Sulawesi Tenggara”. Adapun penelitian terkait
Judul ini dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1. Kebaruan Penelitian
|
No |
Judul Penelitian |
Persamaan |
Perbedaan |
|
1. |
Adzimahtinur, (2020). Aktivitas
Antianemia Filtrat Limbah
Kentos Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Natrium Nitrit |
Sama sama menggunakan sampel
yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera) |
Pada penelitian sebelumnya
untuk mengetahui aktivitas anti anemia
dari limbah kentos kelapa (Cocos nucifera) terhadap mencit yang diinduksi natrium nitrit. Pada penelitian yang akan dilakukan memanfaatkan ekstrak kentos kelapa
untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri kentos kelapa dan kandungan
senyawa metabolit primer dan sekunder. |
|
2. |
Arief, (2020). Pengaruh Ekstrak Kentos Kelapa(Cocos nucifera) Terhadap Penurunan Immobility
Time Sebagai Antidepresan Pada Mencit (Mus musculus) |
sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera) |
pada penelitian sebelumnya
dilakukan pengujian menggunakan ekstrak kentos kelapa untk mengetahui pada
konsentrasi berapa ekstrak Kentos kelapa (Cocos
nucifera) memberikan efek antidepresan pada mencit (Mus musculus). Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan
ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk
mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) memberikan efek
antibakteri pada Escherichia coli |
|
3. |
Arunaksharan, (2023). Proximate
Composition, Antioxidant, Anti-Inflammatory and Anti-Diabetic Properties of
the Haustorium from Coconut (Cocos Nucifera L.)and Palmyra Palm (Borassus Flabellifer L.) |
sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera). |
Pada penelitian sebelumnya
dilakukan pengujian menggunakan ekstrak kentos kelapa untk mengetahui
aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan antidiabetes dari kentos
kelapa (Cocos nucifera). Pada penelitian yang akan
dilakukan menggunakan ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui aktivitas
antibakteri. |
|
4. |
Valli, S, (2020). Bioprospecting and
Therapeutic Applications of Cocos
nucifera L. Sprouts |
Sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera) |
pada peelitian sebelumnya
dilakuka pengujian dengan membandingkan fitokonstituen dan bioefikasi daging
kelapa (endosperm seluler) dan
kecambahnya (haustorium ) menggunakan bioassay yang mengarah pada
pengembangan obat baru yang merekomendasikan pengembangan nutraceuticals dan pengujian
antibakteri ekstrak metanol kentos kelapa menggunakan dengan metode difusi sumuran
menunjukan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, dan zona hambatan sekitar 35 mm
terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Pada penelitian yang akan dilakukan
menggunakan ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui
aktivitas antibakteri Escherichia
coli |
|
5. |
Kolondam, (2023). Potential
Antioxidant Activity Of Coconut Kentos Flour (Cocos nucifera L.) And Application
In Biscuits |
Sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera) |
pada penelitian sebelumnya
melihat potensi aktivitas antioksidan tepung kentos kelapa (Cocos nucifera) dan aplikasinya pada
biskuit. Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan ekstrak Kentos
kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui
aktivitas antibakteri Escherichia
coli |
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis Variabel Bebas
1. Sulawesi Tenggara
a.
Geografi dan Iklim
Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi.
Secara astronomis terletak di bagian Selatan Garis
Khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan di antara
02⸰45' - 06⸰15'
Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara
120⸰45' - 124⸰45' Bujur Timur. Luas wilayah Sulawesi Tenggara, adalah berupa
daratan seluas 38.067,7 km2.
Berdasarkan posisi geografisnya. Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah,
sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi NTT di Laut
Flores, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Maluku di Laut Banda dan sebelah
Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan
di Teluk Bone.
Gambar
1. Peta Sulawesi Tenggara
(Yahya,dkk, 2019)
Berdasarkan topografi
menunjukkan bahwa Sulawesi Tenggara umumnya memiliki permukaan tanah yang
bergunung, bergelombang dan berbukit-bukit. Diantara gunung dan bukit-bukit,
terbentang dataran-dataran yang merupakan daerah potensial untuk pengembangan
sektor pertanian. Permukaan tanah pegunungan telah banyak digunakan untuk
usaha. Tanah ini sebagian besar berada pada ketinggian 100-500 meter di atas
permukaan laut dan pada kemiringan tanah yang mencapai 40 derajat. Sulawesi
Tenggara memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Musim Kemarau
terjadi antara bulan Juni dan September, dimana angin Timur yang bertiup dari
Australia tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim
kemarau. Sebaliknya musim hujan terjadi antara bulan Desember dan Maret, dimana
angin Barat yang bertiup dari Benua Asia dan Samudera Pasifik banyak mengandung
uap air sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti itu berganti setiap
setengah tahun setelah melewati masa peralihan
pada bulan April - Mei dan Oktober - November. Tinggi rendahnya suhu udara
dipengaruhi oleh letak geografis wilayah dan ketinggian dari permukaan laut.
Sulawesi Tenggara yang terletak di daerah
khatulistiwa dengan ketinggian pada umumnya di
bawah 1.000 meter, sehingga beriklim tropis.
Pada tahun 2015, suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 28⸰C - 34⸰C, dan suhu minimum rata-rata berkisar
antara 22⸰C - 25⸰C (Mardiyanto, 2016).
b. Kependudukan
Dengan luas wilayah 38.067 km2, secara rata-rata
setiap km2 wilayah Sulawesi Tenggara ditinggali sekitar 66 orang
penduduk dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga sebanyak 4 orang seiring
dengan persebaran penduduk tiap kabupaten/kota. Kota Kendari dengan persentase
penduduk sebesar 13,90 persen memiliki tingkat kepadatan tertinggi mencapai
1.154,89 jiwa/km2. Sementara tingkat kepadatan terendah di Kabupaten
Konawe Utara sebesar 11,45 jiwa/Km2 dengan persentase penduduk
sebesar 2,34%.
Dilihat dari piramida penduduk Sulawesi Tenggara tahun 2015
dikategorikan sebagai tipe ekspansif dengan sebagian besar penduduk berada pada kelompok
umur muda. Hal ini mengindikasikan angka kelahiran
yang cukup tinggi dan ditunjukkan oleh
lebarnya dasar piramida. Disisi lain, angka kematian
juga terlihat masih tinggi, yang ditunjukkan oleh semakin kecilnya puncak
piramida (Mardiyanto, 2016).
c. Potensi Alam
Ragam produksi
tanaman hortikultura di Sulawesi Tenggara cukup bervariasi. Untuk tanaman
sayuran, terdapat bawang merah, cabai rawit, kubis, kacang panjang,
petsai/sawi, cabai besar, bawang daun, tomat, terung, buncis, ketimun, dan
lainnya. Terung dan kacang panjang menghasilkan produksi yang dominan utuk
tanaman sayuran. Sedangkan Tanaman pangan yang diusahakan di Sulawesi Tenggara
hanya delapan jenis tanaman yang utama yaitu; padi sawah, padi ladang, jagung,
kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Dari
delapan jenis tanaman pangan, padi sawah mendominasi produksi tanaman pangan di
Sulawesi Tenggara. Sentral produksi padi berada di Kabupaten Konawe, dengan
total produksi mencapai 234.169 ton di tahun 2015 atau 35,44 persen dari total
produksi Sulawesi Tenggara. Untuk tanaman ubi kayu banyak dihasilkan di
Kabupaten Buton. Untuk tanaman jagung dan ubi jalar banyak dihasilkan di
Kabupaten Muna, kedelai di Kabupaten Konawe Selatan.
Untuk tanaman buah-buahan, jeruk,
pisang, mangga, dan rambutan menjadi tanaman yang
banyak dihasilkan di Sulawesi Tenggara.
Produksi keempat tanaman buah-buahan tersebut
masing-masing 511.914 kuintal, 288.804 kuintal,
257.755 kuintal, dan 115.862
kuintal. Dalam bidang perkebunan, kakao menjadi
komoditi perkebunan yang dominan dihasilkan di Sulawesi
Tenggara. Tahun 2015 produksi kakao sebesar
135.932 ton, dari luas tanam 255.468 hektar. Selain
kakao, terdapat tanaman kelapa, jambu mete, dan
cengkeh yang produksinya juga tergolong besar,
masing-masing sebesar 41.850 ton, 32.863 ton,
dan 18.874 ton.
Produksi daging dari hewan ternak di Sulawesi Tenggara tahun 2015 menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya, dari 17.036.290 kg di tahun 2014 menjadi
17.675.796 kg di tahun 2015. Meski secara keseluruhan meningkat,
terjadi penurunan produksi untuk daging sapi potong,
dari 4.374.246 kg menjadi 3.692.959 kg. (Mardiyanto, 2016).
2.
Pangan Fungsional
a. Sejarah dan defenisi
Istilah pangan fungsional pertama kali diciptakan di Jepang pada tahun
1984, saat pemerintah Jepang menginvestasikan Yen dalam jumlah yang besar,
untuk meneliti pangan fungsional atau pangan yang spesifik berperan positif
terhadap kesehatan manusia. Pemerintah Jepang kemudian secara resmi mencatat
dalam lembaran negara tentang pangan fungsional dan dikenal dengan FOSHU (Food for specified health used). Saat
istilah pangan fungsional bermigrasi ke Eropa, pangan fungsional didefenisikan
sebagai produk makanan ataupun minuman yang kandungan nutrisinya memiliki
manfaat lebih kepada manusia melampaui kandungan nutrisinya saja, baik untuk
meningkatkan status kesehatan maupun untuk mencegah terjadinya berbagai kasus
penyakit yang mungkin terjadi (Abbas, 2020).
Pangan fungsional adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui
proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian
ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat
bagi kesehatan, serta dikonsumsi sebagai mana layaknya makanan atau minuman,
mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna dan tekstur dan cita
rasa yang dapat diterima oleh konsumen, tidak memberikan kontraindikasi dan
tidak memberikan efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap
metabolisme zat gizi lainnya. Meenurut Abbas (2020) pangan fungsional adalah pangan olahan yang
tidak hanya mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan
kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu tetapi juga memiliki
beberapa atribut tertentu untuk dapat dikategorikan ke dalam kelompok spesifik
ini. Menurut American Dietetic Association (ADA), yang termasuk pangan
fungsional tidak hanya pangan alamiah tetapi juga pangan yang telah
difortifikasi atau diperkaya dan memberikan efek potensial yang bermanfaat
untuk kesehatan jika dikonsumsi sebagai bagian dari menu pangan yang bervariasi
secara teratur pada dosis yang efektif (Anam, dkk, 2019).
b. Fungsi
Menurut Sirajuddin (2012) pangan fungsional merupakan pangan yang
mempuyai tiga fungsi yaitu fungsi primer, maksudnya makanan tersebut memenuhi
kebutuhan gizi yang diperlukan (karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan
mineral); fungsi sekunder maksudnya makanan tersebut bisa diterima konsumen
secara sensoris serta fungsi tersier maksudnya makanan memiliki fungsi untuk
menjaga kesehatan, mengurangi terjadinya suatu penyakit dan menjaga metabolisme
tubuh.
Pada umumnya, secara alamiah hampir setiap bahan pangan memiliki komponen
bioaktif dan relatif aman sebagai sumber nutrisi (Zhang et al., 2019). Namun ada beberapa atribut yang harus dimiliki oleh
suatu bahan pangan hingga dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional. Secara
umum, setidaknya terdapat lima kelompok besar kategori pangan fungsional,
antara lain;
a) bahan pangan yang kandungan nutrisi dasarnya dikurangi atau
ditingkatkan, misalnya sereal yang telah ditambahkan vitamin, minuman yang
telah difortifikasi dengan vitamin antioksidan serta produk sapi perah yang
telah dikurangi kadar lemaknya,
b) produk yang secara alamiah tidak memiliki nutrisi tertentu lalu
ditambahkan ke dalamnya, misalnya penambahan serat ke dalam jus buah, asam folat yang ditambahkan ke
dalam margarin serta cemilan yang
diperkaya stanol untuk menekan penyerapan kolesterol,
c) produk berbahan dasar susu difermentasi dengan probiotik yang
diseleksi berdasarkan kemampuan fungsionalnya untuk membantu proses pencernaan
dan mencegah infeksi, beberapa produk telah ditambahkan oligosakarida untuk
mendukung pertumbuhan bakteri tersebut,
d) produk yang secara khusus diformulasikan untuk kebutuhan tertentu
misalnya minuman untuk olahragawan ataupun sereal yang dibuat secara khusus
untuk melepaskan karbohidrat dan menyuplai energi dalam jangka
waktu yang cukup lama,
e) bahan pangan yang mengandung
bahan herbal untuk membantu mengatasi beragam masalah kesehatan (Abbas, 2020).
c. Komponen Bioaktif Dalam
Pangan Fungsional
Dalam peraturan Badan POM No.HK.00.05.52.0685 tahun 2005 pasal 1 ayat 3
disebutkan bahwa pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu
atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi
fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan.
Lebih jauh, pada pasal 5 dalam peraturan ini merinci terdapat 14 kelompok
kandungan bioaktif dalam suatu bahan pangan sehingga dapat dikategorikan
sebagai pangan fungsional, secara rinci dapat dilihat pada tabel dibawah
ini :
Tabel 2. Daftar Komponen Bioaktif dalam Pangan Fungsional
|
No |
Komponen Bioaktif |
Sumber Utama |
|
1. |
Vitamin |
wortel, susu, jeruk sitrun, keju, telur, gandum,
daging, hati, kacang ragi |
|
2. |
Mineral |
Daging, kacang-kacangan, alga,
sayur dan buah |
|
3. |
Gula Alkohol |
Jagung |
|
4. |
Asam lemak tak jenuh |
minyak ikan |
|
5. |
Peptida dan protein tertentu |
rumput laut, daging,susu, telur
|
|
6. |
Asam amino |
daging, telur, susu, alga |
|
7. |
Serat pangan |
sayuran,buah kelapa |
|
8. |
Prebiotik |
Oats, pisang, buah berry,
asparagus, bawang merah, bawang putih |
|
9. |
Probiotik |
Daging, susu, sayuran dan buah |
|
10. |
Kolin, Lesitin dan Inositol |
Daging, sayuran |
|
11. |
Karnitin dan Skualen |
Minyak ikan |
|
12. |
Isoflavon, |
Kacang kedelai daun katuk |
|
13. |
Fitosterol dan Fitostanol |
Kacang tanah, daun katuk, buah
delima |
|
14. |
Polifenol |
Alga, buah pisang, daun katuk, manggis |
3.
Tumbuhan Kelapa (Cocos nucifera)
a. Klasifikasi
Dalam tata nama tumbuhan (taksonomi), tumbuhan kelapa diberi
nama Cocos nucifera yang secara
lengkap pengklasifikasiannya yaitu sebagai berikut :
Tabel 3. Klasifikasi Kelapa (Mardiatmoko, 2018).
|
Kingdom |
: |
Plantae (Tumbuhan) |
|
Sub Kingdom |
: |
Tracheobionta
(Tumbuhan berpembuluh) |
|
Divisi
|
: |
Magnoliophyta
(Tumbuhan berbunga) |
|
Super
Divisi |
: |
Spermatophyta
(Menghasilkan biji) |
|
Kelas |
: |
Liliopsida
(berkeping satu / monokotil) |
|
Sub
Kelas |
: |
Arecidae |
|
Ordo |
: |
Arecales |
|
Famili |
: |
Arecaceae
(suku pinang-pinangan) |
|
Genus |
: |
Cocos |
|
Spesies |
: |
Cocos nucifera L. |
Kelapa
(Cocos mucifera L.) adalah komoditas
strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan
masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini di manfaatkan hampir semua bagiannya oleh
manusia sehingga di anggap sebagai tumbuhan serta guna, khususnya bagi
masyarakat pesisir (Mardiatmoko, 2018).
b. Morfologi
Bagian-bagian dari
pohon kelapa yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah.
Gambar 2. Pohon kelapa
(Marditmoko dkk, 2018)
1.
Akar
Tanaman kelapa memiliki perakaran yang
kuat. Akarnya bertipe serabut seb
aga imana tanaman monokotil lain. Jumlah akar
serabut berkisar antara 2.000- 4.000, tergantung kesehatan tanaman. Sebagian
akar tumbuh mendatar dekat permukaan tanah, kadang-kadang mencapai panjang 15
m, dan sebagian lagi masuk sampai kedalaman 2-3 m. Akar tanaman kelapa tidak
mampu menembus tanah yang keras. Akar serabut tanaman kelapa memiliki tebal
rata-rata 1 cm (Muthia, 2019).
2. Batang
Tanaman kelapa hanya mempunyai satu titik
tumbuh terletak pada ujung dari batang, sehingga tumbuhnya batang selalu
mengarah ke atas dan tidak bercabang. Tanaman kelapa tidak berkambium, sehingga
tidak memiliki pertumbuhan sekunder. Luka-luka pada tanaman kelapa tidak bisa
pulih kembalih karena tanaman kelapa tidak membentuk kalus (callus). Batang berangsur-angsur
memanjang disebelah ujung yang berturut-turut tumbuh daun yang berukuran besar
dan lebar pada pertingkatan tumbuhan tertentu, dari ketiak-ketiak daun secara
berangsur-angsur keluar karangan bunga. Bagian batang yang sebenarnya dari
tanaman yang masih mudah baru kelihatan jelas kalau tanaman kelapa telah
berumur 3-4 tahun, bilamana daun-daun terbawah telah gugur (Muthia, 2019).
3. Daun
Struktur daun kelapa terdiri atas tangkai
(pelepah) daun, tulang poros daun, dan helai daun. Tangkai daun terletak
dibagian pangkal dengan bentuk melebar sebagai tempat melekat tulang poros
daun. Daun kelapa bersirip genap dan bertulang sejajar. Helai daun berbentuk
menyirip, berjumlah 100-130 lembar. Letak daun mengelilingi batang. Tajuk dan
terdiri atas 20-30 buah pelepah. Pada pohon yang sudah dewasa panjang pelepah
antara 5-8 m dengan berat rata-rata 15 kg. Jumlah anak daun 100-130 lembar
(50-65) pasang (Muthia, 2019).
4. Bunga
Umumnya tanaman kelapa mulai berbunga pada
umur 6-8 tahun. Namun sekarang banyak jenis tanaman kelapa yang berbuah lebih
cepat yaitu kelapa hibrida, yang mulai berbunga pada umur 4 tahun. Bunga kelapa
pada dasarnya merupakan bunga tongkol yang dibungkus selaput upih yang keluar
dari sela-sela pelepah daun. Bunga akan terbuka namun upihnya mengering lalu
jatuh. Upih yang kering dan jatuh disebut mancung. Bunga kelapa tergolong bunga
serumah (Monoecious), artinya alat
kelamin jantan dan betina terdapat pada satu bunga (Muthia, 2019).
5. Buah
Pertumbuhan tanaman kelapa dibagi kedalam
tiga fase : Fase1, berlangsung selama 4-6 bulan. Pada fase ini bagian tempurung
dan sabut hanya membesar dan masih lunak. Lubang embrio juga ikut membesar dan
berisi penuh air. Fase 2, berlangsung selama 2-3 bulan. Pada fase ini tempurung
berangsur-angsur menebal tetapi belum keras betul. Fase 3, pada fase ini putih
lembaga atau endosperm sedang dalam
penyusunan, yang dimulai dari pangkal buah berangsur-angsur menuju ke ujung.
Pada bagian pangkal mulai tampak bentuknya lembaga, warna tempurung berubah
dari putih menjadi coklat kehitaman dan bertambah keras (Muthia sari,
2019).
4.
Kentos
Kelapa atau Haustorium Kelapa
Salah
satu bagian kelapa yang belum dimanfaatkan dengan baik adalah bagian kentos
buah kelapa. Kentos
kelapa biasanya disebut juga dengan tombong kelapa, gendos, haustorium, coconut sprout merupakan bagian lembaga
(embrio) tanaman kelapa yang terdapat di bagian dalam buah kelapa. Pada
beberapa daerah kentos kelapa masih dipandang sebagai sampah/limbah, padahal
kentos kelapa memiliki kandungan yang berpotensi menjadi obat. Kentos kelapa merupakan cikal bakal
pembentukan tunas kelapa, berbentuk bulat dan terdapat di dalam buah kelapa
yang sudah tua. Kentos ini merupakan cadangan makanan dan merupakan
lembaga yang akan tumbuh menjadi calon individu baru.
Gambar 3. Kentos kelapa (Dokumentasi Pribadi)
Beberapa penelitian tentang
pengolahan kentos sudah pernah dilakukan. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa
kentos bisa dijadikan substrat untuk minuman wine dengan hasil yang cukup baik, karena kandungan antioksidan
yang cukup tinggi. Ada juga penelitian yang mengolah ekstrak kentos menjadi
minuman non-alcohol (squash) dengan
hasil yang menyatakan bahwa sari buah kentos ini bisa digunakan oleh penderita
kanker dan juga penderita darah tinggi. Penelitian lain menunjukkan bahwa kentos
juga bisa digunakan sebagai obat herbal (fitomedicine).
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh mempelajari tentang kondisi optimum
enzim lipase kasar dari kentos kelapa. Berkaitan dengan enzim ini, menjadikan
kentos sebagai sumber enzim lipase yang digunakan untuk menghidrolisis lemak
daging ayam. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kentos tidak
berpengaruh nyata terhadap asam lemak bebas pada daging ayam (Mardeski et al., 2023).
1.
Kandungan
Kimia dan Manfaat Kentos Kelapa
Berdasarkan hasil penelitian terhadap moisture content kentos kelapa didapatkan nilai sekitar 86-89%.
Selain itu dalam kentos kelapa juga mengandung abu, protein, lemak, pati,
katbohidrat, serat, asam lemak, asam amino, dan mineral (Mansauda, et al., 2022).
Sebanyak
100 g kentos kelapa kering mengandung sekitar 1% abu,25%pati, 5,6%protein,
2%lemak, 26% serat (6% serat makanan larut, dan
20% serat makanan tak larut). Nilai pati pada kentos kelapa yang dikupas
lebih tinggi (sekitar 21 g/100g kentos kelapa kering) dibandingkan dengan
haustorium kelapa yang tidak dikupas (sekitar 15 g/100g kentos kelapa kering). Karbohidrat
dalam kentos kelapa berkisar 67g/100g kentos kelapa kering dimana sekitar 66% dari total karbohidrat
adalah gula sederhana yang larut (sebanyak 64% gula tersebut terdiri dari
glukosa dan fruktosa). Disamping itu
pada kentos kelapa
juga mengandung asam lemak dan asam-asam amino (Mansauda, et al., 2022).
Menurut penelitian dari Zhang (2022) terdapat
25 senyawa volatil yang dapat diidentifikasikan pada kentos kelapa sebelas
diantaranya adalah aldehida, lima asam, tiga alkohol, tiga keton, dua ester,
dan satu pirazin dengan asam sebagai kandungan yang paling dominan yakni
sekitar (26.90 – 60.82%), kemudian aldehida (2.68 –17.43%), dan alcohol (5.59–16.18%).
Hasil uji menggunakan GC-MS menunjukkan didalam kentos
kelapa terkandung senyawa triazol, fenol, flavonoid, monosakarida,
metil ester, quinoxaline,
triterpenoid, dan asam
askorbat, dan sebagainya (Mansauda, et al., 2022)
Menurut beberapa
penelitian, kentos sangat baik untuk kesehatan karena memiliki kandungan
nutrisi yang tinggi, rendah kalori, dan juga memiliki kandungan antioksidan
yang cukup tinggi. Kentos mengandung 44,2% gula, 24,5% pati, 5,5% protein,
1,99% lemak, 5,72% serat, dan juga mengandung beberapa mineral seperti K, Mg,
Ca, Mn, Cu, Fe, dan Zn. Selain itu, kentos mengandung antioksidan, dan juga
beberapa asam amino seperti metionin + sistein (57,6%), fenialanin tirosin
(32,6%), leusin (45,7%), dan isoleusin (68%). Oleh karena kandungan nutrisi
kentos yang cukup banyak tersebut, maka mengkonsumsi kentos bisa memberikan
beberapa manfaat untuk tubuh. Manfaat tersebut antara lain meningkatkan kerja
otak, membantu menghasilkan energi, mencegah anemia, melawan radikal bebas,
menjaga kesehatan jantung, makanan alternatif untuk pengidap intoleransi
laktosa, meringankan depresi. Penelitian dari Azis dan Lawan (2020) menunjukkan bahwa
pemberian ekstrak etanol 96% kentos kelapa kepada mencit dapat menghasilkan
penurunan dalam waktu immobilitas yang merupakan indikator perilaku depresi. Penelitian tentang aktivitas
antianemia kentos kelapa juga menunjukkan bahwa pemberian filtrat kentos kelapa menghasilkan
peningkatan kadar hemoglobin
yang signifikan dan
jumlah sel darah
merah pada mencit yang diinduksi
natrium nitrit. Pada riset penelitian (Narayanankutty et al. 2023) aktivitas
antioksidan ekstrak kentos kelapa telah dianalisis menggunakan aktivitas
penghambatan oksidan DPPH (dengan nilai
IC50 yakni sekitar 28 μg/mL),
hidrogen peroksida (dengan nilai
IC50 yakni sekitar 44 μg/mL), dan penghambatan peroksidasi lipid secara
ex vivo (dengan nilai IC50 yakni sekitar 83 μg/mL). Penelitian juga menunjukkan
adanya aktivitas antiinflamasi dimana nilai IC50 dari uji penghambatan LPX
(lipoxygenase) adalah sekitar 54 μg/mL dan nilai IC50 untuk pengambatan radikal
nitrat oksida adalah sekitar 87 μg/mL (Mardesci et
al., 2023).
Pada riset penelitian antibakteri
ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera)
mengandung flavonoid
dan asam askorbat
yang bertindak sebagai
agen antibakteri alami. Pengujian antibakteri ekstrak metanol kentos
kelapa menggunakan dengan metode difusi sumuran menunjukan zona hambatan
sekitar 35 mm terhadap bakteri Staphylococcus
epidermidis, dan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa (Mardesci et al., 2023).
Manfaat terapetik kentos kelapa (Cocos nucifera) menurut beberapa
penelitian yaitu antidepresan, antianemia, kardioprotektf, antioksidan,
antiinflamasi, antibakteri, antidiabetes, dan antitukak (Mansauda, et al., 2022).
B. Tinjauan Teoritis Variabel Terikat
1. Bakteri Escherichia coli
1.1
Morfologi dan Taksonomi
Bakteri
Escherichia coli merupakan bakteri
yang hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan, Escherichia coli merupakan bakteri anaerobik fakultatif yang dapat
tumbuh pada keadaan aerob maupun anaerob, bakteri yang tergolong dalam anaerob
fakultatif merupakan bakteri patogen yang sering dijumpai. Escherichia coli memiliki bentuk batang pendek (coccobasil) dengan ukuran 0,4-0,7 µm x
1,4 µm, bersifat motil (dapat
bergerak), tidak memiliki nukleus, organel eksternal maupun sitoskeleton tetapi
memiliki organel eksternal yakni vili
yang merupakan filamen tipis dan lebih panjang (Romadhon, 2016).
Gambar 4. Escherichia coli
(Riani, 2021)
Gambar 5. Struktur
dan Antigen Bakteri Escherichia coli (Romadhon,
2016)
Bakteri
Escherichia coli merupakan bakteri
Gram negatif yang memilik 150 tipe antigen O, 50 tipe antigen H, dan 90 tipe
antigen K beberapa antigen O dapat dibawa oleh mikroorganisme sehingga sama
seperti yang dimiliki Shigella. Terkadang penyakit spesifik berhubungan dengan
antigen O, yang dapat ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih dan diare
(Romadhon, 2016).
Menurut
Jawetz (2007) bakteri Escherichia coli
memiliki taksonomi sebagai berikut :
Tabel 4. Klasifikasi Bakteri Escherichia coli
|
Kingdom |
: |
Procaryotae |
|
Divisi |
: |
Gacilicutes |
|
Kelas |
: |
Scotobacteria |
|
Ordo |
: |
Eubacteriales |
|
Famili |
: |
Euteroactericea |
|
Genus |
: |
Escherichia |
|
Spesies |
: |
Escherchia coli |
Escherichia
coli memfermentasikan laktosa dan memproduksi
indol yang digunakan untuk mengidentifikasikan bakteri pada makanan dan air.
Escherichia coli berbentuk sirkular, konveks dan koloni tidak berpigmen pada
nutrient dan media darah. Escherichia coli dapat bertahan hingga suhu 600C
selama 15 menit atau pada suhu 550C selama 60 menit. Escherichia coli tumbuh
baik pada temperatur antara 8°- 46°C dan temperatur optimum 37°C. Bakteri yang
dipelihara di bawah temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur
maksimum, tidak akan segera mati melainkan berada di dalam keadaan tidur atau
dormansi (Romadhon, 2016).
Pada
umumnya bakteri Escherichia coli hanya
mengenal satu macam pembiakan yaitu dengan cara seksual atau vegetatif.
Pembiakan ini berlangsung cepat, apabila faktor-faktor luar menguntungkan bagi
dirinya. Apabila faktor-faktor luar menguntungkan, maka setelah terjadi
pembelahan, sel-sel baru tersebut akan membesar sampai masing masing menjadi
sebesar sel induknya (Melliawati, 2009). Kehidupan bakteri tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor-faktor luar tetapi sebaliknya bakteri mampu mempengaruhi
keadaan lingkungannya, misalnya dapat menyebabkan demam (panas) akibat
terinfeksi oleh bakteri Escherichia coli
yang ada dalam saluran pencernaan dan menyebabkan diare yang berkepanjangan.
Jika Escherichia coli berada dalam
medium yang mengandung sumber karbon (glukosa, laktosa, dsb) maka akan mengubah
derajat asam (pH) dalam medium menjadi asam dan akan membentuk gas sebagai
hasil proses terurainya glukosa menjadi senyawa lain (Riani, 2021).
1.2. Patogenesis Escherichia coli
Bakteri
Escherichia coli merupakan bakteri Coliform dan hidup dalam saluran
pencernaan manusia sehingga bakteri Escherichia
coli termasuk dalam flora normal usus. Tetapi jika bakteri Escherichia coli ini ditemukan pada
makanan dan minuman dapat dikatakan bahwa pengolahan makanan tersebut sudah
tercemar atau berkontak dengan kuman dikarenakan kondisi tersebut dapat
menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Pada kondisi yang telah menimbulkan
gejala seperti diare dapat dipengaruhi oleh jumlah koloni pada saluran
pencernaan dan karakteristik virulensinya. Berdasarkan sifat virulensinya
bakteri Escherichia coli digolongkan
menjadi beberapa golongan yaitu:
a) Escherichia coli
Enteropatogenik (EPEC)
EPEC penyebab penting
diare pada bayi, khususnya di negara berkembang. EPEC sebelumnya dikaitkan
dengan wabah diare pada anak-anak di negara maju. EPEC melekat pada sel mukosa
usus kecil. Faktor yang diperantarai secara kromosom menimbulkan pelekatan yang
kuat. Akibat dari infeksi EPEC adalah diare cair yang biasanya sembuh sendiri
tetapi dapat juga kronik. Lamanya diare EPEC dapat diperpendek dengan pemberian
anibiotik. Diare terjadi pada manusia, kelinci, anjing, kucing dan kuda.
Seperti ETEC, EPEC juga menyebabkan diare tetapi mekanisme molekular dari
kolonisasi dan etiologi adalah berbeda. EPEC sedikit fimbria, ST dan LT toksin,
tetapi EPEC menggunakan adhesin yang dikenal sebagai intimin untuk mengikat
inang sel usus. Sel EPEC invasif (jika memasuki sel inang) dan menyebabkan
radang (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).
b) Escherichia coli Enterotoksigenik
(ETEC)
ETEC penyebab yang sering
dari “diare wisatawan” dan penyebab diare pada bayi di negara berkembang.
Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia menimbulkan pelekatan ETEC
pada sel epitel usus kecil. Lumen usus terengang oleh cairan dan mengakibatkan
hipermortilitas serta diare, dan berlangsung selama beberapa hari. Beberapa
strain ETEC menghasilkan eksotosin tidak tahan panas. Prokfilaksis antimikroba
dapat efektif tetapi bisa menimbulkan peningkatan resistensi antibiotic pada bakteri,
mungkin sebaiknya tidak dianjurkan secara umum. Ketika timbul diare, pemberian
antibiotic dapat secara efektif mempersingkat lamanya penyakit. Diare tanpa
disertai demam ini terjadi pada manusia, babi, domba, kambing, kuda, anjing,
dan sapi. ETEC menggunakan fimbrial adhesi (penonjolan dari dinding sel
bakteri) untuk mengikat sel-sel enterocit di usus halus. ETEC dapat memproduksi
2 proteinous enterotoksin : dua protein yang lebih besar, LT enterotoksin sama
pada struktur dan fungsi toksin kolera hanya lebih kecil, ST enterotoksin
menyebabkan akumulasi cGMP pada sel target dan elektrolit dan cairan sekresi
berikutnya ke lumen usus. ETEC strains tidak invasive dan tidak tinggal pada
lumen usus (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).
c) Escherichia coli
Enteroinvasif (EIEC)
EIEC menimbulkan penyakit
yang sangat mirip dengan shigelosis. Penyakit yang paling sering pada anak-anak
di negara berkembang dan para wisatawan yang menuju negara tersebut. Jalur EIEC
bersifat non-laktosa atau melakukan fermentasi laktosa dengan lambat serta
bersifat tidak dapat bergerak. EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke
sel epitel mukosa usus. Diare ini ditemukan hanya pada manusia (Nurmila &
Kusdiyantini, 2018).
d) Escherichia coli
Enterohemoragik (EHEC)
Menghasilkan verotoksin,
dinamai sesuai efek sitotoksinya pada sel Vero, suatu sel hijau dari monyet
hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenic dari toksin. EHEC
berhubungan dengan holitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan
sindroma uremia hemolitik, suatu penyakit akibat gagal ginja akut, anemia
hemolitik mikroangiopatik, dan trombositopenia. Banyak kasus EHEC dapat dicegah
dengan memasak daging sampai matang. Diare ini ditemukan pada manusia, sapi,
dan kambing (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).
e) Escherichia coli
Enteroagregatif (EAEC)
EAEC menyebabkan diare
akut dan kronik pada masyarakat di negara berkembang. Bakeri ini ditandai
dengan pola khas pelekatannya pada sel manusia. EAEC memproduksi hemolisin dan
ST enterotoksin yang sama dengan ETEC (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).
1.3 Keuntungan dan Kerugian Escherichia coli
Di dalam lingkungan dan
kehidupan kita, bakteri Escherichia coli
banyak dimanfaatkan di berbagai bidang, baik pertanian, peternakan, kedokteran
maupun dikalangan industri. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, Escherichia coli telah banyak diketahui
baik sifat morfologi, fisiologi maupun pemetaan DNAnya, sehingga bakteri ini
dipakai untuk menyimpan untaian DNA yang dianggap potensial, baik dari tanaman,
hewan maupun mikroorganisme dan sekaligus untuk perbanyakannya. Dengan
diketahuinya bahwa Escherichia coli
dapat dipakai untuk menyimpan untaian DNA yang potensial, maka hal ini membuka
kesempatan untuk mempelajari sifat dan karakter dari mikroba lain yang tentunya
memberikan dampak yang positif untuk kemajuan di bidang kedokteran, pertanian
maupun industri. Dibidang pertanian telah dilaporkan bahwa beberapa tanaman
tidak tahan terhadap suatu penyakit atau serangan hama, namun bantuan Escherichia coli sebagai inang yang
membawa gen yang tahan terhadap penyakit atau hama tertentu, maka hal itu dapat
diatasi sehingga perkembangan di bidang pertanian tidak terhambat (Riani,
2021).
Escherichia
coli adalah anggota flora normal usus, menghasilkan kolisin yang dapat
melindungi saluran pencernaan dari bakteri usus yang patogenik. Escherichia coli berperan penting dalam
sintesis vitamin K, konversi pigmen pigmen empedu, asam-asam empedu dan
penyerapan zat-zat makanan. Escherichia
coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa
zat oganik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik
yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini
menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O,
energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi
sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Riani, 2021).
Keberadaan Bakteri Escherichia coli disamping dapat membantu untuk pengembangan ilmu
pengetahuan dan juga dimanfaatkan di berbagai bidang ilmu, bakteri. Escherichia coli juga dapat membahayakan
kesehatan. Escherichia coli menjadi
patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkat atau berada
di luar usus. Manifestasi klinik infeksi oleh Escherichia coli bergantung pada tempat infeksi dan tidak dapat
dibedakan dengan gejala infeksi yang disebabkan oleh bakteri lain (Riani,
2021).
2. Antibakteri
Antibakteri
adalah obat pembasmi bakteri khususnya bakteri yang merugikan manusia.
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada bakteri yang bersifat menghambat
pertumbuhan bakteri dan ada yang bersifat membunuh bakteri. Kadar minimal yang
diperlukan untuk menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri masing-masing
dikenal sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM)
antibakteri tertentu aktivitasnya dapat meningkat menjadi bakterisida bila
kadar antibakterinya ditingkatkan melebihi KHM (Kumalasari, 2018).
Mekanisme kerja antibakteri yaitu
sebagai berikut:
a. Kerusakan pada dinging
sel. Bakteri memiliki lapisan luar yang dapat mempertahankan bentuk bakteri dan
melindungi membran protoplasma di bawahnya.
b. Perubahan
permeabilitas sel. Beberapa antibiotik mampu merusak atau memperlemah fungsi
ini yaitu dengan memelihara integritas komponenkompenen seluler.
c. Perubahan molekul protein dan asam nukleat.
Suatu antibakteri dapat mengubah keadaan ini dengan mendenaturasikan protein
dan asam-asam nukleat, sehingga merusak sel tanpa dapat diperbaiki lagi.
d. Penghambatan kerja
enzim. Setiap enzim yang ada di dalam sel merupakan sasaran potensial bagi
bekerjanya suatu penghambat, ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme
atau matinya sel (Kumalasari, 2018).
3. Metode Uji Aktivitas Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri
bertujuan untuk mengetahui batas kepekaan suatu senyawa antibakteri terhadap
suatu bakteri tertentu dan untuk menentukan
potensi suatu zat yang diduga atau telah memiliki aktivitas sebagai antibakteri
dalam larutan terhadap suatu bakteri. Macam-macam metode uji aktivitas antibakteri
antara lain:
a. Metode
pengenceran
Pengenceran adalah suatu kegiatan untuk
mengencerkan larutan yang bertujuan untuk memperoleh contoh dengan jumlah
mikroba terbaik untuk dapat dihitung yaitu antara 30-300 sel mikroba per ml.
Penegenceran merupakan proses yang dilakukan untuk menurunkan atau memperkecil
konsentrasi larutan dengan menambah zat pelarut ke dalam larutan, sehingga
volume berubah (Ayu Kumalasari, 2018).
b. Difusi
agar
Metode difusi digunakan untuk menentukan
aktivitas agen antibakteri. Piringan yang berisi agen antibakteri diletakan
pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada
media agar tersebut. Area jernih pada permukaan media agar mengindikasikan
adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antibakteri (Pratiwi,
2008). Metode difusi agar dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Cara
Kirby Bauer, Cara ini dilakukan untuk menetukan aktivitas agen antibakteri.
Keunggulan uji difusi cakram agar mencakup fleksibilitas yang lebih besar dalam
memilih obat yang akan diperiksa ( Sacher dan Mc Pherson, 2004).
b. Cara
sumuran, metode ini serupa dengan metode difusi disk, dimana dibuat sumur pada
media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut
diberi agen antibakteri yang akan diuji (Pratiwi, 2008).
Gambar 5. Rumus
perhitungan diameter Zona Hambat (Winastri dkk, 2020)
Menurut grcenwood (1995) efektifitas suatu zat
antibakteri bisa diklasifikasikan pada tabel berikut:
Tabel 5. Klasifikasi
Penghambatan Pertumbuhan Bakteri (Winastri dkk, 2020)
|
Diameter Zona Hambat |
Respon Hambatan Pertumbuhan |
|
Lebih dari 20 mm |
Sangat Kuat |
|
10 sampai 19 mm |
Kuat |
|
5 sampai 10 mm |
Sedang |
|
5 mm |
Lemah |
c. Metode dilusi
Metode dilusi dibedakan
menjadi dua yaitu dilusi cair dan dilusi padat. Metode dilusi cair digunakan
untuk mengukur KHM (Kadar Hambat Minimum) dan KBM (Kadar Bakterisidal Minimum).
Cara yang dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antibakteri
pada medium cair yang ditambahi dengan bakteri uji (Pratiwi, 2008). Metode ini
serupa dengan dilusi cair tetapi menggunakan media padat (solid). Keuntungan
metode ini ailah satu konsentrasi agen antibakteri yang diuji dapat digunakan
untuk menguji beberapa bakteri uji (Pratiwi, 2008).
4.
Metode
Analisis Proksimat
Dalam
upaya pengembangan bahan pangan maka diperlukan serangkaian proses agar
diperoleh produk pangan yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomis yang lebih
baik. Salah satu penentuan kualitas bahan makanan dan kaitannya dengan
kebutuhan obyektif teknologi pengolahan maupun nilai gizi dapat dilakukan
melalui analisis kadar makronutrien. Analisis makronutrien dapat dilakukan
dengan analisis proksimat, yaitu merupakan analisis kadar yang meliputi kadar
abu, kadar karbohidrat, kadar protein, kadar lemak, kadar abu dan kadar serat
kasar.
Analisis
proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian, kualitas pangan atau bahan
makanan terutama zat yang terkandung didalamnya. Berdasarkan Syarat SNI dari
kelima parameter yaitu, uji protein, kadar lemak, kadar air, kadar abu, dan
karbohidrat sebagai berikut:
Tabel
6. Standar Analisis Proksimat (Hariyanti,
2022)
|
Parameter |
Syarat SNI |
|
Protein (%) |
Minimal 9% |
|
Lemak (%) |
Minimal 9,5% |
|
Kadar air (%) |
Maksimal 5% |
|
Kadar abu (%) |
Maksimal 1,5% |
|
Karbohidrat (%) |
Minimal 70% |
a. Uji
Kadar Air
Penetuan kadar air menggunakan metode
thermogravimetri dengan prinsip menguapkan air yang ada pada bahan makanan
dengan cara memanaskan kemudian menimbang bahan sehingga diperoleh bobot
konstan. Pentingnya analisis kadar air, yaitu:
1. Kadar air perlu diketahui untuk memenuhi
standar komposisi serta peraturan pangan,
2. Kadar
air memiliki kaitan dengan kualitas dan stabilitas bahan,
3. Kadar air dapat
digunakan dalam menghitung komposisi bahan yang disajikan pada basis dry-matter (Hardiyanti, 2022).
b. Uji
Kadar Karbohidrat
Karbohidrat
adalah sumber kalori utama bagi seluruh penduduk di dunia, khususnya bagi
masyarakat diIndonesia. Karbohidrat memiliki peran yang penting dalam
menentukan karakteristik bahan makanan, seperti rasa, warna, tekstur, dan
lain-lain.90 Analisis karbohidrat dapat dilakukan dengan beberapa uji sebagai
berikut:
a.
Uji Benedict, uji ini untuk gula pereduksi/ gula inversi, seperti: glukosa dan
fruktosa. Cara ujinya yakni, gula reduksi ditambahkan dengan campuran tembaga
sulfat, Na sitrat, dan natrium karbonat lalu dipanaskan, maka akan menghasilkan
endapan kupro oksida yang berwarna cokelat.
b. Uji Fehling, uji ini mirip dengan uji
Benedict. Gula reduksi ditambah campuran larutan tembaga sulfat dalam suasana
alkalis dengan ditambah NaOH dan ditambah dengan chelating agent kalium-natrium
tartar, lalu dipanaskan maka akan menghasilkan endapan kupro oksida yang
berwarna merah cokelat. c. Uji Molisch, cara analisis uji ini ialah karbohidrat
ditambah H2SO4 sedikit-sedikit melalui dinding. Asam sulfat lalu menyerap air
dan akan membentuk furfural yang selanjutnya dikopling dengan α-naftol
membentuk senyawa gabungan warna ungu karena ikatan konjugasinya bertambah
panjang (Hardiyanti, 2022).
Metode
yang digunakan untuk pengurangan gula langsung analisis yang ditentukan oleh
BSN (Badan Standarisasi Nasional / Standardisasi Nasional Badan) melalui SNI
3547.1: 2008, tentang analisis metode reduksi gula (dihitung sebagai inversi
gula) adalah metode Luff Schoorl. Kadar karbohidrat total bisa dilakukan secara
by difference yaitu merupakan
pengurangan dari jumlah protein total, lemak total, serat dan abu total kadar
sampel dari 100% jumlah sampel. Pengukuran kadar karbohidrat total dalam sampel
dihitung berdasarkan perhitungan (dalam %):
% karbohidrat = 100% - %(protein + lemak +
serat+abu).
c. Uji
Kadar Lemak
Lemak ialah senyawa
organik yang terdapat di alam yang tidak larut dalam air namun larut dalam
pelarut organik. Lemak memiliki fungsi sebagai pembentuk asam asam lemak,
pembentuk struktur tubuh, sumber energi, pengemulsi, dan menhemat pemakaian
protein sebagai energi. Menurut anjuran pedoman gizi seimbang, konsumsi lemak
yang baik adalah 25% dari kebutuhan. Lemak dalam pangan adalah lemak yang
terdapat dalam bahan pangan dan dapat digunakan oleh tubuh manusia.
Jumlah lemak dalam
makanan dapat diukur dengan beberapa cara, diantaranya sebagai berikut:
a. Metode Kering, memiliki prinsip
membungkus sampel dan ditempatkan dalam timbel, kemudian dikeringkan dalam oven
vakum yang dapat menghilangkan air dalam sampel dengan suhu yang relative
rendah.
b. Metode Soxhlet, prinsip metode ini
mengekstraksi lemak minyak dalam sampel menggunakan pelarut yang selalu baru,
sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut konstan yang
didinginkan dengan pendingin balik.
c. Metode Goldfisch, metode ini hampir
sama dengan metode soxhlet yang membedakan ialah labu ekstraksi yang dibuat
sedemikian rupa sehingga pelarut hanya melewati sampel saja, tidak sampai
merendam sampel (Hardiyanti, 2022).
d. Uji
Kadar Protein
Protein adalah salah satu
kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti karbohidrat dan lemak, protein lebih
berperan dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energi. Protein
memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
a.
Penyusun senyawa biomolekul antara lain nukleoprotein, hormon, enzim, antibodi,
dan sarana kontraksi otot.
b. Pengganti sel-sel pada jaringan yang
rusak.
c. Pembentukan sel baru.
d. Sebagai sumber energi.
Pengukuran kadar protein pada olahan
makanan dapat diukur dengan beberapa metode, diantaranya sebagai berikut:
1. Metode Lowry, prinsip metode ini adalah
protein yang bereaksi dengan asam fosfotungstat-fosfomolibdat, akan membentuk
warna biru yang intensitasnya bergantung pada konsetrasi protein dalam produk
makanan. Kemudian konsentrasi tersebut diukur dengan spektrofotometri pada
panjang gelombang 600 nm, sedangkan kurva standart protein dibuat dengan bovine
serum albumin (BSA).
2. Metode Biuret, protein yang telah dilarutkan
ditambah dengan pereaksi biuret (larutan CuSO4; kalium natrium tartrat; dan
NaOH) maka akan menghasilkan warna biru lembayung.
3. Metode Turbiditimetri, digunakan untuk
mengukur protein pada sampel cair saja, dan memiliki resiko kurang tepat.
Prinsip metode ini adalah mengukur protein dengan mengendapkannya dengan
menggunakan Asam Trikloro Asetik (TCA), Kalium Ferri Cianida (K4Fe(CN)6) atau
asam sulfosalisilat. Tingkat kekeruhan diukur menggunakan alat turbidimeter dan
standar kurva kekeruhan.
4. Metode Kjeldahl, metode ini merupakan
metode yang sederhana dalam penetapan nitrogen total pada asam amino, protein
dan senyawa yang mengandung nitrogen. Metode Kjeldahl dipilih karena cocok
untuk menetapkan kadar protein yang tidak terlarut atau protein yang telah
mengalami koagulasi akibat proses pemanasan maupun proses pengolahan lain yang
biasanya dilakukan pada makanan. Metode Kjeldahl memiliki 3 tahapan yang
dilaluinya, yaitu tahap pertama adalah tahap destruksi atau penghancuran
senyawa menjadi unsur-unsurnya. Kemudian tahap kedua adalah tahap destilasi
atau penyulingan, sedangkan tahap terakhir yaitu titrasi. Pada tahap titrasi
akan mengalami perubahan warna larutan menjadi merah muda dan perhitungan kadar
protein dalam bentuk persen (Hardiyanti, 2022).
e. Uji
Kadar Abu
Abu merupakan indikator
kasar dari kadar mineral yang terdapat dalam suatu makanan. Pengukuran kadar
abu dalam makanan menggunakan prinsip gravimetri atau penimbangan berat yang
telah diatur dalam metode SNI 01- 2354.1-2010. Prinsip metode ini ialah olahan
makanan di hancurkan dan dioksidasi dengan pemanasan suhu tinggi (550οC), dan
sisa berat sampel setelah pembakaran dihutung selisihnya dengan sampel awal
(Hardiyanti, 2022).
f. Uji
Kadar Serat
Prinsip analisis serat
kasar yaitu sampel dihidrolisis dengan asam kuat dan basa kuat encer. Hal ini
menyebabkan karbohidrat, protein dan zat – zat lain terhidrolisis dan larut,
kemudian disaring dan dicuci dengan air panas yang mengandung asam dan alkohol.
Selanjutnya dibakar dan ditimbang hasil yang didapat (Hasnaeni, 2022).
Sampel bebas lemak
ditimbang 0.5 gram dalam Erlenmeyer, kemudian tambahkan H2SO4 1,25% sebanyak 30
ml ke dalam sampel. Hubungkan dengan pendingin balik dan panaskan selama 30
menit. Setelah 30 menit tambahkan NaOH 3,25% ke dalam sampel dan panaskan
kembali selama 30 menit. Selanjutnya sampel disaring menggunakan pompa vakum
yang telah dialasi dengan kertas saring yang telah ditimbang. Sisa sampel di
kertas saring dibilas dengan 25 ml H2SO4 1,25 % panas, 25 ml aquades panas, dan
25 ml etanol. Dinginkan dalam desikator selama setengah jam kemudian timbang
(a) Selanjutnya kertas saring dipindahkan dalam cawan porselen untuk dioven
pada suhu 105oC, lalu didingkan di desikator dan timbang (b) sampai beratnya
konstan. Perhitungan kadar serat menggunakan rumus berikut:
(%) kadar serat = a - b x 100% berat
sampel (Hasnaeni, 2022).
5.
Skrining
Fitokimia
Fitokimia
adalah suatu tekhnis analisis kandungan kimia didalam tumbuhan.Analisis ini
bersifat kualitatif sehingga data yang dihasilkan adalah data kualitatif
kandungan kimia tumbuh dalam suatu jenis tumbuhan. Secara umum kandungan kimia
tumbuhan dapat dikelompokan kedalam golongan senyawa alkaloid, saponin,
flavanoid, tannin, polifenol dan kuinon.Senyawa-senyawa tersebut tersebar luas
didalam tumbuhan. Untuk menentukan senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan
pereaksi-pereaksi khusus dan spesifik,misalnya pereaksi Dragendorf, Meyer,
Wegner, asam pikrat dan pereaksi asam tannat untuk mengidentifikasi flavanoid
dan larutan gelatin untuk terpenoid, FeCl₂ untuk mengidentifikasi flavanoid dan
larutan gelatin untuk senyawa tannin. Metabolit sekunder dihasilkan melalui
tahap-tahap reaksi dalam jaringan tumbuhan yang disebut biosintesis.Alkaloid
terpenoid, steroid, dan flafonoid merupakan beberapa contoh senyawa yang
dihasilkan dari biosintesis tersebut. Penelitian kandungan kimia untuk satu
tanaman (daun, batang, kulit batang, akar, dll) atau melakukan penapisan
kandungan kimia terhadap berbagai sepsis tanaman dalam satu famili pada bagian
tertentu akan memberikan informasi tentang tingkat evolusi (Suteja, 2018).
6.
Penetapan
Kadar Polifenol
Polifenol
adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih cincin aromatik dengan satu atau
lebih gugus hidroksil. Polifenol larut dalam metanol, etanol, aseton, etil
asetat, dan kombinasinya, seringkali dengan proporsi air yang berbeda. Senyawa
polifenol meliputi fenol, asam fenol, tanin, lignan, dan flavonoid. Polifenol
berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan seperti warna daun saat musim
gugur. Polifenol banyak ditemukan dalam buah-buahan, sayuran serta biji-bijian.
Rata-rata manusia mengkonsumsi polifenol dalam sehari sampai 23 mg. Khasiat
dari polifenol adalah menurunkan kadar gula darah dan efek melindungi terhadap
berbagai penyakit seperti kanker (Nurlatifah, 2022).
Senyawa
fenol berdasarkan jumlah gugus hidrofiliknya (OH) dibagi menjadi 1-2 dan fenol
poliatomik. Senyawa yang memiliki gugus hidrofilik lebih dari satu dalam cincin
arom atiknya disebut senyawa polifenol.. Polifenol merupakan termasuk golongan
polimer yang terbagi lagi menjadi dua, yaitu flavonoid dan non flavonoid (Nurlatifah,
2022).
Senyawa
fenol dapat dikategorikan ke dalam beberapa senyawa diantaranya adalah fenol
sederhana, kumarin, tannin, saponin, flavonoid, asam fenolik, dan flavonol. Uji
total polifenol dilakukan untuk menghitung kadar fenolik atau “phenolic
hydroxyl groups” menggunakan reagen Folin-Ciocalteu. Senyawa polifenol dapat
mengalami oksidasi sehingga berperan sebagai reduktor. Asam fosfomolibdatfosfotungstat
dalam reagen Folin-Ciocalteu akan direduksi oleh senyawa polifenol menjadi
kompleks molibdenum biru. Adanya senyawa fenolik dalam sampel dilihat dari
perubahan warna larutan uji yang sebelumnya tak berwarna menjadi biru. Senyawa
ini memberikan serapan kuat pada panjang gelombang 765 nm. Peningkatan kadar
fenolik dalam sampel akan sebanding dengan meningkatnya intensitas warna biru
(Jannah, 2020).
C.
Kajian
Empiris
Kajian empiris dari penelitian ini berasal
dari penelitian yang sudah ada sebagai berikut :
1. Pradawahyuningtyas
dkk, (2020). Aktivitas Antianemia Filtrat Limbah Kentos Kelapa (Cocos
nucifera) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Natrium Nitrit. Hasil
penelitian menunjukan bahwa limbah kentos kelapa memiliki aktivitas sebagai
antianemia karena mampu meningkatkan kadar hemoglobin yakni mencapai 16,8 g/dL
pada konsentrasi filtrat kentos kelapa 75%, 14,7 g/dL pada konsentrasi filtrat
kentos kelapa 50%, dan 16 g/dL pada konsentrasi filtrat kentos kelapa 25%.
Selain itu, filtrat kentos kelapa mampu meningkatkan jumlah eritrosit dari
kondisi anemia yakni 1.750.000/mm3 menjadi kondisi normal yakni
8.260.000/mm3 serta mampu memperbaiki bentuk eritrosit dari
poikilositosis (bentuk bervariasi) menjadi normal (bulat cakram bikonkaf)
2. Arief,
dkk (2020). Pengaruh Ekstrak Kentos Kelapa(Cocos nucifera) Terhadap
Penurunan Immobility Time Sebagai Antidepresan Pada Mencit (Mus musculus). Hasil penelitian
menuunjukan bahwa Ekstrak Kentos Kelapa konsentrasi 0,15%, 0,3% dan 0,45% b/v
menunjukkan perubahan penurunan immobility
time sebagai antidepresan pada mencit jantan. Ekstrak Kentos Kelapa
konsentrasi 0,45% b/v paling menunjukkan efektivitas sebagai antidepresan,
tetapi perubahan penurunanya masih lebih kecil dibandingkan amitriptillin 0,01%
b/v sebagai kontrol positif.
3. Arunaksharan,
et al (2023). Proximate
Composition, Antioxidant, Anti-Inflammatory and Anti-Diabetic Properties of the
Haustorium from Coconut (Cocos Nucifera L.)and Palmyra Palm (Borassus
Flabellifer L.). hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kentos kelapa
memiliki Aktivitas antioksidan ekstrak kentos kelapa telah dianalisis
menggunakan aktivitas penghambatan oksidan
DPPH (dengan nilai IC50 yakni sekitar 28 μg/mL), hidrogen
peroksida (dengan nilai IC50
yakni sekitar 44 μg/mL), dan penghambatan peroksidasi lipid secara ex vivo
(dengan nilai IC50 yakni sekitar 83 μg/mL). Selain itu Penelitian juga
menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi dimana nilai IC50 dari uji
penghambatan LPX (lipoxygenase) adalah sekitar 54 μg/mL dan nilai IC50 untuk
pengambatan radikal nitrat oksida adalah sekitar 87
μg/m.
4. Valli, S,
et al (2020). Bioprospecting and Therapeutic Applications of Cocos nucifera L.
Sprouts. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengujian antibakteri ekstrak
metanol kentos kelapa menggunakan dengan metode difusi sumuran menunjukan zona
hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Staphylococcus
epidermidis, dan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, serta
ekstrak metanol dan
air kentos kelapa
menunjukkan persentase hambatan maksimum masing-masing sekitar 92% dan
91% dengan nilai IC50 sebesar 26,66 dan 27,90 μg/mL.
5. Kolondam,
et al (2023). Potential Antioxidant Activity Of Coconut Kentos Flour (Cocos nucifera
L.) And Application In Biscuits. Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung kentos umur 30 hari memiliki antioksidan
tertinggi yaitu 31,21% pada konsentrasi 2,1mg/gr,
56,95% pada konsentrasi 4,2 mg/gr, 77,22% pada konsentrasi 6,3 mg/gr, 89,94% pada konsentrasi 8,3 mg/gr dan
92,90% pada konsentrasi 10,4 mg/gr.Biskuit
yang menggunakan tepung kentos berdasarkan hasil uji organoleptik
menggunakan tepung kentos 40% adalah
yang terbaik.
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A.
Dasar
Pikir Penelitian
Pangan fungsional merupakan suatu
produk baik itu makanan atau minuman yang dapat memberikan keuntungan untuk
dapat mempengaruhi fungsi fisiologis terhadap meningkatnya kesehatan tubuh
sehingga dapat mencegah suatu
penyakit. Pangan fungsional tidak berupa suplemen, serbuk, ataupun kapsul melainkan berasal dari bahan yang
terdapat secara alami sehingga dapat dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari.
Pangan fungsional memiliki karakteristik sensori dalam segi penampakan, warna,
tekstur maupun citarasa yang dihadirkan, dan dapat diterima oleh masyarakat
yang mengkonsumsinya, serta tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi
tubuh Pangan fungsional memiliki peran yang dapat memperkuat mekanisme tubuh,
mencegah timbulnya penyakit degeneratif seperti hipertensi dan kanker,
memperlambat proses penuaan, dan menjaga kondisi tubuh. Manfaat-manfaat inilah
yang membedakan pangan fungsional dengan yang lainnya (Helmalia Widya, 2019).
Pada umumnya, secara alamiah hampir
setiap bahan pangan memiliki komponen bioaktif dan relatif aman sebagai sumber
nutrisi. Namun ada beberapa atribut yang harus dimiliki oleh suatu bahan pangan
hingga dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional. Secara umum, setidaknya
terdapat lima kelompok besar kategori pangan fungsional, antara lain; a) bahan
pangan yang kandungan nutrisi dasarnya dikurangi atau ditingkatkan, misalnya
sereal yang telah ditambahkan vitamin, minuman yang telah difortifikasi dengan
vitamin antioksidan serta produk sapi perah yang telah dikurangi kadar
lemaknya, b) produk yang secara alamiah tidak memiliki nutrisi tertentu lalu
ditambahkan ke dalamnya, misalnya penambahan serat ke dalam jus buah, asam
folat yang ditambahkan ke dalam margarin serta cemilan yang diperkaya stanol
untuk menekan penyerapan kolesterol, c) produk berbahan dasar susu difermentasi
dengan probiotik yang diseleksi berdasarkan kemampuan fungsionalnya untuk
membantu proses pencernaan dan mencegah infeksi, beberapa produk telah
ditambahkan oligosakarida untuk mendukung pertumbuhan bakteri tersebut, d) produk
yang secara khusus diformulasikan untuk kebutuhan tertentu misalnya minuman
untuk olahragawan ataupun sereal yang dibuat secara khusus untuk melepaskan
karbohidrat dan menyuplai energi dalam jangka waktu yang cukup lama, dan e)
bahan pangan yang mengandung bahan herbal untuk membantu mengatasi beragam
masalah kesehatan (Abbas, 2020).
Salah satu bahan pangan lokal yang
dapat dikembangkan potensinya sebagai pangan fungsional yaitu Kentos kelapa.
Kentos kelapa sangat digemari karena memiliki rasa yang manis dan gurih. Kentos
kelapa diketahui mempunyai fungsi
fisiologis dalam proses metabolisme tubuh karena mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral dan
vitamin serta komponen-komponen bioaktif seperti alkaloid dan polifenol yang
tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. Pemanfaatan pangan fungsional
sangat penting di era modern saat ini, karena kandungan senyawa bioaktif dapat
memberikan efek positif bagi tubuh manusia.
B.
Bagan
Kerangka Konsep Penelitian
Kentos
kelapa(Cocos nucifera) Analisis
Kandungan Proksimat Penentuan
Kadar Polifenol Total Aktivitas
antibakteri terhadap Escherichia coli
:
Variabel Dependent
Gambar 7. Bagan Kerangka
Konsep Penelitian
1.
Variabel terikat
Variabel dependent (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independent (bebas). Adapun variabel dependent pada penelitian ini yaitu
kandungan proksimat (kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan serat
pangan), kadar polifenol total, dan aktivitas antibakteri kentos kelapa (Cocos nucifera).
2. Variabel bebas
Variabel
independent (bebas) yaitu variabel
yang mempengaruhi variabel dependent
(terikat). Adapun variabel independent
pada penelitian ini yaitu kentos kelapa (Cocos
nucifera).
D. Definisi
Operasional dan Kriteria Objektif
1.
Defenisi Operasional Variabel Independent
Ekstrak
kentos kelapa (Cocos nucifera) merupakan hasil yang didapatkan dari proses
ekstraksi menggunakan metanol selama 3x24 jam lalu dipekatkan Rotary Vacuum Evaporator hingga
diperoleh ekstrak yang kental dan pekat. Sedangkan tepung kentos kelapa (Cocos
nucifera) merupakan hasil yang didapatkan dari proses pengeringan.
Kriteria objektif : Sediaan ekstrak kental kentos kelapa (Cocos nucifera) yang
kental dan pekat dalam satuan gram serta tepung kentos kelapa (Cocos nucifera) berwarna kuning kecoklatan dalam bentuk serbuk halus dan dalam satuan
gram.
2.
Defenisi Operasional Variabel Dependent
Kadar air adalah
persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat
basah (wet basis) atau berdasarkan
berat kering (dry basis). Uji kadar air dilakukan dengan
metode oven.
Kriteria Obyektif : Maksimal 5% menurut SNI 01-711.2-2005
b. Kadar karbohidrat
Karbohidrat merupakan
sumber makronutrien utama bagi manusia. Kebanyakan
karbohidrat yang dikonsumsi adalah tepung atau amilum atau pati yang ada dalam
gandum, jagung, beras, kentang, dan padi-padian lainnya. Kerbohidrat juga
menjadi komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam bentuk serat
(fiber), seperti seluloasa, pectin, serta lignin.
Kriteria
obyektif : Maksimal kadar karbohidrat 70% menurut SNI 01-711.2-2005
c.
Kadar
lemak
Lemak merupakan sumber
energi bagi tubuh. Biasanya energi yang dihasilkan per gram lemak adalah lebih
besar dari energi yang dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat atau 1 gram protein.
Kriteria obyektif : Minimal
kadar lemak 9,5% dan maksimal 18 menurut SNI 01-711.2-2005
d.
Serat pangan
Serat
merupakan salah satu dari 7 kandungan gizi yang harus ada pada makanan. Serat
dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan seperti sayur–sayuran dan buah
buahan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan asupan serat yang baik
pada makanan sebesar 25 - 30 gram per hari.
Kriteria
obyektif : Maksimum 5 menurut SNI 01-711.2-2005
e.
Polifenol
total
Polifenol adalah senyawa
yang memiliki satu atau lebih cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus
hidroksil. Kadar Fenol Total Penetapan kadar polifenol dilakukan dengan
menggunakan reagen Folin-Ciocalteu (FC).
Kriteria obyektif :
Senyawa fenol menghasilkan senyawa kompleks berwarna biru dan diukur
menggunakan spektofometri UV-Vis 750 nm.
f. Aktivitas antibakteri
Uji aktivitas antibakteri adalah
kegiatan menentukan adanya zona hambat dari pertumbuhan bakteri.
Kriteria obyektif :
|
: |
Menunjukan adanya zona hambat dengan hasil statistik berbeda dibandingkan
kontrol negatif. |
|
|
b.
Tidak
memiliki aktivitas antibakteri |
: |
Tidak menunjukan adanya zona hambat pada uji statistik tidak terdapat
perbedaan berakna dengan kontrol negatif. |
|
c.
Zona hambat
bakteri |
: |
>20 mm dikategorikan sangat kuat 11-20 mm dikategorikan kuat 5-10 mm dikategorikan sedang 5 mm dikategorikan lemah (Kalsum, 2019) |
E. Hipotesis
Penelitian
Hipotesis
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Ha
: Tepung kentos kelapa (Cocos nucifera)
memiliki kandungan karbohidrat, lemak, kadar air, dan serat.
Ho : Tepung kentos
kelapa (Cocos nucifera) tidak memiliki kandungan karbohidrat, lemak, kadar air, dan serat.
b. Ha
: Ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera) mengandung kadar
polifenol total.
Ho : Ekstrak kentos kelapa (Cocos
nucifera) tidak mengandung kadar polifenol total.
c. Ha
: Ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera) memiliki aktivitas
antibakteri.
Ho : Ekstrak
kentos kelapa (Cocos nucifera) tidak memiliki aktivitas antibakteri.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A.
Jenis dan Rancanan Penelitian
1. Jenis
Penelitian
Penelitian ini
merupakan jenis penelitian analitik yang bertujuan untuk mengetahui kandungan
proksimat, kadar polifenol total dan aktvitas antibakteri kentos kelapa (Cocos
nucifera).
Penelitian ini terdiri dari 3 kali perlakuan yang terdiri dari kontrol negatif,
kontrol positif dan pengujian menggunakan ekstrak kentos kelapa. Dengan desain
penelitiaan sebagai berikut :
2. KK EEKK UAA ZH K2 K3 K+ DRZH K1
UPKP UAKP K-
Keterangan:
|
KK |
: Kentos Kelapa |
|
UAKP |
: Uji Analisis Kandungan Proksimat |
|
UPKP |
: Uji Penentuan Kadar Polifenol |
|
EEKK |
: Ekstrak Metanol Kentos Kelapa |
|
UAA |
: Uji Aktivitas Antibakteri |
|
K1 K2 |
: Konsentrasi 40% ekstrak metanol Kentos kelapa : Konsentrasi 60%
ekstrak metanol Kentos kelapa |
|
K3 |
: Konsentrasi 80% ekstrak metanol Kentos kelapa |
|
K+ |
: Kontrol Positif (Amoxicilin) |
|
K- |
: Kontrol Negatif (DMSO) |
|
ZH |
: Zona Hambat |
|
DHZH |
: Diameter Rata Rata zona Hambat |
B.
Lokasi
dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan setelah proposal
ini disetujui, yang bertempat di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia dan
Laboratorium Mikrobiologi Universitas Mandala Waluya Kendari.
C.
Populasi
Dan Sampel
1. Populasi
Populasi
penelitian ini adalah buah kelapa tua yang di peroleh dari Desa Masagena,
Kabupaten Konawe Selatan.
2. Sampel
Sampel yang
digunakan adalah kentos kelapa (Cocos nucifera)
D.
Alat
dan Bahan
1. Alat
Alat yang di gunakan dalam penelitian
ini yaitu rotary evaporator, Erlenmeyer
(pyrex), gelas ukur (pyrex), autoklaf (mammer), oven, tabung reaksi (pyrex),
batang pengaduk, timbangan digital, vial, pembakar bunsen, wadah toples,
aluminium foil, cawan porselin, cawan petri, gelas kimia, hot plate, pinset, gunting, jarum ose lurus, jarum ose bulat,
inkubator (yenaco), desikator, spektrofotmeter UV-Vis, pipet tetes, seperangkat
alat soxlet, labu ukur, batu didih, buret, oven, kertas saring.
2. Bahan
Bahan yang di gunakan pada penelitian ini
adalah kentos kelapa (Cocos nucifera),
kloramfenikol, metanol, NA (Nutrien agar),
NaOH, FeCl3, C4H6O3,
CHCl3, C2H6OS, H2SO4, NA2CO3,
HCL, pereaksi Dragendroff, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, bubuk
magnesium, C4H12O, aquadest, larutan Luff-Schoorl, indikator
kanji, K2SO4, pereaksi Folin-Ciocalteu dan bakteri Escherichia coli.
E.
Prosedur
Penelitian
1.
Pengambilan sampel
Sampel
dalam penelitian ini adalah kentos kelapa (Cocos nucifera) yang
diperoleh di Desa Masagena, Kabupaten Konawe Selatan.
2. Pengolahan
Sampel
Cuci
sampel kentos kelapa (Cocos nucifera) hingga bersih dengan air mengalir,
kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa sinar matahari langsung,
lalu dirajang. Sampel kemudian dijemur hingga kering pada udara terbuka namun
terlindung dari matahari. Sampel yang sudah kering selanjutnya dilakukan proses
ekstraksi.
3. Ekstraksi
Sampel
Sampel
kentos kelapa (Cocos nucifera) yang telah dirajang dan kering
diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan cairan penyari metanol. Sampel
serbuk simplisia kentos kelapa (Cocos nucifera)
sebanyak 500 gram dimasukan kedalam wadah maserasi kemudian ditambahkan cairan
penyari.
Proses maserasi ini dilakukan selama 3 x 24 jam dengan sesekali pengadukan. Masing-masing ampas kemudian diremaserasi kembali sampai
diperoleh pelarut bening. Masing-masing hasil penyarian disatukan, lalu
diuapkan dengan rotary evaporator,
pada suhu 50˚C hingga didapatkan
ekstrak kental yang bebas dari pelarut (Doughari, 2012).
4.
Pembuatan tepung Kentos Kelapa (Cocos nuciifera)
Kentos kelapa disortir, dibersihkan dan
dicuci dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Kentos kelapa yang sudah
bersih selanjutnya diiris tipis menjadi slice
(irisan) yang tipis (dengan ketebalan ±1 mm), sehingga akan menghasilkan slice tombong kelapa basah. Slice tombong kelapa tersebut
selanjutnya dikeringkan pada udara terbuka namun terlindungi dari sinar
matahari. Selanjutnya irisan tombong kelapa kering yang didapat ditepungkan
dengan cara dihancurkan menggunakan blender (Cosmos CB- 180 F) dan diayak
sehingga diperoleh tepung kentos kelapa. Tepung kentos kelapa yang dihasilkan
selanjutnya dikemas ke dalam wadah dan dianalisis kandungan proksimat.
5.
Penapisan Fitokimia
Uji
fitokimia dilakukan pada semua filtrat untuk mengetahui kemampuan pelarut yang
digunakan untuk mengekstrak senyawa – senyawa metabolit sekunder pada kentos
kelapa. Pengujian filtrat dilakukan pada tiap pengulangan pelarut meliputi:
(Harborne dalam Priyanto, 2012).
a. Uji
Alkaloid
Sejumlah sampel dilarutkan dalam beberapa
tetes asam sulfat 2N. Pengujian menggunakan tiga pereaksi alkaloid yaitu
pereaksi Dragendorff, pereaksi Meyer dan pereaksi Wagner. Hasil uji dinyatakan
positif bila dengan pereaksi Dragendorff terbentuk endapan merah jingga. Kemudian,
terbentuknya endapan putih kekuningan dengan pereaksi Meyer dan terbentuknya
endapan cokelat dengan pereaksi Wagner.
b. Uji
Flavonoid
Sejumlah
sampel ditambah 0,1 mg serbuk magnesium, 0,4 mL amil alkohol dan 4 mL alkohol,
kemudian campuran dikocok. Adanya flavonoid ditunjukkan dengan terbentuknya
warna merah, kuning atau jingga pada lapisan amil alcohol.
c. Uji
Saponin
Sebanyak 2 mL sampel dimasukkan ke dalam
tabung reaksi kemudian ditambahkan 10 mL akuades lalu dikocok selama 30 detik,
diamati perubahan yang terjadi. Apabila terbentuk busa yang mantap (tidak
hilang selama 30 detik) maka identifikasi menunjukkan adanya saponin.
d. Uji
Tanin
Sampel sebanyak 1 gram ditambah pereaksi
FeCl3 3% adanya warna hijau kehitaman menandakan suatu bahan mengandung
komponen tanin.
e. Uji
Triterpenoid dan Steroid
Sejumlah
sampel dilarutkan dalam 2 ml kloroform dalam tabung reaksi yang kering,
kemudian ditambah 10 tetes asam anhidrat asetat dan 3 tetes asam sulfat pekat.
Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah untuk
pertama kali kemudian berubah menjadi biru dan hijau.
6.
Analisis
Kandungan Proksimat
pada Tepung Kentos Kelapa
a. Kadar
air
Pengujian kadar air dilakukan dengan
menggunakan metode oven. Cara kerja metode ini yaitu cawan kosong dipanaskan
dalam oven 105°C selama 30 menit, didinginkan dalam desikator selama 15 menit,
kemudian ditimbang (W0). Kemudian sampel tepung kentos kelapa sebanyak 2 gr
dimasukkan pada cawan yang telah diketahui bobotnya, ditimbang (W1), lalu
dikeringkan kedalam oven pada suhu 105°C selama 3 jam, didinginkan dalam
desikator selama 15-30 menit. Kemudian cawan dan isinya ditimbang dan
dikeringkan kembali selama 1 jam, serta didinginkan dalam desikator, ditimbang
kembali (W2). Kandungan air dihitung dengan rumus :
Kadar
air (%bb) =
Keterangan
:
W0
= berat cawan dan sampel awal (g)
W1
= berat cawan dan sampel akhir (g)
W2
= berat sampel awal (g)
b. Analisis
Kadar Karbohidrat dengan Metode Luff Schoorl
Pada pengujian karbohidrat diawali dengan
ditimbang 5 gr sampel ke dalam erlenmeyer
500 ml, tambahkan 200 ml larutan HCl 3%,
didihkan selama 1 jam dengan pendingin tegak.
Lalu, didiginkan dan menetralkan dengan larutan NaOH 30% dan menambahkan
sedikit larutan CH3COOH 3% suasana larutan sedikit asam, pindahkan larutan secara kuantitatif ke dalam
labu ukur 500 ml, encerkan dengan air suling dan tepatkan volumenya sampai
tanda garis lurus. Kocok dan saring melalui kertas saring, pipet 10 ml filtrat ke dalam erlenmeyer 500
ml, tambahkan 25 ml Larutan Luff Schoorl dan beberapa batu didih dan 15 ml air
suling, panaskan campuran tersebut dengan
panas yang konstan sampai mendidih selama 10 menit kemudian dengan cepat
didinginkan di dalam wadah es. Setelah
dingin tambahkan perlahan-lahan 15 ml larutan KI 20% dan 25 ml H2SO4 25%. Titrasi secepatnya dengan larutan Na
tiosulfat 0,1 N sampai warna kuning sampai hilang, tambahkan sedikit indikator
larutan kanji 1%. Lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang, lalu buat percobaan blanko dengan menggunakan
25 ml aquadest sebagai penganti sampel.
c. Analisis
Kadar Lemak
Labu lemak yang akan digunakan dikeringkan
dalam oven bersuhu 110°C, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Tepung
kentos kelapa ditimbang sebanyak 5gr, dibungkus dengan kertas saring dan
dimasukkan ke dalam alat ekstraksi (soxhlet)
yang telah berisi pelarut heksana. Proses reflux dilakukan sampai larutan
jernih dan pelarut yang ada di dalam labu lemak terdestilasi. Selanjutnya labu
lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C
hingga beratnya konstan, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Kadar lemak
dihitung dengan rumus :
Lemak
=
d. Analisis
serat
Diawali dengan cara menimbang 2 gram bahan, ditambahkan
200 ml larutan H2SO4 (0,255N) didihkan menggunakan refluks selama 30 menit.
Disaring menggunakan kertas saring, residu yang tertingggal dicuci dengan
aquades mendidih sampai air cucian tidak bersifat asam (uji dengan pH
universal). Residu pada kertas saring dipindahkan ke dalam erlenmeyer sisanya
dicuci dengan larutan NaOH (0,255N) mendidih sebanyak 200 ml, didihkan kembali
selama 30 menit. Residu disaring menggunakan kertas saring yang sudah diketahui
bobotnya sambil dicuci dengan larutan K2SO4 10%. Residu di cuci lagi dengan
aquades mendidih dan 15 ml alkohol 95%. Keringkan kertas saring beserta residu
menggunakan oven pada suhu 1100C sampai berat konstan (1- 2 jam), didinginkan
dalam desikator selama 15 menit dan timbang.
7.
Analisis Polifenol Total
Penetapan kadar polifenol total dilakukan dengan
menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Sebanyak 0,3 mL larutan ekstrak ditambahkan
dengan 5 mL reagen Folin-Ciocalteu 10%. Campuran didiamkan pada suhu kamar
selama 5 menit. Selanjutnya 4 mL Na2CO3 7,5% ditambahkan ke dalam campuran.
Campuran didiamkan pada suhu kamar selama 70 menit. Absorbansi sampel diukur
pada 750 nm menggunakan spektrofotmeter UV-Vis. Kandungan total fenol
dinyatakan sebagai mg/100g ekuivalen asam galat (Lestari, dkk 2015).
8.
Uji Antibakteri
a. Sterilisasi
alat
Alat-alat yang dari plastik, karet, dan
gelas yang memiliki skala disterilkan menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC
selama 15 menit, sedangkan alat-alat seperti cawan petri, tabung reaksi, labu erlenmeyer,
di masukkan kedalam oven dan disterilkan dengan suhu 180oC hingga 2
jam, dan alat logam di sterilkan menggunakan cara di pijarkan pada bunsen
(Imansyah & Hamdayani, 2022).
b. Pembuatan
media nutrient Agar (NA)
Sebanyak 5 gram Nutrient Agar disuspensikan dalam 250mL aquadest steril, kemudian
dipanaskan dengan bunsen untuk menghasilkan media tersuspensi sempurna. Setelah
media telah tersuspensi sempurna, kemudian disterilkan dengan autoklaf pada
suhu 121ºC selama 15 menit (Putrajaya dkk, 2019).
c. Peremajaan
bakteri
Peremajaan bakteri menggunakan agar miring
Nutrien Agar (NA), bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril
selanjutnya digoreskan pada permukaan agar miring dengan teknik penggoresan
silang (zig-zag) kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
(Nikmah, et al., 2022).
d. Pembuatan
suspensi bakteri uji
Suspense bakteri uji Escherichia coli dengan cara beberapa ose dibiakkan bakteri Escherichia coli dimasukkan ke dalam
tabung reaksi yang berisi 10 ml NaCl steril dan diinkubasi pada suhu 37°C
selama 24 jam (Sandy, et al., 2021).
e. Pembuatan
larutan kontrol positif
Kontrol positif yang digunakan untuk
pengujian daya hambat terhadapat bakteri Escherichia
coli menggunakan antibiotik
amoxicilin. Pembuatan suspensi kloramfenikol yaitu ditimbang sebanyak 0,03 gram
aoxicilin kemudian di cukupkan 3 ml Aquadest steril (Athaillah & sugesti
2020).
f. Pengujian
Luas zona hambat
Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan
menggunakan metode sumur agar dengan langkah-langkah sebagai berikut : diambil
media Nutrien Agar (NA) steril sebanyak 15 ml, dimasukkan kedalam tabung
reaksi, diambil suspense bakteri Escherichia
coli,
sebanyak 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi media NA (Nutrien
Agar) lalu dihomogenkan, kemudian dituang kedalam cawan petri dibiarkan memadat.
Setelah itu dibuat 5 lubang berukuran 6 mm dengan menggunakan tips micro
pipet. Pada masing-masing lubang sumuran dimasukkan kontrol positif (amoxicilin),
kontrol negatif (DMSO 10%) , ekstrak kentos kelapa dengan 3 perbandingan konsentrasi
(40%, 60% dan 80%) lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Uji dilakukan
dengan 3 kali pengulangan (Putrajaya et al 2019).
g. Pengamatan
dan pengukuran zona hambat
Pengukuran diameter zona hambat dilakukan
pada daerah bening di sekitar lubang sumuran. Selanjutnya diamati zona hambat
yang terbentuk dan diukur diameter zona hambatnya dengan jangka sorong.
Pengukuran diameter zona hambat dapat dilakukan dengan jangka sorong dengan
menggunakan rumus (Kartikawati dkk, 2023).
R(%)
=((D1+D2)/2)x 100%
Keterangan:
R = Daya
Hambat (mm)
D1 = Diameter zona hambat terpanjang (mm)
D2 = Diameter zona hambat terpendek (mm)
F. Pengolahan Dan Analisis Data
G.
Etika Penelitian
Dalam penelitian ini harus memahami
prinsip etika dalam melakukan suatu penelitian yang pertama peneliti membuat
surat persetujuan penelitian yang ditanda tangani oleh pembimbing I, pembimbing
II dan mengajukan surat izin melakukan penelitian kepada Kepala Labolatorium
Farmasi Universitas Mandala Waluya setelah disetujui selanjutnya peneliti
menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian dan terakhir
penelitian dengan tetap memperhatikan aturan dalam Labolaturium Farmasi
Universitas Mandala Waluya.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi
Penelitian
Penelitian ini dilakukan di empat
laboratorium yang berbeda, pertama dilakukan proses ekstraksi dilaboratorium
farmakognosi-fitokimia Universitas Mandala Waluya, analisis kadar polifenol
total di Laboratorium Kimia Farmasi, dan pengujian daya hambat bakteri di
Laboratorium Steril Universitas Mandala Waluya. Setelah itu penelitian
dilanjutkan dengan analisis proksimat di UPT Laboratorium Terpadu Universitas Halu
Oleo Kendari.
B. Analisisi Data
1. Analisis
Universal
a.
Hasil
Determinasi Tanaman
Dari
hasil determinasi tanaman yang diperoleh, tanaman yang digunakan sebagai sampel
dalam penelitian ini adalah Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera) dengan
kata kunci
b.
Perhitungan
persen rendemen
Adapun
perhitungan persen rendemen Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera) sebagai berikut:
Tabel 7. Perhitungan
Persen Rendemen Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera)
Tabel 7. Ekstrak Kentos
Kelapa (Cocos
nucifera)
|
Simplisia |
Ekstrak |
Rendamen (%) |
|
1000 g |
10,18 gram |
2,036% |
c. Hasil
analisis Kandungan Proksimat
Tabel 7. Hasil
analisis Kandungan Proksimat Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera)
|
Satuan |
Hasil |
|
|
Kadar Air |
% |
14,79 |
|
Karbohidrat |
% |
44,64 |
|
Lemak |
% |
26,48 |
|
Serat Kasar |
% |
0,85 |
Gambar 8. Hasil
Hasil analisis Kandungan Proksimat Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera)
d. Hasil
Analisis Kadar Polifenol
Tabel 4. Hasil
analisis Kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera)
|
konsentrasi
(ppm) |
Replikasi
I |
Replikasi
II |
Replikasi
III |
Nilai rata-rata Absorbansi Sampel |
Kadar Polifenol Total |
|
|
100 ppm |
0,576 |
0,574 |
0,576 |
0,575±0.001 |
43.15033 |
|
|
80 ppm |
0,494 |
0,493 |
0,494 |
0.493±0 |
||
|
60 ppm |
0,424 |
0,428 |
0,427 |
0.426±0.002 |
||
|
40 ppm |
0,364 |
0,361 |
0,359 |
0.361±0.002 |
||
|
20 ppm |
0,215 |
0,216 |
0,217 |
0.216±0.001 |
||
|
blanko |
0,042 |
0,039 |
0,039 |
0.040±0.001 |
||
|
2000 |
0,381 |
0,384 |
0,385
|
0.383±0 |
||
Gambar 9. Grafik Hasil Kurva Kalibrasi Kadar
Polifenol
e.
Hasil
Diamete Zona Hambat
Adapun
hasil dari pengukuran zona hambat Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
nucifera) pada
bakteri Escherichia coli dengan
menggunakan metode difusi agar menggunakan paper
disk (kertas cakram) terlihat pada tabel.
Tabel
8. Hasil rata-rata Diameter Zona Hambat
terhadap Bakteri Escherichia coli.
|
Pemeriksaan |
Rata-rata hasil pengamatan |
|
||||
|
Replikasi I (mm) |
Replikasi II (mm) |
Replikasi III (mm) |
Rata-rata (mm) |
Kategori zona hambat |
||
|
40% |
Escherichia
coli |
9 |
9 |
9.3 |
9.1±0.17 |
Sedang |
|
60% |
10 |
10.3 |
10 |
10.1±0.17 |
Kuat |
|
|
80% |
12.6 |
12.6 |
13 |
12.7±0.23 |
Kuat |
|
|
amoxicilin |
22.3 |
22.3 |
22,3 |
22.3±0 |
Sangat kuat |
|
|
DMSO |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
Keterangan:
40% = ekstrak Kentos Kelapa 40%
60% = ekstrak Kentos Kelapa 60%
80% = ekstrak Kentos Kelapa 80%
K+ = Kontrol positif (amoxicilin)
K- = Kontrol Negatif (DMSO)
Sedang = nilai rata-rata zona hambat 5-10
mm
Kuat = nilai rata-rata zona hambat
11-20 mm
Sangat Kuat = nilai rata-rata zona hambat >20 mm
Gambar 9.
Hasil
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kentos Kelapa
(Cocos nucifera)
pada bakteri Escherichia coli
2. Analisis
Bivariat
A.
Hasil Uji Statistik Analisis
Kadar Polifenol Dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)
Terhadap Bakteri Escherichia coli
1. Hasil Uji
Statistik Analisis Kadar Polifenol Ekstrak Kentos
Kelapa (Cocos
nucifera)
Tabel
9. Hasil Uji Statistik Analisis Kadar
Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)
|
Kelompok |
Kelompok Pembanding |
Nilai P Signifikansi |
Keterangan |
|
100 ppm |
80 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
60 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
40 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
20 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
blanko |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
80 ppm |
60 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
40 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
20 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
blanko |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
40 ppm |
20 ppm |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
blanko |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
20 ppm |
blanko |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
Keterangan :
Tidak Signifikan : Nilai p>0,05, maka
tidak terdapat perbedaan atau hampir sama
Signifikan :
Nila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masin-masing perlakuan.
Hasil
pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dalam menentukan
normalitas data, Hal ini dibuktikan nilai signifikansi pada setiap konsentrasi
yaitu (0,103> 0,05), sehingga terbukti bahwa data terdistribusi normal.
Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dimana nilai signifikansinya yaitu
(0,053> 0,05), sehingga terbukti bahwa data homogen dan data dapat
dianalisis secara uji parametrik (Anova). Data terdistribusi normal dan homogen
sehingga dilanjutkan dengan uji One Way Anova dan didapatkan nilai signifikansi
p<0,050 yaitu 0,000 yang menandakan data berbeda signifikan dari masing
konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mengetahui konsentrasi
berapa yang berbeda signifikan dilakukan dengan uji lanjutan yaitu uji LSD.
Dimana bila nilai p>0,05 maka tidak terdapat perbedaan atau hampir sama.
Sedangkan bila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masing-masing
konsentrasi.
2. Hasil Uji
Statistik Antimikroba Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)
Terhadap Bakteri Escherichia coli
Tabel 10.
Hasil Hasil uji LSD Ekstrak Kentos
Kelapa (Cocos
nucifera)
Terhadap
Bakteri Escherichia coli
|
Kelompok |
Kelompok Pembanding |
Nilai P Signifikansi |
Keterangan |
|
konsentrasi 40 % |
Konsentrasi 60% |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
konsentrasi 80% |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
kontrol positif |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
kontrol negatif |
0,000 |
Berbeda Signifikan |
|
|
konsentrasi 60% |
konsentrasi 80% |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
kontrol positif |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
konsentrasi 80% |
kontrol positif |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
kontrol negatif |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
|
|
kontrol positif |
kontrol negatif |
0,000 |
Berbeda
Signifikan |
Keterangan :
Tidak Signifikan : Nilai p>0,05, maka
tidak terdapat perbedaan atau hampir sama
Signifikan :
Nila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masin-masing perlakuan.
Hasil
pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dalam menentukan
normalitas data, Hal ini dibuktikan nilai signifikansi pada setiap konsentrasi
yaitu (0,103> 0,05), sehingga terbukti bahwa data terdistribusi normal.
Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dimana nilai signifikansinya yaitu (0,053>
0,05), sehingga terbukti bahwa data homogen dan data dapat dianalisis secara
uji parametrik (Anova). Data terdistribusi normal dan homogen sehingga
dilanjutkan dengan uji One Way Anova dan didapatkan nilai signifikansi
p<0,050 yaitu 0,000 yang menandakan data berbeda signifikan dari masing
konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mengetahui konsentrasi
berapa yang berbeda signifikan dilakukan dengan uji lanjutan yaitu uji LSD.
Dimana bila nilai p>0,05 maka tidak terdapat perbedaan atau hampir sama.
Sedangkan bila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masing-masing
konsentrasi.
C. Pembahasan
Pada penelitian ini yang
berjudul Analisis proksimat, penentuan
kadar polifenol total dan uji aktivitas antibakteri kentos kelapa (cocos nucifera) mendukung pangan fungsional masyarakat
sulawesi tenggara untuk bertujuan untuk mencari tau kandungan
proksimat, kandungan polifenol total, dan uji aktivitas antibakteri kentos kelapa (Cocos nucifera) yang berpotensi sebagai antibakteri alami dalam
menghambat pertumbuhan mikroba.
Pengambilan
sampel dilakukan pada pagi hari karena menurut Dwinatari, (2015) saat pagi hari
intensitas cahaya matahari masih rendah, suhu lingkungan rendah, kelembaban
udara tinggi, sehingga tingkat evaporasi rendah, transpirasi tanaman rendah,
dan tekanan turgor tanaman menjadi tinggi
yang ditandai dengan kondisi fisik yang segar.
Kentos kelapa (cocos
nucifera) yang akan diuji diolah dengan cara dicuci
dengan air mengalir hingga bersih dengan tujuan untuk menghilangkan atau
mengurangi tanah dari debu yang jamur melekat, kemudian sampel dipotong-potong
menjadi kecil lalu dikeringkan. Sampel dibuat ekstrak dengan metode maserasi,
menggunakan pelarut metanol.
Kentos kelapa (cocos
nucifera) diekstraksi dengan menggunakan metode
maserasi, maserasi
merupakan cara penyarian yang sederhana, dilakukan dengan cara merendam bahan
simplisia dalam cairan penyari (Octavia, 2009). Pelarut yang digunakan
yaitu metanol, pemilihan pelarut tersebut karena lebih mudah melarutkan
senyawa-senyawa metabolit aktif yang berefek sebagai antibakteri dan antijamur
seperti flavonoid, alkaloid, tannin dan steroid.
Berat
simplisia awal Kentos kelapa (cocos nucifera) diperoleh 1000
gram dan hasil maserasi Ekstrak Kentos
kelapa (cocos nucifera)
diperoleh sebanyak 200 ml ekstrak cair yang kemudian ekstrak tersebut
dipekatkan menggunakan rotary evaporator dan
hair dryer sehingga di peroleh untuk Kentos kelapa (cocos nucifera) 10,18 g ekstrak kental dengan nilai rendamen
2,036 %.
Dari
hasil analisis proksimat yang dilakukan pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera)
terdapat jumlah kadar karbohidrat yang sangat tinggi dimana kadar karbohidrat pada
hasil esktrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 44.6 4%,
kadar lemak esktrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 26,48%,
kadar air ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 14,79%
dan kadar serat kasar esktrak Kentos
kelapa (cocos nucifera) berjumlah
0,85%. Pada hasil analisis proksimat yang dilakukan pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) yang memenuhi nilai standar SNI yaitu kadar lemak
26,48% dengan nilai SNI minimal 9,5 hasil ini telah memenuhi syarat SNI dan kadar
serat kasar 0,85% dengan nilai SNI maksimal 1,5 hasil ini telah memenuhi syarat
SNI. (Koir,
Devi and Wahyuni, 2017)
Analisis
kuantitatif senyawa fenol dengan spektrofotometri UV-Vis dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar kadar fenol yang terkandung dalam ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) Analisis fenol dilakukan dengan menggunakan
spektrofotometri UV-Vis karena dalam fenol terkandung sistem aromatik
terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum sinar
ultraviolet dan spektrum sinar tampak (Harbone, J.B. 1987).
Pengujian
uji kadar fenol fraksi etanol biji pepaya (Carica papaya L.) dengan
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan tujuan untuk mengetahui
berapa kadar flavonoid total yang terdapat dalam ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera). Pada penelitian ini, terlebih dahulu dibuat
larutan kuersetin yang merupakan pembanding dengan konsentrasi 20 ppm, 40 ppm,
60 ppm, 80 ppm, 100 ppm. Kuersetin dipilih sebagai larutan standar karena
kuersetin merupakan fenol yang mempunyai
gugus keto pada C-4 dan memiliki gugus hidroksil pada atom C-3 atau C-5 yang
bertetangga dari flavon dan flavonol (Aminah, et al., 2017). Selain itu
juga, karena salah satu senyawa fenol yang dimana dapat bereaksi dengan
alumunium klorida hingga membentuk kompleks (Bangun, et al., 2021).
Digunakan
berbagai kosentrasi karena metode yang dipakai dalam menentukan kadar adalah
metode yang menggunakan persamaan kurva baku. Untuk membuat kurva baku diawali
dengan dibuatnya beberapa deret konsentrasi untuk mendapatkan persamaan regresi
linear untuk menghitung persen kadar.
Pengukuran
serapan panjang gelombang maksimum pada panjang gelombang 400-800 nm,
didapatkan panjang gelombang maksimum standar baku kuersetin berada pada 436 nm. Panjang gelombang digunakan untuk
mengukur serapan dari sampel fraksi etanol biji papaya (Carica papaya
L.).
Dari
hasil pengukuran diperoleh hasil baku kuersetin antara absorbansi kuersetin
dengan konsentrasi 20,40,60,80 dan 100 ppm, diperoleh persamaan regresi linear
yaitu y = 0,0051x + 0, 0968 dengan nilai R2 yang diperoleh sebesar 0,9537. Menurut
Sugiono (2009) interpretasi koefisien determinasi R2 interval koefisien
dikatakan sangat kuat jika berkisar antara 0,8 -1, kuat jika berkisar antara
0,60 – 0,799 cukup kuat jika berkisar antara 0,40 – 0,599 rendah jika berkisar
antara 0,20 – 0,399 dan sangat rendah jika berkisar antara 0,00 – 0,199.
Berdasarkan
hasil one-way ANOVA Kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)
menunjukan nilai signifikan p<0,05
yaitu sebesar p = 0,00 yang berarti
bahwa ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) tidak
mempengaruhi kdar polifenol.
Selanjutnya untuk perbedaan antara
rata-rata kelompok konsentrasi secara lebih spesifik dapat dilakukan dengan uji
LSD (least significance different).
Hasil uji LSD kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)
pada konsentrasi 20,40,60,80 dan 100
ppm dan blanko memperlihakan perbedaan hal
ini menunjukan semakin meningkat konsentrasi menujukkan aktivitas yang lebih
baik, Hal ini membuktikan kenaikan konsentrasi berbanding lurus dengan
aktivitas. Hasil analisis dengan semua kelompok perlakukan ekstrak terhadap
kontrol positif memperlihatkan adanya perbedaan dan memiliki nilai berbeda signifikan.
Selanjutnya
pengujian terhadap bakteri dengan
mensterilkan alat dan medium menggunakan oven dan autoclaf untuk menghilangkan
mikroorganisme pada alat dan bahan yang akan digunakan, serta membuat biakan
bakteri miring. Medium yang digunakan
yaitu medium NA (Nutrient Agar) dipilih media tersebut karena media NA
(Nutrient Agar) merupakan salah satu media kultur yang paling umum digunakan,
media NA (Nutrient Agar) juga sederhana dan merupakan media terbaik dengan
kemampuannya dalam mendukung pertumbuhan dari bakteri (Saha, 2008).
Uji
aktivitas antibakteri dari ekstrak Kentos
kelapa (cocos nucifera) dilakukan dengan metode difusi agar
menggunakan paper disk (kertas
cakram). Salah satu metode paling umum digunakan untuk menentukan dengan cepat
sensitivitas bakteri dan resistensinya terhadap obat-obatan antimikroba dengan
menggunakan cakram kertas kecil yang masing-masing dijenuhkan dengan larutan
obat pada konsentrasi yang berbeda-beda (Pollack, 2016).
Penelitian
ini dilakukan pengujian terhadap bakteri Escherichia
coli Kontrol positif dari penelitian ini adalah amoxicilin,
amoxicilin adalah suatu antibiotik
semisintetik penicillin yang memiliki cincin β-laktam memiliki aktivitas
sebagai antibakteri yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan. Amoksisilin termasuk antibiotic spektrum luas dan
memiliki bioavailabilitas oral yang tinggi, dengan puncak konsentrasi plasma dalam
waktu 1-2 jam sehingga pengkonsumsiannya sering diberikan kepada anak-anak dan
juga orang dewasa dan Kontrol
negatif dari penelitian ini adalah DMSO, karena DMSO tidak memiliki
sifat antibakteri maupun antijamur sehingga tidak dapat menghambat pertumbuhan
keduanya (Athaillah dkk 2020). Pengujian
antibakteri pada ekstrak Kentos kelapa
(cocos nucifera) dilakukan dengan konsentrasi 40%, 60%
dan 80% dengan metode difusi agar menggunakan paper disk (kertas cakram).
Hasil
uji aktivitas antibakteri ekstrak Kentos
kelapa (cocos nucifera) terhadap
bakteri Escherichia coli memiliki aktivitas di mana pada
masing-masing konsentrasi menunjukkan perbedaan daya hambat pada konsentrasi
40% sebesar 9,1 mm, konsentrasi 60% sebesar
10,1 mm, konsentrasi 80% sebesar 12,7 mm, kontrol positif sebesar 22,3
mm dan pada kontrol negatif tidak memiliki zona hambat, pada konsentrasi 40% da
60% dikategorikan sedang kerena memiliki nilai diameter zona hambat 5-10 mm,
pada konsentrasi 80% dikategorikan kuat kerena memiliki nilai diameter zona
hambat 11-20 mm dan kontrol positif di
kategorikan sangat kuat karena memiliki nilai diameter zona hambat >20 mm
(Susanto Sudrajat dan Ruga, 2012).
Berdasarkan
hasil one-way ANOVA pada bakteri Escherichia coli menunjukan nilai signifikan p<0,05 yaitu sebesar p =
0,00 yang berarti bahwa ekstrak Kentos
kelapa (cocos nucifera)
memiliki aktivitas terhadap bakteri Escherichia
coli.
Selanjutnya
untuk perbedaan antara rata-rata kelompok konsentrasi secara lebih spesifik
dapat dilakukan dengan uji LSD (least
significance different). Hasil uji LSD bakteri Escherichia coli pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) pada konsentrasi 40%, 60%, 80% dan kontrol positif
memperlihakan perbedaan dengan kontrol negatif hal ini menujukkan perlakuan
tersebut memperlihatkan aktivitas antibakteri. Hasil analisis antara kelompok
40%, 60% dan 80% juga menunjukkan perbedaan, semakin meningkat konsentrasi
menujukkan aktivitas yang lebih baik, Hal ini membuktikan kenaikan konsentrasi
berbanding lurus dengan aktivitas. Hasil analisis dengan semua kelompok
perlakukan ekstrak terhadap kontrol positif memperlihatkan adanya perbedaan.
Hal ini menunjukkan pada konsentrasi ekstrak 40%, 60%, 80% dan kontrol postitif menunjukan adanya aktivitas,
Hal ini membuktikan kemampuan ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera)
efektif dalam menghabat pertumbuhan Escherichia coli pada konsentrasi
40%, 60% dan 80% dan pada kontrol
positif amoxicilin memiliki
nilai berbeda signifikan.
Dari
hasil pengamatan dan Analisa data yang telah di lakukan pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki aktivitas pada bakteri Escherichia coli, Hasil
skrining fitokimia menurut Nataniel Sambou Christel dkk (2020) ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) mengandung berbagai komponen bioaktif
termasuk senyawa fenolik, flavonoid, asam lemak, serat, dan vitamin. Kentos
kelapa telah terbukti memiliki berbagai manfaat terapetik, antara lain sebagai
antidepresan, antianemia, kardioprotektif, antioksidan, antiinflamasi,
antibakteri, antidiabetes dan antitukak, dimana senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Diduga senyawa yang memberikan efek antibakteri ialah flavonoid dan fenol. Mekanisme kerja flavonoid sebagai
antibakteri yaitu membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan
terlarut sehingga dapat merusak membran sel bakteri yang diikuti dengan
keluarnya senyawa intraseluler, Kandungan lain seperti fenol mampu merusak
membran sel, membuat denaturasi protein, dan menginaktifkan enzim Lisozim
sehingga dinding sel bakteri akan mengalami penurunan tegangan permukaan sel
sehingga terjadi kematian sel.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Kandungan proksimat
ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) yang paling besar yaitu
pada karbohidrat demgan kadar 44,64%, kadar air 14,79%, kadar air 14,79 dan
kadar serat kasar 0,85%.
2. Kadar polifenol
total ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) yaitu 43.1503 mgQE/g ekstrak
3. Ekstrak ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki
aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli yaitu pada konsentrasi 40% dengan diameter zona hambat 9,1 mm dan konsentrasi 60% yaitu 10,1 mm dikategorikan
sedang dan konsentrasi 80% yaitu 12,7 mm dikategorikan kuat
4. Ekstrak ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki
aktivitas paling besar sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli yaitu pada konsentrasi 80% dengan diameter
zona hambat 12,7 mm dikategorikan
kuat terhadap bakteri Escherichia coli
B. Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan diatas disarankan kepada peneliti
selanjutnya:
1. Dapat melanjutkan
penelitian uji kadar flavonoid total dengan menggunakan metode fraksinasi yang
lain.
2. Dapat melanjutkan
penelitian uji aktivitas antioksidan dengan metode yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, A. (2020). Potensi Pangan Fungsional Dan Perannya
Dalam Meningkatkan Kesehatan Manusia Yang Semakin Rentan—Mini Review. Teknosains:
Media Informasi Sains Dan Teknologi, 14(2), 176-186.
Anam, C. (2019). Mengungkap Senyawa Pada Nata De Coco Sebagai
Pangan Fungsional. Jurnal Ilmu Pangan Dan Hasil Pertanian, 3(1),
42-53.
Apriliana,
E., Tjiptaningrum, A., & Julianingrum, R. (2019). Perbandingan Efektivitas
Ekstrak Propolis Dalam Menghambat Pertumbuhan Pertumbuhan Bakteri Gram Positif
(Staphylococcus aureus) danGram Negatif (Escherichia coli) Secara In
Vitro. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung, 3(1),
129-134.
Azis, A. (2020). Pengaruh Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos
Nucifera L.) Terhadap Penurunan Immobility Time Sebagai Antidepresan Pada
Mencit (Mus Musculus). Jurnal Kesehatan Yamasi Makassar, 4(1).
Bode, A. (2019). Perbandingan Metode Prediksi Support Vector
Machine Dan Linear Regression Menggunakan Backward Elimination Pada Produksi
Minyak Kelapa. Simtek: Jurnal Sistem Informasi Dan Teknik Komputer, 4(2),
104-107.
Chikku, A. M., & Rajamohan, T. (2012). Coconut haustorium
maintains cardiac integrity and alleviates oxidative stress in rats subjected
to isoproterenol-induced myocardial infarction. Indian Journal of
Pharmaceutical Sciences, 74(5), 397.
Fitri,A.S.,&Fitriana,Y.A.N.(2020).Analisis Senyawa Kimia
Pada Karbohidrat. Sainteks, 17(1), 45-52.
Hainil, S.,
Sammulia, S. F., & Adella, A. (2022). Aktivitas Antibakteri Staphyloccocos
aureus dan Salmonella thypi Ekstrak Metanol Anggur Laut (Caulerpa racemosa):
Antibacterial Activity Staphyloccocos aureus and Salmonella typhi Sea Grapes
(Caulerpa racemosa) Methanol Extract. Jurnal Surya Medika (JSM), 7(2),
86-95.
Hakim, M. Z. F., Handayani, W. A. F., Fauziah, S. N., &
Haryanto, H. (2020). Kajian: Karakter, Proses Dan Potensi Virgin Coconut Oil
(VCO) Sebagai Pangan Fungsional. Journal Of Science, Technology And
Entrepreneur, 2(2).
Harborne, J.B, (1987). Metode
fitokimia cara moder menganalisis tumbuhan. penerbit ITB Bandung Hermans,
M.H.E. 2005. A General OverView Of Burn Care. Int Wound J 2005; 2:3, 206-220
Harbone, J.B, (2006). Metode
fitokimia: penuntun cara modern menganalisis tumbuhan edisi kedua. Bandung:
Penerbit ITB. 144-147
Hasnaeni, T. (2022). Analisis Proksimat Cookies
Subtitusi Tepung Jewawut dan Bekatul Sebagai Sumber Energi dan Protein Balita
Underweight Proximate Analysis of Cookies Subtituted with Foxtail Millet Flour
and Rice Bran as A Source Of Energy and Protein for Underweight Toddlers (Doctoral
dissertation, Universitas Hasanuddin).
Khairani,
K., Busman, B., & Edrizal, E. (2017). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Jamur Tiram Purih (Pleurotus Ostreatus) Terhadap Bakteri Streptococcus Mutans
Penyebab Karies Gigi. B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas
Baiturrahmah, 4(2), 110-116.
Kolondam,L.,Djarkasi, G. S., Leke, J. R., Mamuaja, C. F.,
& Pongoh, J. (2023). Potential Antioxidant Activity Of Coconut Kentos Flour
(Cocos Nucifera L.) And Application In Biscuits. Jurnal
Agroekoteknologi Terapan, 4(2), 284-292.
Kurnia, N., Muhali, M., Hunaepi, H., & Asy'ari, M.
(2021). Pangan Fungsional Untuk Proyek Independen Kkn-Tematik Di Masa Pandemi
Covid-19. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 5(1),
608-615.
Kusumayanti, H., Hanindito, S. B., & Mahendrajaya, R. T.
(2016). Pangan Fungsional Dari Tanaman Lokal Indonesia. Metana, 12(1),
26-30.
Mansauda, K. L. R., Rumokoy, S. N., Warokka, A., Atmaja, I.
G. P., Simanjuntak, C. H., & Kumaat, A. P. (2023). Alat Pengering Simplisia
Kentos Kelapa (Cocos Nucifera): Studi Potensi. Jurnal Elektrik, 2(1),
10-15.
Manso, T.,
Lores, M., & de Miguel, T. (2021). Antimicrobial activity of polyphenols
and natural polyphenolic extracts on clinical isolates. Journal Antibiotics, 11(1), 46.
Mardesci, H. (2023). Pemanfaatan Limbh Kentos Menjadi Fried
Coconut Sprout. Jurnal Teknologi Pertanian, 12(1), 33-40.
Mardiah, M.
(2017). Uji Resistensi Staphylococcus
aureus Terhadap Antibiotik, Amoxillin, Tetracyclin dan Propolis. Jurnal
Ilmu Alam Dan Lingkungan, 8(2).
Mardiyanto, A.(2016). Provinsi Sulawesi
Tenggara Dalam Angka 2016. BPS Provinsi Sulawesi Tenggara
Narayanankutty, A., Job, J. T., Kuttithodi, A. M.,
Sasidharan, A., Benil, P. B., Ramesh, V., ... & El-Din, M. M. E. (2023).
Proximate Composition, Antioxidant, Anti-Inflammatory And Anti-Diabetic
Properties Of The Haustorium From Coconut (Cocos Nucifera L.) And Palmyra Palm
(Borassus Flabellifer L.). Journal Of King Saud University-Science, 35(1),
102404.
Ninda, H.
(2022). Analisis
Proksimat dan Uji Oganoleptik Bolu Kukus Dengan Tepung Kecambah Kacang Hijau (Vigna
radiata) dan Tepung Kulit Pisang Ambon (Musa paradisiaca var.
sapientum (l.) kunt.). (Doctoral dissertation, UIN RADEN INTAN LAMPUNG).
Ningrum, M. S. (2019). Pemanfaatan Tanaman Kelapa
(Cocos Nucifera) Oleh Etnis Masyarakat Di Desa Kelambir Dan Desa Kubah Sentang
Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang (Doctoral Dissertation,
Universitas Medan Area).
Nurjanah,
G. S., Cahyadi, A. I., & Windria, S. (2020). Kajian Pustaka: Resistensi
Escherichia coli Terhadap Berbagai Macam Antibotik pada Hewan dan
Manusia. Indonesia Medicus Veterinus, 9(6), 970-983.
Pradawahyuningtyas, A., Priastomo, M., & Rijai, L.
(2020). Aktivitas Antianemia Filtrat
Limbah Kentos Kelapa (Cocos Nucifera) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Natrium
Nitrit Antianemic Activity Of Coconut (Cocos nucifera) Haustorium Waste
Filtrate In Mice Induced By Sodium Nitrite.
Pratiwi, I.
H., Lestari, F., & Suwendar, S. (2020). Kajian Literatur Penggunaan Jenis
An
tibiotik
pada Pasien Pneumonia Pediatrik yang Digunakan Diberbagai Rumah Sakit. Prosiding
Farmasi, 6(2), 108-114.
Putri, R.
W. A. (2016). Identifikasi Bakteri Eschericia coli dan Salmonella sp.
Pada Jajanan Batagor Di Sekolah Dasar Negeri Di Kelurahan Pisangan, Cirendeu,
Dan Cempaka Putih Ciputat Timur (Bachelor's thesis, FKIK UIN Jakarta).
Rahman, N. A. (2022). Pengaruh Lama Ekstraksi
Terhadap Kadar Polifenol Total Dan Katekin Biji Buah Pinang (Areca Catechu L.)
Dari Beberapa Daerah Di Sulawesi Selatan Dengan Metode Ultrasonic Assisted
Extraction (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).
Riani, I. (2021). Analisis Cemaran Bakteri
Escherichia Coli Pada Bubur Bayi Home Industry Di Kabupaten Tulungagung Dengan
Metode Alt Dan Mpn (Doctoral dissertation, Stikes Karya Putra Bangsa
Tulungagung).
Rompas, S.
A. T., Wewengkang, D. S., & Mpila, D. A. (2022). Uji Aktivitas Antibakteri
Organisme Laut Tunikata polycarpa aurata
Terhadap Bakteri Escherichia coli Dan
Staphylococcus aureus. JOURNAL PHARMACON, 11(1),
1271-1278.
Sari, A. K. (2015). Penetapan
Kadar Polifenol Total, Flavonoid Total, Dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak
Etanol Daun Sirsak (Annona muricata) Dari Jember Pada Ketinggian Tanah Yang
Berbeda.
Siahaya, G. C., Titaley, S., & Rehena, Z. (2021).
Pemanfaatan Tombong Kelapa Sebagai Bahan Baku Tepung (Utilitation Of Coconut
Tombong As Raw Material Four). Jurnal Agribisnis Perikanan, 14(1),
25-34.
Siahaya, G. C., Titaley, S., & Rehena, Z. (2021).
Pemanfaatan Tombong Kelapa Sebagai Bahan Baku Tepung (Utilitation of Coconut
Tombong as Raw Material Four). Jurnal Agribisnis Perikanan, 14(1),
25-34.
Sibero, M.
T., Trianto, A., Frederick, E. H., Wijaya, A. P., Muhammad Ansori, A. N., &
Igarashi, Y. (2022). Biological Activities and Metabolite Profiling of
Polycarpa aurata (Tunicate, Ascidian) from Barrang Caddi, Spermonde
Archipelago, Indonesia. Jordan Journal of Biological Sciences, 15(1).
Sovia, E., Ratwita, W., Fitriyanto, I. A., & Nurlaela, L.
(2023). Edukasi Penggunaan Antibiotika Yang Bijak Dan Aman. Jurnal
Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), 6(3), 991-1000.
Sumampouw,
O. J. (2018). Uji sensitivitas antibiotik terhadap bakteri escherichia coli
penyebab diare balita di kota manado. Journal of Current Pharmaceutical
Sciences, 2(1), 104-110.
Suteja, A., Kardhinata, E. H., & Lubis, R. (2019).
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Durian (Durio Zibethinus
Murr). Jurnal Ilmiah Biologi UMA (JIBIOMA), 1(1), 1-6.
Valli, S. A., & Gowrie, S. U. (2021). Bioprospecting and
Therapeutic Applications of Cocos nucifera L. Sprouts. Int J Cur Res
Rev| Vol, 13(22), 35.
Widianingrum, D. C., Noviandi, C. T., & Salasia, S. I. O.
(2019). Antibacterial And Immunomodulator
Activities Of Virgin Coconut Oil (VCO) Against Staphylococcus Aureus. Heliyon, 5(10).
Yenrina, R. (2015). Metode Analisis Bahan Pangan Dan Komponen
Bioaktif. Andalas University Press, Padang, Hal, 4-39.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Skema kerja
pembutan ekstrak
Kentos
kelapa Simplisia
Kentos Kelapa Evaporasi
Maserasi
Simplisia Ekstrak
Kental ·
Dicuci bersih ·
Disortasi basah ·
Dirajang dikeringkan ·
Disortasi kering ·
Ditimbang ·
Dimasukkan dalam
wadah maserasi ·
Ditambahkan metanol ·
Didiamkan 3x24 jam,
sesekali diaduk
Lampiran
2. Skema
kerja pembuatan tepung Kentos kelapa
Kentos
kelapa Simplisia
Kentos Kelapa Tepung
Kentos kelapa ·
Dicuci bersih ·
Disortasi basah ·
Dirajang dikeringkan ·
Disortasi kering ·
Ditimbang ·
Diblender hingga
halus ·
Diayak
Analisis
Kadar Air
Analisis
Kadar Karbohidrat Analisis
Serat Analisis
Kadar Lemak
Ekstrak
Kentos kelapa
Campuran
Ekstrak Kentos kelapa dan pereaksi Hasil
·
Ditambahkan reagen
Folin-Ciocalteu ·
Ditambahkan Na2CO3
7,5% ·
Didiamkan pada suhu
kamar 70 menit ·
Diukur absorbansi
menggunakan spektrofotmeter UV-Vis
Lampiran 5. Uji
Aktivitas Antibakteri
Pembuatan
media nutrient Agar (NA) Pembuatan suspensi bakteri uji Peremajaan bakteri Sterilisasi
Alat Pembuatan larutan kontrol positif Pengujian Luas zona hambat Pengamatan dan pengukuran zona
hambat
Lampiran 6. Perhitungan
Penimbangan Bahan
1.
Perhitungan Medium Nutrient Agar
Medium NA =
2.
Perhitungan Konsentrasi
Ekstrak Kentos Kelapa
Ø Konsentrasi
40% =
Ø Konsentrasi
60% =
Ø Konsentrasi
80% =
3.
Perhitungan kontrol
positif Amoxicillin 1% dan kontrol negatif DMSO
Amoxicillin
1% =
DMSO = 3ml