ANALISIS PROKSIMAT, PENENTUAN KADAR POLIFENOL TOTAL DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KENTOS KELAPA (Cocos nucifera) MENDUKUNG PANGAN FUNGSIONAL MASYARAKAT SULAWESI TENGGARA

 

PROPOSAL PENELITIAN

ANALISIS PROKSIMAT, PENENTUAN KADAR POLIFENOL TOTAL DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI  KENTOS KELAPA (Cocos nucifera) MENDUKUNG PANGAN FUNGSIONAL MASYARAKAT SULAWESI TENGGARA

 

 

 

 

 

 


 

 


PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS MANDALA WALUYA

2024

 

 

 

DAFTAR ISI

 

LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL.. Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR.. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR TABEL.. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR GAMBAR.. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN.. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR  LAMPIRAN.. Error! Bookmark not defined.

BAB 1 PENDAHULUAN.. 1

A.    Latar Belakang. 1

B.    Rumusan Masalah. 6

C.    Tujuan Penelitian. 6

D.    Manfaat Penelitian. 7

E.    Kebaruan Penelitian. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. Error! Bookmark not defined.

A. Tinjauan Teoritis Variabel Bebas. Error! Bookmark not defined.

B. Tinjauan Teoritis Variabel Terikat Error! Bookmark not defined.

C. Kajian Empiris. Error! Bookmark not defined.

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN.. Error! Bookmark not defined.

A. Dasar Pikir Penelitian. Error! Bookmark not defined.

B. Bagan Kerangka Konsep Penelitian. 48

C. Variabel Penelitian. 48

D.Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 49

E. Hipotesis Penelitian. 51

BAB IV METODE PENELITIAN.. Error! Bookmark not defined.

A. Jenis dan Rancanan Penelitian. Error! Bookmark not defined.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian. Error! Bookmark not defined.

C. Populasi Dan Sampel Error! Bookmark not defined.

D. Alat dan Bahan. Error! Bookmark not defined.

E. Prosedur Penelitian. Error! Bookmark not defined.

F. Pengolahan Dan Analisis Data. Error! Bookmark not defined.

G. Etika Penelitian. Error! Bookmark not defined.

H. Jadwal Dan Waktu Penelitian. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA.. Error! Bookmark not defined.

LAMPIRAN.. Error! Bookmark not defined.

Lampiran 1. Skema kerja pembuatan ekstrak. Error! Bookmark not defined.

Lampiran 2. Skema kerja pembuatan tepung Kentos kelapa. Error! Bookmark not defined.

Lampiran 3. Skema Kerja Analisis Kandungan Proksimat Error! Bookmark not defined.

Lampiran 4. Skema Kerja Uji Kadar Polifenol Total Error! Bookmark not defined.

Lampiran 5. Skema Kerja Uji Aktivitas Antibakteri Error! Bookmark not defined.

Lampiran 6. Perhitungan Penimbangan Bahan. 72

 

 

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kebaruan Penelitian............................................................... 7

Tabel 2. Daftar Komponen Bioaktif Pangan Fungsional................... 17

Tabel 3. Klasifikasi kelapa................................................................ 18

Tabel 4. Klasifikasi Bakteri Escherichia coli.................................... 26

Tabel 5. Klasifikasi Penghambatan Pertumbuhan Bakteri ............... 29

Tabel 6. Standar Analisis Proksimat.................................................. 31

Tabel 7. Jadwal Penelitian................................................................. 56

 


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Sulawesi Tenggara.................................................. 11

Gambar 2. Pohon Kelapa.................................................................. 19

Gambar 3. Kentos Kelapa ................................................................ 21

Gambar 4. Bakteri Escherichia coli.................................................. 25

Gambar 5. Struktur dan Antigen Bakteri Escherichia coli............... 25

Gambar 6. Rumus perhitungan diameter Zona Hambat................... 33

Gambar 7. Bagan Kerangka Konsep Penelitian................................ 47

 

 


DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN

No.

LAMBANG/SINGKATAN

ARTI LAMBANG dan KETERANGAN

1

m

Meter

2

cm

Sentimeter

3

mm

Milimeter

4

g

Gram

5

kg

Kilo Gram

6

NA

Nutrien Agar

7

DMSO

Dimetil Sulfoksida

8

%

Persen

9

< 

Kurang Dari

10

> 

Lebih Dari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak................................. 61

Lampiran 2. Skema Kerja Pembuatan Tepung Kentos Kelapa........ 62

Lampiran 3. Skema Kerja Analisis Kandungan Proksimat.............. 63

Lampiran 4. Skema Kerja Uji Kadar Polifenol Total....................... 64

Lampiran 5. Skema Kerja Uji Aktivitas Antibakteri........................ 65

Lampiran 6. Perhitungan Penimbangan Bahan................................ 66

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Pangan fungsional didefenisikan sebagai makanan ataupun minuman yang kandungan nutrisinya memiliki manfaat lebih kepada manusia melampaui kandungan nutrisinya saja baik untuk meningkatkan status kesehatan maupun untuk mencegah terjadinya berbagai kasus penyakit yang mungkin terjadi  (Abbas, 2020).

Pemanfaatan pangan fungsional sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern saat ini, selain gizi makanan yang diperoleh juga bahan senyawa aktif yang secara tidak langsung ikut terkonsumsi. Pangan fungsional sendiri saat ini mendapatkan banyak perhatian sebagai pengganti nutrisi dan juga sebagai agen farmasi. Menurut data World Health Organization (WHO) pemanfaatan keanekaragaman hayati (bioprospecting) sangat besar sekali, sekitar 80% umat manusia terutama di negara-negara berkembang masih menggantungkan dirinya pada tumbuh-tumbuhan (ekstrak dan bahan bioaktif) sebagai bahan obat untuk menjaga kesehatannya. Lebih jauh, pangan fungsional tidak hanya sekedar bahan makanan yang terdigesti dalam saluran pencernaan, tetapi sudah menjadi salah satu cara atau media untuk mencegah bahkan untuk mengobati beberapa penyakit tertentu, karena beberapa kandungan esensialnya pangan fungsional dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan manusia (Abbas, 2020).

Salah satu tanaman  sumber pangan fungsional dan serba guna bagi masyarakat yaitu pohon kelapa yang memiliki banyak manfaat karena hampir keseluruhan  bagian  dari  pohon  ini bisa digunakan. Luas tanaman kelapa di Indonesia mencapai 3.728.600 Ha. Produksi kelapa RI tercatat 15,4 miliar butir atau 3,2 juta ton pertahun. Di kancah dunia Indonesia menempati urutan ke-2 penghasil kelapa setelah negara Filipina. Banyak petani mengolah kelapa dalam bentuk kopra, sedangkan potensi produk turunan kelapa lainnya baik produk utama maupun produk samping sangat besar (Kemala, 2018).

Tanaman kelapa sudah umum dikenal masyarakat, termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara. Banyak masyarakat yang memanfaatkan buah dan daun kelapa untuk dijadikan produk maupun untuk dikonsumsi langsung. Salah satu daerah pengasil kelapa di Sulawesi Tenggara adalah Konawe Selatan. Menurut data Badan Pusat Statistik Konawe Selatan (2022) Kabupaten Konawe Selatan merupakan daerah  penghasil  utama komoditas kelapa di Provinsi Sulawesi Tenggara, baik dari segi luas areal  pertanaman  maupun  dari  segi  jumlah produksi. Berdasarkan   potensi   sumber   daya alam di Kabupaten Konawe Selatan, perkebunan berada  di  urutan  ke-2  setelah  pertanian  yang membantu kesejahteraan wilayah tersebut. Tanaman kelapa sendiri   tersebar di berbagai tempat di Konawe Selatan salah satunya adalah di Desa Masagena,   Kecamatan Konda (Irayanti,dkk 2022).

 Salah satu bagian dari tanaman kelapa yang sering dikonsumsi oleh masyarakat adalah kentos kelapa. Kentos kelapa merupakan cikal bakal pembentukan tunas kelapa, berbentuk bulat dan terdapat di dalam buah kelapa yang sudah tua. Kentos semakin lama akan semakin membesar dan apabila kelapa tidak dibelah maka akan menghasilkan tunas baru. Tunas kelapa pada biji kelapa akan tumbuh membesar dengan memanfaatkan nutrisi, seperti endosperm (daging kelapa) dan air kelapa yang ada dalam biji kelapa tersebut, sehingga semakin besar tunas kelapa maka biji kelapa menjadi gosong. Demikian juga kentos yang ada dalam biji kelapa juga menjadi sumber nutrisi bagi pertumbuhan tunas kelapa (Suanda, 2021). 

Kentos kelapa juga dikenal masyarakat dengan sebutan tombong kelapa. Kebiasaan konsumsi kentos kelapa pada masyarakat biasanya dengan cara dimakan langsung tanpa adanya pengolahan. Daging Kentos Kelapa selain kaya akan nutrisi juga memiliki rasa manis dan gurih, sehingga dijadikan sebagai cemilan. Manfaat dari kentos kelapa adalah mencegah kerusakan pada pembuluh darah, anemia, mencegah penyakit liver, memperkuat tulang dan gigi, mencegah penyakit jantung koroner, mencegah stroke, mencegah rabun jauh atau hipermetropi, mencegah radang selaput otak, mencegah rabun dekat atau miopi, mengobati sakit kepala dan migrain, mengandung kalsium yang melimpah, meringankan depresi dan stress akut, mencegah mata silinder supaya tidak makin parah, mengobati batuk kering, mencegah kanker kolon, mengobati insomnia dan hipersomnia, mengobati mood swing, menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi, mengobati flu dan pilek dan menguatkan daya pikir (Azis dkk, 2020).

Beberapa manfaat kentos kelapa diatas tentunya berhubungan dengan kandungan nutrisi yag terkandung. Menurut study Sholika (2021) kentos kelapa memiliki banyak kandungan seperti protein, karbohidrat, mineral, antioksidan dan enzim lipase. Menurut Chikku dan Rajamohan (2012), coconut sprout (kecambah kelapa) merupakan salah satu bagian yang dapat dimakan dari kelapa dan memiliki sejumlah kandungan zat gizi yang dibutuhkan manusia untuk proses metabolisme tubuh, antara lain karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin serta komponen-komponen bioaktif seperti alkaloid dan polifenol. Valli dan Gowrie (2017) mengemukakan bahwa kecambah kelapa umumnya secara spesifik dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat di Chennai-Tamil Nadu untuk menyembuhkan radang (inflamasi) pada perut, dan diketahui sebagai sumber phytokimia yang baik dengan kandung vitamin, mineral, protein dan beberapa metabolit sekunder. Kentos kelapa juga mengandung komponen fungsional seperti fenol dan flavonoid (Siahaya dkk, 2021).

Berdasarkan beberapa kandungan senyawa bioaktif pada kentos kelapa yaitu fenolik, flavonoid, asam lemak, dan serat yang diketahui mampu berpotensi sebagai antibakteri alami. Menurut riset penelitian sebelumnya kentos kelapa menggunakan metanol dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% dengan persentase hambatan maksimum pada bakteri Staphylocccus epidermidis dan Psudomonas aeruginosa masing-masing sekitar 92% dan 91% dengan zona hambatan maksimum 35 mm pada konsentrasi 80 kedua bakteri.  Hasil yang didapatkan pada konsentrasi rendah aktivitas antibakteri kurang efektif yang ditandai dengn hasil zona hambatan yang tergolong lemah berkisar < 5 mm. Menurut riset penelitian Rastina (2015) bahwa aktivitas antibakteri pada bahan pangan dengan konsentrasi rendah tidak memberikan perbedaan yang bermakna dan semakin tinggi konsentrasi semakin terlihat perbedaannya. Sehingga pada penelitian ini digunakan perbandingan konsentrasi 40%, 60%, dan 80%.  Dari datadiatas maka diketahui bahwa penggunaan antibakteri alami yang berasal dari tanaman merupakan solusi strategis untuk memperbaiki masalah yang kini dihadapi dalam bidang kesehatan yaitu resistensi antibiotik akibat penggunaan yang kurang bijaksana. Resistensi antibiotik  sendiri telah menjadi masalah kesehatan global dengan berbagai dampak merugikan.

Salah satu bakteri yang masih menjadi penyebab resistensi ialah  Escherichia coli yang hidup di usus manusia dan hewan. Bakteri ini pada umumnya tidak berbahaya dan merupakan bagian penting saluran pencernaan yang sehat. Namun, beberapa E. coli dapat bersifat patogen yang menyebabkan penyakit seperti diare dan penyakit saluran usus lainnya seperti menyebabkan diare ringan hingga diare berdarah dan hemorrhagic colitis dan hemolytic uremic syndrome (HUS). Hasil penelitian antimicrobial resistance in Indonesia (AMRIN-Study) terbukti bahwa dari 2.494 individu tersebar di seluruh Indonesia, 43 persen E. coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Antibiotik yang telah resisten di antaranya adalah (34%), kotrimoksazol (29%) dan kloramfenikol (25%) (Cahyadi dkk, 2019).

Salah satu kandungan kentos kelapa adalah polifenol yang merupakan senyawa dengan kandungan satu atau lebih gugus fenolik dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia seperti antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, antialergi, antiaterogenik, antihipertensi, antitrombotik, antikanker, kardioprotektif, osteoprotektif, neuroprotektif, anti penuaan, dan hepatoprotektif dan juga antibakteri, antitoksin. Polifenol juga digunakan sebagai pengawet alami dalam industri makanan karena sifat antioksidan dan antimikrobanya. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa ekstrak tumbuhan yang kaya akan polifenol dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur pathogen sehingga secara klinis dapat bertindak sebagai alternatif antibakteri alami. Polifenol juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap sejumlah besar bakteri (termasuk bakteri gram positif dan gram negatif) dan jamur (Manso et al., 2021). 

Sehingga berdasarkan beberapa hal diatas maka peneliti menduga bahwa bahan pangan seperti kentos kelapa dengan kandungan nutrisi yang cukup banyak dapat memberikan manfaat bagi tubuh dan dapat menjadi solusi yang mengarah pada pengembangan nutraceuticals untuk meningkatkan harapan hidup manusia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mencari tau kandungan proksimat, kandungan polifenol total, dan uji aktivitas antibakteri  kentos kelapa (Cocos nucifera) yang berpotensi sebagai antibakteri alami dalam menghambat pertumbuhan mikroba.

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1.       Berapakah kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan serat yang terkandung dalam kentos kelapa (Cocos nucifera)?

2.       Berapakah kadar polifenol total yang terkandung dalam ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera)?

3.       Apakah ektrak kentos kelapa (Cocos nucifera) memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Escherichia coli?

4.       Pada konsentrasi berapa ekstrak kentos kelapa dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara optimal?

C.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang hendak di capai pada penelitian ini adalah:

1.       Untuk mengetahui kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan serat yang terkandung dalam kentos kelapa.

2.       Untuk mengetahui berapa kadar polifenol total yang terkandung dalam ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera).

3.       Untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kentos kelapa terhadap bakteri Escherichia coli.

4.       Untuk mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak kentos kelapa dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara optimal.

D.    Manfaat Penelitian

1.   Manfaat Teoritis

    Penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan tentang kandungan proksimat, kandungan polifenl total dan uji aktivitas antibakteri dalam kentos kelapa  (Cocos nucifera) terhadap bakteri Escherichia coli.

2.   Manfaat Praktis

a.       Bagi ilmu pengetahuan

Dapat memberikan informasi yang dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah mengenai manfaat kentos kelapa  (Cocos nucifera)

b.       Bagi institusi

Meningkatkan kredilibilitas institusi Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya sebagai pemanfaatan tanaman bahan alam lokal.

c.       Bagi Peneliti

Meningkatkan kemampuan peneliti dalam keilmuan terkhusus dalam bidang fitokimia dan mikrobiologi.

E.    Kebaruan Penelitian

Berdasarkan kajian literatur peneliti belum menemukan penelitian yang sama mengenai “Analisis Proksimat, Penentuan Kadar Polifenol Total dan Uji Aktivitas Antibakteri Kentos Kelapa (Cocos nucifera) Medukung Pangan Fungsional Masyarakat Sulawesi Tenggara”. Adapun  penelitian terkait Judul ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1. Kebaruan Penelitian

No

Judul Penelitian

Persamaan

Perbedaan

1.

Adzimahtinur, (2020). Aktivitas Antianemia Filtrat Limbah Kentos Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Natrium Nitrit

Sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera)

Pada penelitian sebelumnya untuk  mengetahui aktivitas anti anemia dari limbah kentos kelapa (Cocos nucifera) terhadap mencit yang diinduksi natrium nitrit. Pada penelitian yang akan dilakukan memanfaatkan ekstrak kentos kelapa untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri kentos kelapa dan kandungan senyawa metabolit primer dan sekunder.

2.

Arief, (2020). Pengaruh Ekstrak Kentos Kelapa(Cocos nucifera) Terhadap Penurunan Immobility Time Sebagai Antidepresan Pada Mencit (Mus musculus)

sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera)

pada penelitian sebelumnya dilakukan pengujian menggunakan ekstrak kentos kelapa untk mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) memberikan efek antidepresan pada mencit (Mus musculus). Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) memberikan efek antibakteri pada Escherichia coli

3.

Arunaksharan, (2023). Proximate Composition, Antioxidant, Anti-Inflammatory and Anti-Diabetic Properties of the Haustorium from Coconut (Cocos Nucifera L.)and Palmyra Palm (Borassus Flabellifer L.)

sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera).

Pada penelitian sebelumnya dilakukan pengujian menggunakan ekstrak kentos kelapa untk mengetahui aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan antidiabetes dari kentos kelapa  (Cocos nucifera). Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui aktivitas antibakteri.

4.

Valli, S, (2020). Bioprospecting and Therapeutic Applications of Cocos nucifera L. Sprouts

Sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera)

pada peelitian sebelumnya dilakuka pengujian dengan membandingkan fitokonstituen dan bioefikasi daging kelapa (endosperm seluler) dan kecambahnya (haustorium

) menggunakan bioassay yang mengarah pada pengembangan obat baru yang merekomendasikan pengembangan nutraceuticals dan pengujian antibakteri ekstrak metanol kentos kelapa menggunakan dengan metode difusi sumuran menunjukan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, dan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui aktivitas antibakteri Escherichia coli

5.

Kolondam, (2023). Potential Antioxidant Activity Of Coconut Kentos Flour (Cocos nucifera L.) And Application In Biscuits

Sama sama menggunakan sampel yang sama yaitu Kentos kelapa (Cocos nucifera)

pada penelitian sebelumnya melihat potensi aktivitas antioksidan tepung kentos kelapa (Cocos nucifera) dan aplikasinya pada biskuit. Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan ekstrak Kentos kelapa (Cocos nucifera) untuk mengetahui aktivitas antibakteri Escherichia coli

 

 

 

 

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Teoritis Variabel Bebas

1.     Sulawesi Tenggara

a.     Geografi dan Iklim

Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Secara astronomis terletak di bagian Selatan Garis Khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan di antara 02⸰45' -  06⸰15'  Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara 120⸰45' - 124⸰45' Bujur Timur. Luas wilayah Sulawesi Tenggara, adalah berupa daratan seluas 38.067,7 km2.

Berdasarkan posisi geografisnya. Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi NTT di Laut Flores, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Maluku di Laut Banda dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan di Teluk Bone.

   Gambar 1. Peta Sulawesi Tenggara (Yahya,dkk, 2019)

 

Berdasarkan topografi menunjukkan bahwa Sulawesi Tenggara umumnya memiliki permukaan tanah yang bergunung, bergelombang dan berbukit-bukit. Diantara gunung dan bukit-bukit, terbentang dataran-dataran yang merupakan daerah potensial untuk pengembangan sektor pertanian. Permukaan tanah pegunungan telah banyak digunakan untuk usaha. Tanah ini sebagian besar berada pada ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut dan pada kemiringan tanah yang mencapai 40 derajat. Sulawesi Tenggara memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Musim Kemarau terjadi antara bulan Juni dan September, dimana angin Timur yang bertiup dari Australia tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya musim hujan terjadi antara bulan Desember dan Maret, dimana angin Barat yang bertiup dari Benua Asia dan Samudera Pasifik banyak mengandung uap air sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti itu berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April - Mei dan Oktober - November. Tinggi rendahnya suhu udara dipengaruhi oleh letak geografis wilayah dan ketinggian dari permukaan laut. Sulawesi Tenggara yang terletak di daerah khatulistiwa dengan ketinggian pada umumnya di bawah 1.000 meter, sehingga beriklim tropis. Pada tahun 2015, suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 28⸰C - 34⸰C, dan suhu minimum rata-rata berkisar antara 22⸰C - 25⸰C (Mardiyanto, 2016).

b.     Kependudukan

Dengan luas wilayah 38.067 km2, secara rata-rata setiap km2 wilayah Sulawesi Tenggara ditinggali sekitar 66 orang penduduk dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga sebanyak 4 orang seiring dengan persebaran penduduk tiap kabupaten/kota. Kota Kendari dengan persentase penduduk sebesar 13,90 persen memiliki tingkat kepadatan tertinggi mencapai 1.154,89 jiwa/km2. Sementara tingkat kepadatan terendah di Kabupaten Konawe Utara sebesar 11,45 jiwa/Km2 dengan persentase penduduk sebesar 2,34%.

Dilihat dari piramida penduduk Sulawesi Tenggara tahun 2015 dikategorikan sebagai tipe ekspansif dengan sebagian besar penduduk berada pada kelompok umur muda. Hal ini mengindikasikan angka kelahiran yang cukup tinggi dan ditunjukkan oleh lebarnya dasar piramida. Disisi lain, angka kematian juga terlihat masih tinggi, yang ditunjukkan oleh semakin kecilnya puncak piramida (Mardiyanto, 2016).

c.     Potensi Alam

Ragam produksi tanaman hortikultura di Sulawesi Tenggara cukup bervariasi. Untuk tanaman sayuran, terdapat bawang merah, cabai rawit, kubis, kacang panjang, petsai/sawi, cabai besar, bawang daun, tomat, terung, buncis, ketimun, dan lainnya. Terung dan kacang panjang menghasilkan produksi yang dominan utuk tanaman sayuran. Sedangkan Tanaman pangan yang diusahakan di Sulawesi Tenggara hanya delapan jenis tanaman yang utama yaitu; padi sawah, padi ladang, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Dari delapan jenis tanaman pangan, padi sawah mendominasi produksi tanaman pangan di Sulawesi Tenggara. Sentral produksi padi berada di Kabupaten Konawe, dengan total produksi mencapai 234.169 ton di tahun 2015 atau 35,44 persen dari total produksi Sulawesi Tenggara. Untuk tanaman ubi kayu banyak dihasilkan di Kabupaten Buton. Untuk tanaman jagung dan ubi jalar banyak dihasilkan di Kabupaten Muna, kedelai di Kabupaten Konawe Selatan.

Untuk tanaman buah-buahan, jeruk, pisang, mangga, dan rambutan menjadi tanaman yang banyak dihasilkan di Sulawesi Tenggara. Produksi keempat tanaman buah-buahan tersebut masing-masing 511.914 kuintal, 288.804 kuintal, 257.755 kuintal, dan 115.862 kuintal. Dalam bidang perkebunan, kakao menjadi komoditi perkebunan yang dominan dihasilkan di Sulawesi Tenggara. Tahun 2015 produksi kakao sebesar 135.932 ton, dari luas tanam 255.468 hektar. Selain kakao, terdapat tanaman kelapa, jambu mete, dan cengkeh yang produksinya juga tergolong besar, masing-masing sebesar 41.850 ton, 32.863 ton, dan 18.874 ton.

Produksi daging dari hewan ternak di Sulawesi Tenggara tahun 2015 menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya, dari 17.036.290 kg di tahun 2014 menjadi 17.675.796 kg di tahun 2015. Meski secara keseluruhan meningkat, terjadi penurunan produksi untuk daging sapi potong, dari 4.374.246 kg menjadi 3.692.959 kg. (Mardiyanto, 2016).

2.     Pangan Fungsional

a.     Sejarah dan defenisi

Istilah pangan fungsional pertama kali diciptakan di Jepang pada tahun 1984, saat pemerintah Jepang menginvestasikan Yen dalam jumlah yang besar, untuk meneliti pangan fungsional atau pangan yang spesifik berperan positif terhadap kesehatan manusia. Pemerintah Jepang kemudian secara resmi mencatat dalam lembaran negara tentang pangan fungsional dan dikenal dengan FOSHU (Food for specified health used). Saat istilah pangan fungsional bermigrasi ke Eropa, pangan fungsional didefenisikan sebagai produk makanan ataupun minuman yang kandungan nutrisinya memiliki manfaat lebih kepada manusia melampaui kandungan nutrisinya saja, baik untuk meningkatkan status kesehatan maupun untuk mencegah terjadinya berbagai kasus penyakit yang mungkin terjadi (Abbas, 2020).

Pangan fungsional adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan, serta dikonsumsi sebagai mana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna dan tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen, tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberikan efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya. Meenurut Abbas (2020)  pangan fungsional adalah pangan olahan yang tidak hanya mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu tetapi juga memiliki beberapa atribut tertentu untuk dapat dikategorikan ke dalam kelompok spesifik ini. Menurut American Dietetic Association (ADA), yang termasuk pangan fungsional tidak hanya pangan alamiah tetapi juga pangan yang telah difortifikasi atau diperkaya dan memberikan efek potensial yang bermanfaat untuk kesehatan jika dikonsumsi sebagai bagian dari menu pangan yang bervariasi secara teratur pada dosis yang efektif (Anam, dkk, 2019).

b.     Fungsi

Menurut Sirajuddin (2012) pangan fungsional merupakan pangan yang mempuyai tiga fungsi yaitu fungsi primer, maksudnya makanan tersebut memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan (karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral); fungsi sekunder maksudnya makanan tersebut bisa diterima konsumen secara sensoris serta fungsi tersier maksudnya makanan memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan, mengurangi terjadinya suatu penyakit dan menjaga metabolisme tubuh.

Pada umumnya, secara alamiah hampir setiap bahan pangan memiliki komponen bioaktif dan relatif aman sebagai sumber nutrisi (Zhang et al., 2019). Namun ada beberapa atribut yang harus dimiliki oleh suatu bahan pangan hingga dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional. Secara umum, setidaknya terdapat lima kelompok besar kategori pangan fungsional, antara lain;

a) bahan pangan yang kandungan nutrisi dasarnya dikurangi atau ditingkatkan, misalnya sereal yang telah ditambahkan vitamin, minuman yang telah difortifikasi dengan vitamin antioksidan serta produk sapi perah yang telah dikurangi kadar lemaknya,

b) produk yang secara alamiah tidak memiliki nutrisi tertentu lalu ditambahkan ke dalamnya, misalnya penambahan serat ke dalam  jus buah, asam folat yang ditambahkan ke dalam  margarin serta cemilan yang diperkaya stanol untuk menekan penyerapan kolesterol,

c) produk berbahan dasar susu difermentasi dengan probiotik yang diseleksi berdasarkan kemampuan fungsionalnya untuk membantu proses pencernaan dan mencegah infeksi, beberapa produk telah ditambahkan oligosakarida untuk mendukung pertumbuhan bakteri tersebut,

d) produk yang secara khusus diformulasikan untuk kebutuhan tertentu misalnya minuman untuk olahragawan ataupun sereal yang dibuat secara khusus untuk  melepaskan   karbohidrat dan menyuplai energi dalam jangka waktu yang cukup lama,

 e) bahan pangan yang mengandung bahan herbal untuk membantu mengatasi beragam masalah kesehatan (Abbas, 2020).

c.     Komponen Bioaktif Dalam Pangan Fungsional

Dalam peraturan Badan POM No.HK.00.05.52.0685 tahun 2005 pasal 1 ayat 3 disebutkan bahwa pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. Lebih jauh, pada pasal 5 dalam peraturan ini merinci terdapat 14 kelompok kandungan bioaktif dalam suatu bahan pangan sehingga dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional, secara rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini  :

Tabel 2. Daftar Komponen Bioaktif dalam Pangan Fungsional

No

Komponen Bioaktif

Sumber Utama

1.

Vitamin

wortel, susu, jeruk sitrun, keju, telur, gandum, daging, hati, kacang ragi

2.

Mineral

Daging, kacang-kacangan, alga, sayur dan buah

3.

Gula Alkohol

Jagung

4.

Asam lemak tak jenuh

minyak ikan

5.

Peptida dan protein tertentu

rumput laut, daging,susu, telur

6.

Asam amino

daging, telur, susu, alga

7.

Serat pangan

sayuran,buah kelapa

8.

Prebiotik

Oats, pisang, buah berry, asparagus, bawang merah, bawang putih

9.

Probiotik

Daging, susu, sayuran dan buah

10.

Kolin, Lesitin dan Inositol

Daging, sayuran

11.

Karnitin dan Skualen

Minyak ikan

12.

Isoflavon,

Kacang kedelai  daun katuk

13.

Fitosterol dan Fitostanol

Kacang tanah, daun katuk, buah delima

14.

Polifenol

Alga, buah pisang, daun katuk, manggis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.     Tumbuhan Kelapa (Cocos nucifera)

a.     Klasifikasi

      Dalam tata nama tumbuhan (taksonomi), tumbuhan kelapa diberi nama Cocos nucifera yang secara lengkap pengklasifikasiannya yaitu sebagai berikut :

             Tabel 3. Klasifikasi Kelapa (Mardiatmoko, 2018).

Kingdom

:

Plantae (Tumbuhan)

Sub Kingdom

:

Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi

:

Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Super Divisi

:

Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Kelas

:

Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

:

Arecidae

Ordo

:

Arecales

Famili

:

Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus

:

Cocos

Spesies

:

Cocos nucifera L.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelapa (Cocos mucifera L.) adalah komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini di manfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga di anggap sebagai tumbuhan serta guna, khususnya bagi masyarakat pesisir (Mardiatmoko, 2018).

b.     Morfologi

Bagian-bagian dari pohon kelapa yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah. 

 

                                       Gambar 2. Pohon kelapa (Marditmoko dkk, 2018)

 

1. Akar

     Tanaman kelapa memiliki perakaran yang kuat. Akarnya bertipe serabut seb

aga imana tanaman monokotil lain. Jumlah akar serabut berkisar antara 2.000- 4.000, tergantung kesehatan tanaman. Sebagian akar tumbuh mendatar dekat permukaan tanah, kadang-kadang mencapai panjang 15 m, dan sebagian lagi masuk sampai kedalaman 2-3 m. Akar tanaman kelapa tidak mampu menembus tanah yang keras. Akar serabut tanaman kelapa memiliki tebal rata-rata 1 cm (Muthia, 2019).

2.   Batang

     Tanaman kelapa hanya mempunyai satu titik tumbuh terletak pada ujung dari batang, sehingga tumbuhnya batang selalu mengarah ke atas dan tidak bercabang. Tanaman kelapa tidak berkambium, sehingga tidak memiliki pertumbuhan sekunder. Luka-luka pada tanaman kelapa tidak bisa pulih kembalih karena tanaman kelapa tidak membentuk kalus (callus). Batang berangsur-angsur memanjang disebelah ujung yang berturut-turut tumbuh daun yang berukuran besar dan lebar pada pertingkatan tumbuhan tertentu, dari ketiak-ketiak daun secara berangsur-angsur keluar karangan bunga. Bagian batang yang sebenarnya dari tanaman yang masih mudah baru kelihatan jelas kalau tanaman kelapa telah berumur 3-4 tahun, bilamana daun-daun terbawah telah gugur (Muthia, 2019).

3.   Daun

     Struktur daun kelapa terdiri atas tangkai (pelepah) daun, tulang poros daun, dan helai daun. Tangkai daun terletak dibagian pangkal dengan bentuk melebar sebagai tempat melekat tulang poros daun. Daun kelapa bersirip genap dan bertulang sejajar. Helai daun berbentuk menyirip, berjumlah 100-130 lembar. Letak daun mengelilingi batang. Tajuk dan terdiri atas 20-30 buah pelepah. Pada pohon yang sudah dewasa panjang pelepah antara 5-8 m dengan berat rata-rata 15 kg. Jumlah anak daun 100-130 lembar (50-65) pasang (Muthia, 2019).

4.   Bunga

     Umumnya tanaman kelapa mulai berbunga pada umur 6-8 tahun. Namun sekarang banyak jenis tanaman kelapa yang berbuah lebih cepat yaitu kelapa hibrida, yang mulai berbunga pada umur 4 tahun. Bunga kelapa pada dasarnya merupakan bunga tongkol yang dibungkus selaput upih yang keluar dari sela-sela pelepah daun. Bunga akan terbuka namun upihnya mengering lalu jatuh. Upih yang kering dan jatuh disebut mancung. Bunga kelapa tergolong bunga serumah (Monoecious), artinya alat kelamin jantan dan betina terdapat pada satu bunga (Muthia, 2019).

5.   Buah

     Pertumbuhan tanaman kelapa dibagi kedalam tiga fase : Fase1, berlangsung selama 4-6 bulan. Pada fase ini bagian tempurung dan sabut hanya membesar dan masih lunak. Lubang embrio juga ikut membesar dan berisi penuh air. Fase 2, berlangsung selama 2-3 bulan. Pada fase ini tempurung berangsur-angsur menebal tetapi belum keras betul. Fase 3, pada fase ini putih lembaga atau endosperm  sedang dalam penyusunan, yang dimulai dari pangkal buah berangsur-angsur menuju ke ujung. Pada bagian pangkal mulai tampak bentuknya lembaga, warna tempurung berubah dari putih menjadi coklat kehitaman dan bertambah keras (Muthia sari, 2019).   

4.     Kentos Kelapa atau Haustorium Kelapa

     Salah satu bagian kelapa yang belum dimanfaatkan dengan baik adalah bagian kentos buah kelapa. Kentos kelapa biasanya disebut juga dengan tombong kelapa, gendos, haustorium, coconut sprout merupakan bagian lembaga (embrio) tanaman kelapa yang terdapat di bagian dalam buah kelapa. Pada beberapa daerah kentos kelapa masih dipandang sebagai sampah/limbah, padahal kentos kelapa memiliki kandungan yang berpotensi menjadi obat. Kentos kelapa merupakan cikal bakal pembentukan tunas kelapa, berbentuk bulat dan terdapat di dalam buah kelapa yang sudah tua. Kentos ini merupakan cadangan makanan dan merupakan lembaga yang akan tumbuh menjadi calon individu baru.

     Gambar 3.  Kentos kelapa (Dokumentasi Pribadi)

               Beberapa penelitian tentang pengolahan kentos sudah pernah dilakukan. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kentos bisa dijadikan substrat untuk minuman wine dengan hasil yang cukup baik, karena kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Ada juga penelitian yang mengolah ekstrak kentos menjadi minuman non-alcohol (squash) dengan hasil yang menyatakan bahwa sari buah kentos ini bisa digunakan oleh penderita kanker dan juga penderita darah tinggi. Penelitian lain menunjukkan bahwa kentos juga bisa digunakan sebagai obat herbal (fitomedicine). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh mempelajari tentang kondisi optimum enzim lipase kasar dari kentos kelapa. Berkaitan dengan enzim ini, menjadikan kentos sebagai sumber enzim lipase yang digunakan untuk menghidrolisis lemak daging ayam. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kentos tidak berpengaruh nyata terhadap asam lemak bebas pada daging ayam (Mardeski et al., 2023). 

1.   Kandungan Kimia dan Manfaat Kentos Kelapa

Berdasarkan hasil penelitian terhadap moisture content kentos kelapa didapatkan nilai sekitar 86-89%. Selain itu dalam kentos kelapa juga mengandung abu, protein, lemak, pati, katbohidrat, serat, asam lemak, asam amino, dan mineral (Mansauda, et al., 2022).

               Sebanyak 100 g kentos kelapa kering mengandung sekitar 1% abu,25%pati, 5,6%protein, 2%lemak, 26% serat (6% serat makanan larut, dan  20% serat makanan tak larut). Nilai pati pada kentos kelapa yang dikupas lebih tinggi (sekitar 21 g/100g kentos kelapa kering) dibandingkan dengan haustorium kelapa yang tidak dikupas (sekitar 15 g/100g kentos kelapa kering). Karbohidrat dalam kentos kelapa berkisar 67g/100g kentos kelapa kering  dimana sekitar 66% dari total karbohidrat adalah gula sederhana yang larut (sebanyak 64% gula tersebut terdiri dari glukosa dan fruktosa). Disamping itu  pada  kentos  kelapa  juga mengandung asam lemak dan asam-asam amino (Mansauda, et al., 2022).

                Menurut penelitian dari Zhang (2022) terdapat 25 senyawa volatil yang dapat diidentifikasikan pada kentos kelapa sebelas diantaranya adalah aldehida, lima asam, tiga alkohol, tiga keton, dua ester, dan satu pirazin dengan asam sebagai kandungan yang paling dominan yakni sekitar (26.90 – 60.82%), kemudian  aldehida  (2.68 –17.43%), dan alcohol (5.59–16.18%). Hasil uji menggunakan GC-MS  menunjukkan didalam  kentos   kelapa   terkandung   senyawa triazol, fenol, flavonoid,  monosakarida,  metil ester, quinoxaline,  triterpenoid, dan asam  askorbat,  dan  sebagainya (Mansauda, et al., 2022)

               Menurut beberapa penelitian, kentos sangat baik untuk kesehatan karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, rendah kalori, dan juga memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Kentos mengandung 44,2% gula, 24,5% pati, 5,5% protein, 1,99% lemak, 5,72% serat, dan juga mengandung beberapa mineral seperti K, Mg, Ca, Mn, Cu, Fe, dan Zn. Selain itu, kentos mengandung antioksidan, dan juga beberapa asam amino seperti metionin + sistein (57,6%), fenialanin tirosin (32,6%), leusin (45,7%), dan isoleusin (68%). Oleh karena kandungan nutrisi kentos yang cukup banyak tersebut, maka mengkonsumsi kentos bisa memberikan beberapa manfaat untuk tubuh. Manfaat tersebut antara lain meningkatkan kerja otak, membantu menghasilkan energi, mencegah anemia, melawan radikal bebas, menjaga kesehatan jantung, makanan alternatif untuk pengidap intoleransi laktosa, meringankan depresi. Penelitian dari Azis dan Lawan (2020) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol 96% kentos kelapa kepada mencit dapat menghasilkan penurunan dalam waktu immobilitas yang merupakan indikator perilaku  depresi. Penelitian tentang aktivitas antianemia kentos kelapa juga menunjukkan bahwa pemberian filtrat kentos kelapa  menghasilkan  peningkatan  kadar  hemoglobin  yang  signifikan  dan  jumlah  sel  darah  merah  pada mencit yang diinduksi natrium nitrit. Pada riset penelitian (Narayanankutty et al.  2023) aktivitas antioksidan ekstrak kentos kelapa telah dianalisis menggunakan aktivitas penghambatan oksidan  DPPH (dengan  nilai  IC50 yakni sekitar 28 μg/mL),  hidrogen  peroksida  (dengan nilai  IC50 yakni sekitar 44 μg/mL), dan penghambatan peroksidasi lipid secara ex vivo (dengan nilai IC50 yakni sekitar 83 μg/mL). Penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi dimana nilai IC50 dari uji penghambatan LPX (lipoxygenase) adalah sekitar 54 μg/mL dan nilai IC50 untuk pengambatan radikal nitrat oksida adalah sekitar  87  μg/mL  (Mardesci et al., 2023).

               Pada riset penelitian antibakteri ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera) mengandung  flavonoid  dan  asam  askorbat  yang  bertindak  sebagai  agen antibakteri alami. Pengujian antibakteri ekstrak metanol kentos kelapa menggunakan dengan metode difusi sumuran menunjukan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, dan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa (Mardesci et al., 2023).

Manfaat terapetik kentos kelapa (Cocos nucifera) menurut beberapa penelitian yaitu antidepresan, antianemia, kardioprotektf, antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, antidiabetes, dan antitukak (Mansauda, et al., 2022). 

 

 

 

B.  Tinjauan Teoritis Variabel Terikat

1.  Bakteri Escherichia coli

     1.1 Morfologi dan Taksonomi

               Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri yang hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan, Escherichia coli merupakan bakteri anaerobik fakultatif yang dapat tumbuh pada keadaan aerob maupun anaerob, bakteri yang tergolong dalam anaerob fakultatif merupakan bakteri patogen yang sering dijumpai. Escherichia coli memiliki bentuk batang pendek (coccobasil) dengan ukuran 0,4-0,7 µm x 1,4 µm, bersifat motil (dapat bergerak), tidak memiliki nukleus, organel eksternal maupun sitoskeleton tetapi memiliki organel eksternal yakni vili yang merupakan filamen tipis dan lebih panjang (Romadhon, 2016).

                                Gambar 4.   Escherichia coli (Riani, 2021)

                        Gambar 5. Struktur dan Antigen Bakteri Escherichia coli (Romadhon, 2016)

Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang memilik 150 tipe antigen O, 50 tipe antigen H, dan 90 tipe antigen K beberapa antigen O dapat dibawa oleh mikroorganisme sehingga sama seperti yang dimiliki Shigella. Terkadang penyakit spesifik berhubungan dengan antigen O, yang dapat ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih dan diare (Romadhon, 2016).

Menurut Jawetz (2007) bakteri Escherichia coli memiliki taksonomi sebagai berikut :

   Tabel 4. Klasifikasi Bakteri Escherichia coli

 

Kingdom

:

Procaryotae

Divisi

:

Gacilicutes

Kelas

:

Scotobacteria

Ordo

:

Eubacteriales

Famili

:

Euteroactericea

Genus

:

Escherichia

Spesies

:

Escherchia coli

 

Escherichia coli memfermentasikan laktosa dan memproduksi indol yang digunakan untuk mengidentifikasikan bakteri pada makanan dan air. Escherichia coli berbentuk sirkular, konveks dan koloni tidak berpigmen pada nutrient dan media darah. Escherichia coli dapat bertahan hingga suhu 600C selama 15 menit atau pada suhu 550C selama 60 menit. Escherichia coli tumbuh baik pada temperatur antara 8°- 46°C dan temperatur optimum 37°C. Bakteri yang dipelihara di bawah temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur maksimum, tidak akan segera mati melainkan berada di dalam keadaan tidur atau dormansi (Romadhon, 2016).

Pada umumnya bakteri Escherichia  coli  hanya mengenal satu macam pembiakan yaitu dengan cara seksual atau vegetatif. Pembiakan ini berlangsung cepat, apabila faktor-faktor luar menguntungkan bagi dirinya. Apabila faktor-faktor luar menguntungkan, maka setelah terjadi pembelahan, sel-sel baru tersebut akan membesar sampai masing masing menjadi sebesar sel induknya (Melliawati, 2009). Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor luar tetapi sebaliknya bakteri mampu mempengaruhi keadaan lingkungannya, misalnya dapat menyebabkan demam (panas) akibat terinfeksi oleh bakteri Escherichia coli yang ada dalam saluran pencernaan dan menyebabkan diare yang berkepanjangan. Jika Escherichia coli berada dalam medium yang mengandung sumber karbon (glukosa, laktosa, dsb) maka akan mengubah derajat asam (pH) dalam medium menjadi asam dan akan membentuk gas sebagai hasil proses terurainya glukosa menjadi senyawa lain (Riani, 2021).

        1.2. Patogenesis Escherichia coli

Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri Coliform dan hidup dalam saluran pencernaan manusia sehingga bakteri Escherichia coli termasuk dalam flora normal usus. Tetapi jika bakteri Escherichia coli ini ditemukan pada makanan dan minuman dapat dikatakan bahwa pengolahan makanan tersebut sudah tercemar atau berkontak dengan kuman dikarenakan kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Pada kondisi yang telah menimbulkan gejala seperti diare dapat dipengaruhi oleh jumlah koloni pada saluran pencernaan dan karakteristik virulensinya. Berdasarkan sifat virulensinya bakteri Escherichia coli digolongkan menjadi beberapa golongan yaitu:

 

a)   Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC)

EPEC penyebab penting diare pada bayi, khususnya di negara berkembang. EPEC sebelumnya dikaitkan dengan wabah diare pada anak-anak di negara maju. EPEC melekat pada sel mukosa usus kecil. Faktor yang diperantarai secara kromosom menimbulkan pelekatan yang kuat. Akibat dari infeksi EPEC adalah diare cair yang biasanya sembuh sendiri tetapi dapat juga kronik. Lamanya diare EPEC dapat diperpendek dengan pemberian anibiotik. Diare terjadi pada manusia, kelinci, anjing, kucing dan kuda. Seperti ETEC, EPEC juga menyebabkan diare tetapi mekanisme molekular dari kolonisasi dan etiologi adalah berbeda. EPEC sedikit fimbria, ST dan LT toksin, tetapi EPEC menggunakan adhesin yang dikenal sebagai intimin untuk mengikat inang sel usus. Sel EPEC invasif (jika memasuki sel inang) dan menyebabkan radang (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).

b)   Escherichia coli Enterotoksigenik (ETEC)

ETEC penyebab yang sering dari “diare wisatawan” dan penyebab diare pada bayi di negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil. Lumen usus terengang oleh cairan dan mengakibatkan hipermortilitas serta diare, dan berlangsung selama beberapa hari. Beberapa strain ETEC menghasilkan eksotosin tidak tahan panas. Prokfilaksis antimikroba dapat efektif tetapi bisa menimbulkan peningkatan resistensi antibiotic pada bakteri, mungkin sebaiknya tidak dianjurkan secara umum. Ketika timbul diare, pemberian antibiotic dapat secara efektif mempersingkat lamanya penyakit. Diare tanpa disertai demam ini terjadi pada manusia, babi, domba, kambing, kuda, anjing, dan sapi. ETEC menggunakan fimbrial adhesi (penonjolan dari dinding sel bakteri) untuk mengikat sel-sel enterocit di usus halus. ETEC dapat memproduksi 2 proteinous enterotoksin : dua protein yang lebih besar, LT enterotoksin sama pada struktur dan fungsi toksin kolera hanya lebih kecil, ST enterotoksin menyebabkan akumulasi cGMP pada sel target dan elektrolit dan cairan sekresi berikutnya ke lumen usus. ETEC strains tidak invasive dan tidak tinggal pada lumen usus (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).

c)   Escherichia coli Enteroinvasif (EIEC)

EIEC menimbulkan penyakit yang sangat mirip dengan shigelosis. Penyakit yang paling sering pada anak-anak di negara berkembang dan para wisatawan yang menuju negara tersebut. Jalur EIEC bersifat non-laktosa atau melakukan fermentasi laktosa dengan lambat serta bersifat tidak dapat bergerak. EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus. Diare ini ditemukan hanya pada manusia (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).

d)   Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)

Menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksinya pada sel Vero, suatu sel hijau dari monyet hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenic dari toksin. EHEC berhubungan dengan holitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan sindroma uremia hemolitik, suatu penyakit akibat gagal ginja akut, anemia hemolitik mikroangiopatik, dan trombositopenia. Banyak kasus EHEC dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang. Diare ini ditemukan pada manusia, sapi, dan kambing (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).

e)   Escherichia coli Enteroagregatif (EAEC)

EAEC menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di negara berkembang. Bakeri ini ditandai dengan pola khas pelekatannya pada sel manusia. EAEC memproduksi hemolisin dan ST enterotoksin yang sama dengan ETEC (Nurmila & Kusdiyantini, 2018).

            1.3 Keuntungan dan Kerugian Escherichia coli

            Di dalam lingkungan dan kehidupan kita, bakteri Escherichia coli banyak dimanfaatkan di berbagai bidang, baik pertanian, peternakan, kedokteran maupun dikalangan industri. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, Escherichia coli telah banyak diketahui baik sifat morfologi, fisiologi maupun pemetaan DNAnya, sehingga bakteri ini dipakai untuk menyimpan untaian DNA yang dianggap potensial, baik dari tanaman, hewan maupun mikroorganisme dan sekaligus untuk perbanyakannya. Dengan diketahuinya bahwa Escherichia coli dapat dipakai untuk menyimpan untaian DNA yang potensial, maka hal ini membuka kesempatan untuk mempelajari sifat dan karakter dari mikroba lain yang tentunya memberikan dampak yang positif untuk kemajuan di bidang kedokteran, pertanian maupun industri. Dibidang pertanian telah dilaporkan bahwa beberapa tanaman tidak tahan terhadap suatu penyakit atau serangan hama, namun bantuan Escherichia coli sebagai inang yang membawa gen yang tahan terhadap penyakit atau hama tertentu, maka hal itu dapat diatasi sehingga perkembangan di bidang pertanian tidak terhambat (Riani, 2021).

            Escherichia coli adalah anggota flora normal usus, menghasilkan kolisin yang dapat melindungi saluran pencernaan dari bakteri usus yang patogenik. Escherichia coli berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen pigmen empedu, asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. Escherichia coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat oganik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Riani, 2021).

             Keberadaan Bakteri Escherichia coli disamping dapat membantu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan juga dimanfaatkan di berbagai bidang ilmu, bakteri. Escherichia coli juga dapat membahayakan kesehatan. Escherichia coli menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkat atau berada di luar usus. Manifestasi klinik infeksi oleh Escherichia coli bergantung pada tempat infeksi dan tidak dapat dibedakan dengan gejala infeksi yang disebabkan oleh bakteri lain (Riani, 2021).

2.     Antibakteri

Antibakteri adalah obat pembasmi bakteri khususnya bakteri yang merugikan manusia. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada bakteri yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri dan ada yang bersifat membunuh bakteri. Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri masing-masing dikenal sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM) antibakteri tertentu aktivitasnya dapat meningkat menjadi bakterisida bila kadar antibakterinya ditingkatkan melebihi KHM (Kumalasari, 2018).

Mekanisme kerja antibakteri yaitu sebagai berikut:

a. Kerusakan pada dinging sel. Bakteri memiliki lapisan luar yang dapat mempertahankan bentuk bakteri dan melindungi membran protoplasma di bawahnya.

b. Perubahan permeabilitas sel. Beberapa antibiotik mampu merusak atau memperlemah fungsi ini yaitu dengan memelihara integritas komponenkompenen seluler.

 c. Perubahan molekul protein dan asam nukleat. Suatu antibakteri dapat mengubah keadaan ini dengan mendenaturasikan protein dan asam-asam nukleat, sehingga merusak sel tanpa dapat diperbaiki lagi.

d. Penghambatan kerja enzim. Setiap enzim yang ada di dalam sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat, ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel (Kumalasari, 2018).

3.     Metode Uji Aktivitas Antibakteri

Uji aktivitas antibakteri bertujuan untuk mengetahui batas kepekaan suatu senyawa antibakteri terhadap suatu bakteri tertentu dan untuk menentukan potensi suatu zat yang diduga atau telah memiliki aktivitas sebagai antibakteri dalam larutan terhadap suatu bakteri. Macam-macam metode uji aktivitas antibakteri antara lain:

a.     Metode pengenceran

Pengenceran adalah suatu kegiatan untuk mengencerkan larutan yang bertujuan untuk memperoleh contoh dengan jumlah mikroba terbaik untuk dapat dihitung yaitu antara 30-300 sel mikroba per ml. Penegenceran merupakan proses yang dilakukan untuk menurunkan atau memperkecil konsentrasi larutan dengan menambah zat pelarut ke dalam larutan, sehingga volume berubah (Ayu Kumalasari, 2018).

b.     Difusi agar

Metode difusi digunakan untuk menentukan aktivitas agen antibakteri. Piringan yang berisi agen antibakteri diletakan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih pada permukaan media agar mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antibakteri (Pratiwi, 2008). Metode difusi agar dibedakan menjadi dua yaitu:

a.     Cara Kirby Bauer, Cara ini dilakukan untuk menetukan aktivitas agen antibakteri. Keunggulan uji difusi cakram agar mencakup fleksibilitas yang lebih besar dalam memilih obat yang akan diperiksa ( Sacher dan Mc Pherson, 2004).

b.     Cara sumuran, metode ini serupa dengan metode difusi disk, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antibakteri yang akan diuji (Pratiwi, 2008).

Gambar 5. Rumus perhitungan diameter Zona Hambat (Winastri dkk, 2020)

 

Menurut grcenwood (1995) efektifitas suatu zat antibakteri bisa diklasifikasikan pada tabel berikut:

  Tabel 5. Klasifikasi Penghambatan Pertumbuhan Bakteri (Winastri dkk, 2020)

 

Diameter Zona Hambat

Respon Hambatan Pertumbuhan

Lebih dari 20 mm

Sangat Kuat

10 sampai 19 mm

Kuat

5 sampai 10 mm

Sedang

5 mm

Lemah

 

c. Metode dilusi

Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu dilusi cair dan dilusi padat. Metode dilusi cair digunakan untuk mengukur KHM (Kadar Hambat Minimum) dan KBM (Kadar Bakterisidal Minimum). Cara yang dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antibakteri pada medium cair yang ditambahi dengan bakteri uji (Pratiwi, 2008). Metode ini serupa dengan dilusi cair tetapi menggunakan media padat (solid). Keuntungan metode ini ailah satu konsentrasi agen antibakteri yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa bakteri uji (Pratiwi, 2008).

4.     Metode Analisis Proksimat

Dalam upaya pengembangan bahan pangan maka diperlukan serangkaian proses agar diperoleh produk pangan yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomis yang lebih baik. Salah satu penentuan kualitas bahan makanan dan kaitannya dengan kebutuhan obyektif teknologi pengolahan maupun nilai gizi dapat dilakukan melalui analisis kadar makronutrien. Analisis makronutrien dapat dilakukan dengan analisis proksimat, yaitu merupakan analisis kadar yang meliputi kadar abu, kadar karbohidrat, kadar protein, kadar lemak, kadar abu dan kadar serat kasar.

Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian, kualitas pangan atau bahan makanan terutama zat yang terkandung didalamnya. Berdasarkan Syarat SNI dari kelima parameter yaitu, uji protein, kadar lemak, kadar air, kadar abu, dan karbohidrat sebagai berikut:


 

 

Tabel 6. Standar Analisis Proksimat (Hariyanti, 2022)

Parameter

Syarat SNI

Protein (%)

Minimal 9%

Lemak (%)

Minimal 9,5%

Kadar air (%)

Maksimal 5%

Kadar abu (%)

Maksimal 1,5%

Karbohidrat (%)

Minimal 70%

 

a.     Uji Kadar Air

Penetuan kadar air menggunakan metode thermogravimetri dengan prinsip menguapkan air yang ada pada bahan makanan dengan cara memanaskan kemudian menimbang bahan sehingga diperoleh bobot konstan. Pentingnya analisis kadar air, yaitu:

1.  Kadar air perlu diketahui untuk memenuhi standar komposisi serta peraturan   pangan,

2.  Kadar air memiliki kaitan dengan kualitas dan stabilitas bahan,

3. Kadar air dapat digunakan dalam menghitung komposisi bahan yang disajikan pada basis dry-matter (Hardiyanti, 2022).

b.     Uji Kadar Karbohidrat

Karbohidrat adalah sumber kalori utama bagi seluruh penduduk di dunia, khususnya bagi masyarakat diIndonesia. Karbohidrat memiliki peran yang penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, seperti rasa, warna, tekstur, dan lain-lain.90 Analisis karbohidrat dapat dilakukan dengan beberapa uji sebagai berikut:

a. Uji Benedict, uji ini untuk gula pereduksi/ gula inversi, seperti: glukosa dan fruktosa. Cara ujinya yakni, gula reduksi ditambahkan dengan campuran tembaga sulfat, Na sitrat, dan natrium karbonat lalu dipanaskan, maka akan menghasilkan endapan kupro oksida yang berwarna cokelat.

 b. Uji Fehling, uji ini mirip dengan uji Benedict. Gula reduksi ditambah campuran larutan tembaga sulfat dalam suasana alkalis dengan ditambah NaOH dan ditambah dengan chelating agent kalium-natrium tartar, lalu dipanaskan maka akan menghasilkan endapan kupro oksida yang berwarna merah cokelat. c. Uji Molisch, cara analisis uji ini ialah karbohidrat ditambah H2SO4 sedikit-sedikit melalui dinding. Asam sulfat lalu menyerap air dan akan membentuk furfural yang selanjutnya dikopling dengan α-naftol membentuk senyawa gabungan warna ungu karena ikatan konjugasinya bertambah panjang (Hardiyanti, 2022).

Metode yang digunakan untuk pengurangan gula langsung analisis yang ditentukan oleh BSN (Badan Standarisasi Nasional / Standardisasi Nasional Badan) melalui SNI 3547.1: 2008, tentang analisis metode reduksi gula (dihitung sebagai inversi gula) adalah metode Luff Schoorl. Kadar karbohidrat total bisa dilakukan secara by difference yaitu merupakan pengurangan dari jumlah protein total, lemak total, serat dan abu total kadar sampel dari 100% jumlah sampel. Pengukuran kadar karbohidrat total dalam sampel dihitung berdasarkan perhitungan (dalam %):

             % karbohidrat = 100% - %(protein + lemak + serat+abu).

c.     Uji Kadar Lemak

Lemak ialah senyawa organik yang terdapat di alam yang tidak larut dalam air namun larut dalam pelarut organik. Lemak memiliki fungsi sebagai pembentuk asam asam lemak, pembentuk struktur tubuh, sumber energi, pengemulsi, dan menhemat pemakaian protein sebagai energi. Menurut anjuran pedoman gizi seimbang, konsumsi lemak yang baik adalah 25% dari kebutuhan. Lemak dalam pangan adalah lemak yang terdapat dalam bahan pangan dan dapat digunakan oleh tubuh manusia.

Jumlah lemak dalam makanan dapat diukur dengan beberapa cara, diantaranya sebagai berikut:

a. Metode Kering, memiliki prinsip membungkus sampel dan ditempatkan dalam timbel, kemudian dikeringkan dalam oven vakum yang dapat menghilangkan air dalam sampel dengan suhu yang relative rendah.

b. Metode Soxhlet, prinsip metode ini mengekstraksi lemak minyak dalam sampel menggunakan pelarut yang selalu baru, sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut konstan yang didinginkan dengan pendingin balik.

c. Metode Goldfisch, metode ini hampir sama dengan metode soxhlet yang membedakan ialah labu ekstraksi yang dibuat sedemikian rupa sehingga pelarut hanya melewati sampel saja, tidak sampai merendam sampel (Hardiyanti, 2022).

d.     Uji Kadar Protein

Protein adalah salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti karbohidrat dan lemak, protein lebih berperan dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energi. Protein memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

 a. Penyusun senyawa biomolekul antara lain nukleoprotein, hormon, enzim, antibodi, dan sarana kontraksi otot.

b. Pengganti sel-sel pada jaringan yang rusak.

c. Pembentukan sel baru.

d. Sebagai sumber energi.

Pengukuran kadar protein pada olahan makanan dapat diukur dengan beberapa metode, diantaranya sebagai berikut:

1. Metode Lowry, prinsip metode ini adalah protein yang bereaksi dengan asam fosfotungstat-fosfomolibdat, akan membentuk warna biru yang intensitasnya bergantung pada konsetrasi protein dalam produk makanan. Kemudian konsentrasi tersebut diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 600 nm, sedangkan kurva standart protein dibuat dengan bovine serum albumin (BSA).

2. Metode Biuret, protein yang telah dilarutkan ditambah dengan pereaksi biuret (larutan CuSO4; kalium natrium tartrat; dan NaOH) maka akan menghasilkan warna biru lembayung.

3. Metode Turbiditimetri, digunakan untuk mengukur protein pada sampel cair saja, dan memiliki resiko kurang tepat. Prinsip metode ini adalah mengukur protein dengan mengendapkannya dengan menggunakan Asam Trikloro Asetik (TCA), Kalium Ferri Cianida (K4Fe(CN)6) atau asam sulfosalisilat. Tingkat kekeruhan diukur menggunakan alat turbidimeter dan standar kurva kekeruhan.

4. Metode Kjeldahl, metode ini merupakan metode yang sederhana dalam penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Metode Kjeldahl dipilih karena cocok untuk menetapkan kadar protein yang tidak terlarut atau protein yang telah mengalami koagulasi akibat proses pemanasan maupun proses pengolahan lain yang biasanya dilakukan pada makanan. Metode Kjeldahl memiliki 3 tahapan yang dilaluinya, yaitu tahap pertama adalah tahap destruksi atau penghancuran senyawa menjadi unsur-unsurnya. Kemudian tahap kedua adalah tahap destilasi atau penyulingan, sedangkan tahap terakhir yaitu titrasi. Pada tahap titrasi akan mengalami perubahan warna larutan menjadi merah muda dan perhitungan kadar protein dalam bentuk persen (Hardiyanti, 2022).

e.     Uji Kadar Abu

Abu merupakan indikator kasar dari kadar mineral yang terdapat dalam suatu makanan. Pengukuran kadar abu dalam makanan menggunakan prinsip gravimetri atau penimbangan berat yang telah diatur dalam metode SNI 01- 2354.1-2010. Prinsip metode ini ialah olahan makanan di hancurkan dan dioksidasi dengan pemanasan suhu tinggi (550οC), dan sisa berat sampel setelah pembakaran dihutung selisihnya dengan sampel awal (Hardiyanti, 2022).

f.      Uji Kadar Serat

Prinsip analisis serat kasar yaitu sampel dihidrolisis dengan asam kuat dan basa kuat encer. Hal ini menyebabkan karbohidrat, protein dan zat – zat lain terhidrolisis dan larut, kemudian disaring dan dicuci dengan air panas yang mengandung asam dan alkohol. Selanjutnya dibakar dan ditimbang hasil yang didapat (Hasnaeni, 2022).

Sampel bebas lemak ditimbang 0.5 gram dalam Erlenmeyer, kemudian tambahkan H2SO4 1,25% sebanyak 30 ml ke dalam sampel. Hubungkan dengan pendingin balik dan panaskan selama 30 menit. Setelah 30 menit tambahkan NaOH 3,25% ke dalam sampel dan panaskan kembali selama 30 menit. Selanjutnya sampel disaring menggunakan pompa vakum yang telah dialasi dengan kertas saring yang telah ditimbang. Sisa sampel di kertas saring dibilas dengan 25 ml H2SO4 1,25 % panas, 25 ml aquades panas, dan 25 ml etanol. Dinginkan dalam desikator selama setengah jam kemudian timbang (a) Selanjutnya kertas saring dipindahkan dalam cawan porselen untuk dioven pada suhu 105oC, lalu didingkan di desikator dan timbang (b) sampai beratnya konstan. Perhitungan kadar serat menggunakan rumus berikut:

 (%) kadar serat = a - b x 100% berat sampel  (Hasnaeni, 2022).

5.     Skrining Fitokimia

Fitokimia adalah suatu tekhnis analisis kandungan kimia didalam tumbuhan.Analisis ini bersifat kualitatif sehingga data yang dihasilkan adalah data kualitatif kandungan kimia tumbuh dalam suatu jenis tumbuhan. Secara umum kandungan kimia tumbuhan dapat dikelompokan kedalam golongan senyawa alkaloid, saponin, flavanoid, tannin, polifenol dan kuinon.Senyawa-senyawa tersebut tersebar luas didalam tumbuhan. Untuk menentukan senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan pereaksi-pereaksi khusus dan spesifik,misalnya pereaksi Dragendorf, Meyer, Wegner, asam pikrat dan pereaksi asam tannat untuk mengidentifikasi flavanoid dan larutan gelatin untuk terpenoid, FeCl₂ untuk mengidentifikasi flavanoid dan larutan gelatin untuk senyawa tannin. Metabolit sekunder dihasilkan melalui tahap-tahap reaksi dalam jaringan tumbuhan yang disebut biosintesis.Alkaloid terpenoid, steroid, dan flafonoid merupakan beberapa contoh senyawa yang dihasilkan dari biosintesis tersebut. Penelitian kandungan kimia untuk satu tanaman (daun, batang, kulit batang, akar, dll) atau melakukan penapisan kandungan kimia terhadap berbagai sepsis tanaman dalam satu famili pada bagian tertentu akan memberikan informasi tentang tingkat evolusi (Suteja, 2018).

 

6.     Penetapan Kadar Polifenol

Polifenol adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksil. Polifenol larut dalam metanol, etanol, aseton, etil asetat, dan kombinasinya, seringkali dengan proporsi air yang berbeda. Senyawa polifenol meliputi fenol, asam fenol, tanin, lignan, dan flavonoid. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur. Polifenol banyak ditemukan dalam buah-buahan, sayuran serta biji-bijian. Rata-rata manusia mengkonsumsi polifenol dalam sehari sampai 23 mg. Khasiat dari polifenol adalah menurunkan kadar gula darah dan efek melindungi terhadap berbagai penyakit seperti kanker (Nurlatifah, 2022).

Senyawa fenol berdasarkan jumlah gugus hidrofiliknya (OH) dibagi menjadi 1-2 dan fenol poliatomik. Senyawa yang memiliki gugus hidrofilik lebih dari satu dalam cincin arom atiknya disebut senyawa polifenol.. Polifenol merupakan termasuk golongan polimer yang terbagi lagi menjadi dua, yaitu flavonoid dan non flavonoid (Nurlatifah, 2022).

Senyawa fenol dapat dikategorikan ke dalam beberapa senyawa diantaranya adalah fenol sederhana, kumarin, tannin, saponin, flavonoid, asam fenolik, dan flavonol. Uji total polifenol dilakukan untuk menghitung kadar fenolik atau “phenolic hydroxyl groups” menggunakan reagen Folin-Ciocalteu. Senyawa polifenol dapat mengalami oksidasi sehingga berperan sebagai reduktor. Asam fosfomolibdatfosfotungstat dalam reagen Folin-Ciocalteu akan direduksi oleh senyawa polifenol menjadi kompleks molibdenum biru. Adanya senyawa fenolik dalam sampel dilihat dari perubahan warna larutan uji yang sebelumnya tak berwarna menjadi biru. Senyawa ini memberikan serapan kuat pada panjang gelombang 765 nm. Peningkatan kadar fenolik dalam sampel akan sebanding dengan meningkatnya intensitas warna biru (Jannah, 2020).

C.    Kajian Empiris

Kajian empiris dari penelitian ini berasal dari penelitian yang sudah ada sebagai berikut :

1.      Pradawahyuningtyas dkk, (2020). Aktivitas Antianemia Filtrat Limbah Kentos Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Natrium Nitrit. Hasil penelitian menunjukan bahwa limbah kentos kelapa memiliki aktivitas sebagai antianemia karena mampu meningkatkan kadar hemoglobin yakni mencapai 16,8 g/dL pada konsentrasi filtrat kentos kelapa 75%, 14,7 g/dL pada konsentrasi filtrat kentos kelapa 50%, dan 16 g/dL pada konsentrasi filtrat kentos kelapa 25%. Selain itu, filtrat kentos kelapa mampu meningkatkan jumlah eritrosit dari kondisi anemia yakni 1.750.000/mm3 menjadi kondisi normal yakni 8.260.000/mm3 serta mampu memperbaiki bentuk eritrosit dari poikilositosis (bentuk bervariasi) menjadi normal (bulat cakram bikonkaf)

2.      Arief, dkk (2020). Pengaruh Ekstrak Kentos Kelapa(Cocos nucifera) Terhadap Penurunan Immobility Time Sebagai Antidepresan Pada Mencit (Mus musculus). Hasil penelitian menuunjukan bahwa Ekstrak Kentos Kelapa konsentrasi 0,15%, 0,3% dan 0,45% b/v menunjukkan perubahan penurunan immobility time sebagai antidepresan pada mencit jantan. Ekstrak Kentos Kelapa konsentrasi 0,45% b/v paling menunjukkan efektivitas sebagai antidepresan, tetapi perubahan penurunanya masih lebih kecil dibandingkan amitriptillin 0,01% b/v sebagai kontrol positif.

3.      Arunaksharan, et al (2023). Proximate Composition, Antioxidant, Anti-Inflammatory and Anti-Diabetic Properties of the Haustorium from Coconut (Cocos Nucifera L.)and Palmyra Palm (Borassus Flabellifer L.). hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kentos kelapa memiliki Aktivitas antioksidan ekstrak kentos kelapa telah dianalisis menggunakan aktivitas penghambatan oksidan  DPPH (dengan  nilai  IC50 yakni sekitar 28 μg/mL),  hidrogen  peroksida  (dengan nilai IC50 yakni sekitar 44 μg/mL), dan penghambatan peroksidasi lipid secara ex vivo (dengan nilai IC50 yakni sekitar 83 μg/mL). Selain itu Penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi dimana nilai IC50 dari uji penghambatan LPX (lipoxygenase) adalah sekitar 54 μg/mL dan nilai IC50 untuk pengambatan radikal nitrat oksida adalah sekitar  87  μg/m.

4.      Valli, S, et al (2020). Bioprospecting and Therapeutic Applications of Cocos nucifera L. Sprouts. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengujian antibakteri ekstrak metanol kentos kelapa menggunakan dengan metode difusi sumuran menunjukan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, dan zona hambatan sekitar 35 mm terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, serta ekstrak  metanol  dan  air  kentos  kelapa  menunjukkan persentase hambatan maksimum masing-masing sekitar 92% dan 91% dengan nilai IC50 sebesar 26,66 dan 27,90 μg/mL.

5.      Kolondam, et al (2023). Potential Antioxidant Activity Of Coconut Kentos Flour (Cocos nucifera L.) And Application In Biscuits. Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung    kentos umur 30 hari memiliki antioksidan tertinggi yaitu 31,21% pada konsentrasi  2,1mg/gr, 56,95% pada konsentrasi 4,2 mg/gr, 77,22% pada konsentrasi 6,3  mg/gr, 89,94% pada konsentrasi 8,3 mg/gr dan 92,90% pada konsentrasi 10,4 mg/gr.Biskuit   yang menggunakan tepung kentos berdasarkan hasil uji organoleptik menggunakan  tepung kentos 40% adalah yang terbaik.

 

 

 


 

BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

A.  Dasar Pikir Penelitian

Pangan fungsional merupakan suatu produk baik itu makanan atau minuman yang dapat memberikan keuntungan untuk dapat mempengaruhi fungsi fisiologis terhadap meningkatnya kesehatan tubuh sehingga  dapat mencegah  suatu  penyakit. Pangan fungsional tidak berupa suplemen, serbuk, ataupun  kapsul melainkan berasal dari bahan yang terdapat secara alami sehingga dapat dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Pangan fungsional memiliki karakteristik sensori dalam segi penampakan, warna, tekstur maupun citarasa yang dihadirkan, dan dapat diterima oleh masyarakat yang mengkonsumsinya, serta tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi tubuh Pangan fungsional memiliki peran yang dapat memperkuat mekanisme tubuh, mencegah timbulnya penyakit degeneratif seperti hipertensi dan kanker, memperlambat proses penuaan, dan menjaga kondisi tubuh. Manfaat-manfaat inilah yang membedakan pangan fungsional dengan yang lainnya (Helmalia Widya, 2019).

Pada umumnya, secara alamiah hampir setiap bahan pangan memiliki komponen bioaktif dan relatif aman sebagai sumber nutrisi. Namun ada beberapa atribut yang harus dimiliki oleh suatu bahan pangan hingga dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional. Secara umum, setidaknya terdapat lima kelompok besar kategori pangan fungsional, antara lain; a) bahan pangan yang kandungan nutrisi dasarnya dikurangi atau ditingkatkan, misalnya sereal yang telah ditambahkan vitamin, minuman yang telah difortifikasi dengan vitamin antioksidan serta produk sapi perah yang telah dikurangi kadar lemaknya, b) produk yang secara alamiah tidak memiliki nutrisi tertentu lalu ditambahkan ke dalamnya, misalnya penambahan serat ke dalam jus buah, asam folat yang ditambahkan ke dalam margarin serta cemilan yang diperkaya stanol untuk menekan penyerapan kolesterol, c) produk berbahan dasar susu difermentasi dengan probiotik yang diseleksi berdasarkan kemampuan fungsionalnya untuk membantu proses pencernaan dan mencegah infeksi, beberapa produk telah ditambahkan oligosakarida untuk mendukung pertumbuhan bakteri tersebut, d) produk yang secara khusus diformulasikan untuk kebutuhan tertentu misalnya minuman untuk olahragawan ataupun sereal yang dibuat secara khusus untuk melepaskan karbohidrat dan menyuplai energi dalam jangka waktu yang cukup lama, dan e) bahan pangan yang mengandung bahan herbal untuk membantu mengatasi beragam masalah kesehatan (Abbas, 2020).

Salah satu bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan potensinya sebagai pangan fungsional yaitu Kentos kelapa. Kentos kelapa sangat digemari karena memiliki rasa yang manis dan gurih. Kentos kelapa diketahui  mempunyai fungsi fisiologis dalam proses metabolisme tubuh karena mengandung  karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin serta komponen-komponen bioaktif seperti alkaloid dan polifenol yang tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. Pemanfaatan pangan fungsional sangat penting di era modern saat ini, karena kandungan senyawa bioaktif dapat memberikan efek positif bagi tubuh manusia.

 

 

B.   Bagan Kerangka Konsep Penelitian

Kentos kelapa(Cocos nucifera)

 

Analisis Kandungan Proksimat

Penentuan Kadar Polifenol Total

Aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli

 

 

 

 

 

 


 

  Keterangan:

             

                                                : Variabel Independent

                                                : Variabel Dependent

                        : Menyatakan pengaruh antara variabel independent dan                                                 variabel dependent

Gambar 7. Bagan Kerangka Konsep Penelitian

 

C.  Variabel Penelitian

1.     Variabel terikat

      Variabel dependent (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independent (bebas). Adapun variabel dependent pada penelitian ini yaitu kandungan proksimat (kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan serat pangan), kadar polifenol total, dan aktivitas antibakteri kentos kelapa (Cocos nucifera).

2.   Variabel bebas        

Variabel independent (bebas) yaitu variabel yang mempengaruhi variabel dependent (terikat). Adapun variabel independent pada penelitian ini yaitu kentos kelapa (Cocos nucifera).

D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1.   Defenisi Operasional Variabel Independent

Ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera) merupakan hasil yang didapatkan dari proses ekstraksi menggunakan metanol selama 3x24 jam lalu dipekatkan Rotary Vacuum Evaporator hingga diperoleh ekstrak yang kental dan pekat. Sedangkan tepung kentos kelapa (Cocos nucifera) merupakan hasil yang didapatkan dari proses pengeringan.

Kriteria objektif : Sediaan ekstrak kental kentos kelapa (Cocos  nucifera) yang kental dan pekat dalam satuan gram serta tepung kentos kelapa  (Cocos  nucifera) berwarna kuning kecoklatan dalam bentuk serbuk halus dan dalam satuan gram.

2.     Defenisi Operasional Variabel Dependent

a.     Kadar Air

Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis). Uji kadar air dilakukan dengan metode oven.

Kriteria Obyektif : Maksimal 5% menurut SNI 01-711.2-2005

b.     Kadar karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber makronutrien utama bagi manusia. Kebanyakan karbohidrat yang dikonsumsi adalah tepung atau amilum atau pati yang ada dalam gandum, jagung, beras, kentang, dan padi-padian lainnya. Kerbohidrat juga menjadi komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam bentuk serat (fiber), seperti seluloasa, pectin, serta lignin.

Kriteria obyektif : Maksimal kadar karbohidrat 70% menurut SNI 01-711.2-2005

c.     Kadar lemak

Lemak merupakan sumber energi bagi tubuh. Biasanya energi yang dihasilkan per gram lemak adalah lebih besar dari energi yang dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat atau 1 gram protein.

Kriteria obyektif : Minimal kadar lemak 9,5% dan maksimal 18 menurut SNI 01-711.2-2005

d.     Serat pangan

Serat merupakan salah satu dari 7 kandungan gizi yang harus ada pada makanan. Serat dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan seperti sayur–sayuran dan buah buahan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan asupan serat yang baik pada makanan sebesar 25 - 30 gram per hari.

Kriteria obyektif : Maksimum 5 menurut SNI 01-711.2-2005

e.     Polifenol total

Polifenol adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksil. Kadar Fenol Total Penetapan kadar polifenol dilakukan dengan menggunakan reagen Folin-Ciocalteu (FC).

Kriteria obyektif : Senyawa fenol menghasilkan senyawa kompleks berwarna biru dan diukur menggunakan spektofometri UV-Vis 750 nm.

f.      Aktivitas antibakteri 

Uji aktivitas antibakteri adalah kegiatan menentukan adanya zona hambat dari pertumbuhan bakteri.

Kriteria obyektif :

a.   Memiliki aktivitas antibakteri

:

Menunjukan adanya zona hambat dengan hasil statistik berbeda dibandingkan kontrol negatif.

b.   Tidak memiliki aktivitas antibakteri

 

:

Tidak menunjukan adanya zona hambat pada uji statistik tidak terdapat perbedaan berakna dengan kontrol negatif.

c.   Zona hambat bakteri

:

>20 mm dikategorikan sangat kuat

11-20 mm dikategorikan kuat

5-10 mm dikategorikan sedang

5 mm dikategorikan lemah  (Kalsum, 2019)

E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

a.     Ha : Tepung kentos kelapa (Cocos nucifera) memiliki kandungan karbohidrat, lemak, kadar air, dan serat.  

Ho : Tepung kentos kelapa  (Cocos nucifera) tidak memiliki kandungan karbohidrat,  lemak, kadar air, dan serat.

b.     Ha : Ekstrak kentos kelapa  (Cocos nucifera) mengandung kadar polifenol total.

Ho : Ekstrak kentos kelapa  (Cocos nucifera) tidak mengandung kadar polifenol total.

c.     Ha : Ekstrak kentos kelapa  (Cocos nucifera) memiliki aktivitas antibakteri.

Ho : Ekstrak kentos kelapa (Cocos nucifera)  tidak memiliki aktivitas antibakteri.

 

 

 

 

BAB IV

METODE PENELITIAN

A.   Jenis dan Rancanan Penelitian

1.     Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik yang bertujuan untuk mengetahui kandungan proksimat, kadar polifenol total dan aktvitas antibakteri kentos kelapa (Cocos nucifera). Penelitian ini terdiri dari 3 kali perlakuan yang terdiri dari kontrol negatif, kontrol positif dan pengujian menggunakan ekstrak kentos kelapa. Dengan desain penelitiaan sebagai berikut :

2.    

KK

EEKK

UAA

ZH

K2

K3

 

K+

 

DRZH

K1

Rancangan Penelitian

UPKP

UAKP

K-

 

 

 

 


Keterangan:

KK

: Kentos Kelapa

UAKP

: Uji Analisis Kandungan Proksimat

UPKP

: Uji Penentuan Kadar Polifenol

EEKK

: Ekstrak Metanol Kentos Kelapa

UAA

: Uji Aktivitas Antibakteri

K1

K2

: Konsentrasi 40% ekstrak metanol Kentos kelapa

: Konsentrasi 60% ekstrak metanol Kentos kelapa

K3

: Konsentrasi 80% ekstrak metanol Kentos kelapa

K+

: Kontrol Positif (Amoxicilin)

K-

: Kontrol Negatif (DMSO)

ZH

: Zona Hambat

DHZH

: Diameter Rata Rata zona Hambat

 

B.      Lokasi dan Waktu Penelitian

   Penelitian ini dilaksanakan setelah proposal ini disetujui, yang bertempat di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi Universitas Mandala Waluya Kendari.

C.     Populasi Dan Sampel

1.     Populasi

Populasi penelitian ini adalah buah kelapa tua yang di peroleh dari Desa Masagena, Kabupaten Konawe Selatan.

2.     Sampel

Sampel yang digunakan adalah kentos kelapa (Cocos nucifera)

D.    Alat dan Bahan

1.   Alat

               Alat yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu rotary evaporator, Erlenmeyer (pyrex), gelas ukur (pyrex), autoklaf (mammer), oven, tabung reaksi (pyrex), batang pengaduk, timbangan digital, vial, pembakar bunsen, wadah toples, aluminium foil, cawan porselin, cawan petri, gelas kimia, hot plate, pinset, gunting, jarum ose lurus, jarum ose bulat, inkubator (yenaco), desikator, spektrofotmeter UV-Vis, pipet tetes, seperangkat alat soxlet, labu ukur, batu didih, buret, oven, kertas saring.

2.   Bahan

    Bahan yang di gunakan pada penelitian ini adalah kentos kelapa (Cocos nucifera), kloramfenikol, metanol, NA (Nutrien agar), NaOH, FeCl3, C4H6O3, CHCl3, C2H6OS, H2SO4, NA2CO3, HCL, pereaksi Dragendroff, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, bubuk magnesium, C4H12O, aquadest, larutan Luff-Schoorl, indikator kanji, K2SO4, pereaksi Folin-Ciocalteu  dan bakteri Escherichia coli.

E.    Prosedur Penelitian

1.   Pengambilan sampel

  Sampel dalam penelitian ini adalah kentos kelapa (Cocos nucifera) yang diperoleh di Desa Masagena, Kabupaten Konawe Selatan.

2.   Pengolahan Sampel

Cuci sampel kentos kelapa (Cocos nucifera) hingga bersih dengan air mengalir, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa sinar matahari langsung, lalu dirajang. Sampel kemudian dijemur hingga kering pada udara terbuka namun terlindung dari matahari. Sampel yang sudah kering selanjutnya dilakukan proses ekstraksi.

3.   Ekstraksi Sampel

Sampel kentos kelapa (Cocos nucifera) yang telah dirajang dan kering diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan cairan penyari metanol. Sampel serbuk simplisia kentos kelapa (Cocos nucifera) sebanyak 500 gram dimasukan kedalam wadah maserasi kemudian ditambahkan cairan penyari. Proses maserasi ini dilakukan selama 3 x 24 jam dengan sesekali pengadukan. Masing-masing ampas kemudian diremaserasi kembali sampai diperoleh pelarut bening. Masing-masing hasil penyarian disatukan, lalu diuapkan dengan rotary evaporator, pada suhu 50˚C hingga didapatkan ekstrak kental yang bebas dari pelarut (Doughari, 2012).

4.     Pembuatan tepung Kentos Kelapa (Cocos nuciifera)

Kentos kelapa disortir, dibersihkan dan dicuci dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Kentos kelapa yang sudah bersih selanjutnya diiris tipis menjadi slice (irisan) yang tipis (dengan ketebalan ±1 mm), sehingga akan menghasilkan slice tombong kelapa basah. Slice tombong kelapa tersebut selanjutnya dikeringkan pada udara terbuka namun terlindungi dari sinar matahari. Selanjutnya irisan tombong kelapa kering yang didapat ditepungkan dengan cara dihancurkan menggunakan blender (Cosmos CB- 180 F) dan diayak sehingga diperoleh tepung kentos kelapa. Tepung kentos kelapa yang dihasilkan selanjutnya dikemas ke dalam wadah dan dianalisis kandungan proksimat.

5.     Penapisan Fitokimia

Uji fitokimia dilakukan pada semua filtrat untuk mengetahui kemampuan pelarut yang digunakan untuk mengekstrak senyawa – senyawa metabolit sekunder pada kentos kelapa. Pengujian filtrat dilakukan pada tiap pengulangan pelarut meliputi: (Harborne dalam Priyanto, 2012).

a.   Uji Alkaloid

       Sejumlah sampel dilarutkan dalam beberapa tetes asam sulfat 2N. Pengujian menggunakan tiga pereaksi alkaloid yaitu pereaksi Dragendorff, pereaksi Meyer dan pereaksi Wagner. Hasil uji dinyatakan positif bila dengan pereaksi Dragendorff terbentuk endapan merah jingga. Kemudian, terbentuknya endapan putih kekuningan dengan pereaksi Meyer dan terbentuknya endapan cokelat dengan pereaksi Wagner.

b.   Uji Flavonoid

       Sejumlah sampel ditambah 0,1 mg serbuk magnesium, 0,4 mL amil alkohol dan 4 mL alkohol, kemudian campuran dikocok. Adanya flavonoid ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah, kuning atau jingga pada lapisan amil alcohol.

c.   Uji Saponin

       Sebanyak 2 mL sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 10 mL akuades lalu dikocok selama 30 detik, diamati perubahan yang terjadi. Apabila terbentuk busa yang mantap (tidak hilang selama 30 detik) maka identifikasi menunjukkan adanya saponin.

d.   Uji Tanin

       Sampel sebanyak 1 gram ditambah pereaksi FeCl3 3% adanya warna hijau kehitaman menandakan suatu bahan mengandung komponen tanin.

e.   Uji Triterpenoid dan Steroid

Sejumlah sampel dilarutkan dalam 2 ml kloroform dalam tabung reaksi yang kering, kemudian ditambah 10 tetes asam anhidrat asetat dan 3 tetes asam sulfat pekat. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah untuk pertama kali kemudian berubah menjadi biru dan hijau.

6.     Analisis Kandungan Proksimat pada Tepung Kentos Kelapa   

a.     Kadar air

Pengujian kadar air dilakukan dengan menggunakan metode oven. Cara kerja metode ini yaitu cawan kosong dipanaskan dalam oven 105°C selama 30 menit, didinginkan dalam desikator selama 15 menit, kemudian ditimbang (W0). Kemudian sampel tepung kentos kelapa sebanyak 2 gr dimasukkan pada cawan yang telah diketahui bobotnya, ditimbang (W1), lalu dikeringkan kedalam oven pada suhu 105°C selama 3 jam, didinginkan dalam desikator selama 15-30 menit. Kemudian cawan dan isinya ditimbang dan dikeringkan kembali selama 1 jam, serta didinginkan dalam desikator, ditimbang kembali (W2). Kandungan air dihitung dengan rumus :

Kadar air (%bb) =  x 100%

Keterangan :

W0 = berat cawan dan sampel awal (g)

W1 = berat cawan dan sampel akhir (g)

W2 = berat sampel awal (g)

b.     Analisis Kadar Karbohidrat dengan Metode Luff Schoorl

Pada pengujian karbohidrat diawali dengan ditimbang 5 gr sampel ke dalam erlenmeyer 500 ml, tambahkan 200 ml larutan HCl 3%, didihkan selama 1 jam dengan pendingin tegak. Lalu, didiginkan dan menetralkan dengan larutan NaOH 30% dan menambahkan sedikit larutan CH3COOH 3% suasana larutan sedikit asam, pindahkan larutan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 500 ml, encerkan dengan air suling dan tepatkan volumenya sampai tanda garis lurus. Kocok dan saring melalui kertas saring, pipet 10 ml filtrat ke dalam erlenmeyer 500 ml, tambahkan 25 ml Larutan Luff Schoorl dan beberapa batu didih dan 15 ml air suling, panaskan campuran tersebut dengan panas yang konstan sampai mendidih selama 10 menit kemudian dengan cepat didinginkan di dalam wadah es. Setelah dingin tambahkan perlahan-lahan 15 ml larutan KI 20% dan 25 ml H2SO4 25%. Titrasi secepatnya dengan larutan Na tiosulfat 0,1 N sampai warna kuning sampai hilang, tambahkan sedikit indikator larutan kanji 1%. Lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang, lalu buat percobaan blanko dengan menggunakan 25 ml aquadest sebagai penganti sampel.

c.     Analisis Kadar Lemak

Labu lemak yang akan digunakan dikeringkan dalam oven bersuhu 110°C, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Tepung kentos kelapa ditimbang sebanyak 5gr, dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi (soxhlet) yang telah berisi pelarut heksana. Proses reflux dilakukan sampai larutan jernih dan pelarut yang ada di dalam labu lemak terdestilasi. Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C hingga beratnya konstan, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Kadar lemak dihitung dengan rumus :

Lemak =  x 100%

d.     Analisis serat

Diawali dengan cara menimbang 2 gram bahan, ditambahkan 200 ml larutan H2SO4 (0,255N) didihkan menggunakan refluks selama 30 menit. Disaring menggunakan kertas saring, residu yang tertingggal dicuci dengan aquades mendidih sampai air cucian tidak bersifat asam (uji dengan pH universal). Residu pada kertas saring dipindahkan ke dalam erlenmeyer sisanya dicuci dengan larutan NaOH (0,255N) mendidih sebanyak 200 ml, didihkan kembali selama 30 menit. Residu disaring menggunakan kertas saring yang sudah diketahui bobotnya sambil dicuci dengan larutan K2SO4 10%. Residu di cuci lagi dengan aquades mendidih dan 15 ml alkohol 95%. Keringkan kertas saring beserta residu menggunakan oven pada suhu 1100C sampai berat konstan (1- 2 jam), didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan timbang.

7.     Analisis Polifenol Total

Penetapan kadar polifenol total dilakukan dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Sebanyak 0,3 mL larutan ekstrak ditambahkan dengan 5 mL reagen Folin-Ciocalteu 10%. Campuran didiamkan pada suhu kamar selama 5 menit. Selanjutnya 4 mL Na2CO3 7,5% ditambahkan ke dalam campuran. Campuran didiamkan pada suhu kamar selama 70 menit. Absorbansi sampel diukur pada 750 nm menggunakan spektrofotmeter UV-Vis. Kandungan total fenol dinyatakan sebagai mg/100g ekuivalen asam galat (Lestari, dkk 2015).

8.     Uji Antibakteri

a.     Sterilisasi alat

Alat-alat yang dari plastik, karet, dan gelas yang memiliki skala disterilkan menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit, sedangkan alat-alat seperti cawan petri, tabung reaksi, labu erlenmeyer, di masukkan kedalam oven dan disterilkan dengan suhu 180oC hingga 2 jam, dan alat logam di sterilkan menggunakan cara di pijarkan pada bunsen (Imansyah & Hamdayani, 2022).

b.     Pembuatan media nutrient Agar (NA)

Sebanyak 5 gram Nutrient Agar disuspensikan dalam 250mL aquadest steril, kemudian dipanaskan dengan bunsen untuk menghasilkan media tersuspensi sempurna. Setelah media telah tersuspensi sempurna, kemudian disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit (Putrajaya dkk, 2019).

c.     Peremajaan bakteri

Peremajaan bakteri menggunakan agar miring Nutrien Agar (NA), bakteri diambil satu ose menggunakan ose steril selanjutnya digoreskan pada permukaan agar miring dengan teknik penggoresan silang (zig-zag) kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam (Nikmah, et al.,  2022).

d.     Pembuatan suspensi bakteri uji

Suspense bakteri uji Escherichia coli dengan cara beberapa ose dibiakkan bakteri Escherichia coli dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 10 ml NaCl steril dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam (Sandy, et al., 2021).

e.     Pembuatan larutan kontrol positif

Kontrol positif yang digunakan untuk pengujian daya hambat terhadapat bakteri Escherichia coli menggunakan antibiotik amoxicilin. Pembuatan suspensi kloramfenikol yaitu ditimbang sebanyak 0,03 gram aoxicilin kemudian di cukupkan 3 ml Aquadest steril (Athaillah & sugesti 2020).

f.      Pengujian Luas zona hambat

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode sumur agar dengan langkah-langkah sebagai berikut : diambil media Nutrien Agar (NA) steril sebanyak 15 ml, dimasukkan kedalam tabung reaksi, diambil suspense bakteri Escherichia coli, sebanyak 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi media NA (Nutrien Agar) lalu dihomogenkan, kemudian dituang kedalam cawan petri dibiarkan memadat. Setelah itu dibuat 5 lubang berukuran 6 mm dengan menggunakan tips micro pipet. Pada masing-masing lubang sumuran dimasukkan kontrol positif (amoxicilin), kontrol negatif (DMSO 10%) , ekstrak kentos kelapa dengan 3 perbandingan konsentrasi (40%, 60% dan 80%) lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Uji dilakukan dengan 3 kali pengulangan (Putrajaya et al 2019).

g.     Pengamatan dan pengukuran zona hambat

Pengukuran diameter zona hambat dilakukan pada daerah bening di sekitar lubang sumuran. Selanjutnya diamati zona hambat yang terbentuk dan diukur diameter zona hambatnya dengan jangka sorong. Pengukuran diameter zona hambat dapat dilakukan dengan jangka sorong dengan menggunakan rumus (Kartikawati dkk, 2023).

R(%) =((D1+D2)/2)x 100%

Keterangan:

R   = Daya Hambat (mm)

D1 = Diameter zona hambat terpanjang (mm)

D2 = Diameter zona hambat terpendek (mm)

F.      Pengolahan Dan Analisis Data

Analisa data dilakukan untuk menjawab hipotesis penelitian. Pada penelitian ini menggunakan analisis data secara deskriptif. Analisis deskriptif berfungsi untuk mendiskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan kesimpulan yang berlaku untuk umum.

G.        Etika Penelitian

Dalam penelitian ini harus memahami prinsip etika dalam melakukan suatu penelitian yang pertama peneliti membuat surat persetujuan penelitian yang ditanda tangani oleh pembimbing I, pembimbing II dan mengajukan surat izin melakukan penelitian kepada Kepala Labolatorium Farmasi Universitas Mandala Waluya setelah disetujui selanjutnya peneliti menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian dan terakhir penelitian dengan tetap memperhatikan aturan dalam Labolaturium Farmasi Universitas Mandala Waluya.


 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian

         Penelitian ini dilakukan di empat laboratorium yang berbeda, pertama dilakukan proses ekstraksi dilaboratorium farmakognosi-fitokimia Universitas Mandala Waluya, analisis kadar polifenol total di Laboratorium Kimia Farmasi, dan pengujian daya hambat bakteri di Laboratorium Steril Universitas Mandala Waluya. Setelah itu penelitian dilanjutkan dengan analisis proksimat di UPT Laboratorium Terpadu Universitas Halu Oleo Kendari.

B.    Analisisi Data

1.     Analisis Universal

a.     Hasil Determinasi Tanaman

Dari hasil determinasi tanaman yang diperoleh, tanaman yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera) dengan kata kunci

b.     Perhitungan persen rendemen

Adapun perhitungan persen rendemen Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera) sebagai berikut:

Tabel 7. Perhitungan Persen Rendemen Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera)

Tabel 7. Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera)

 

Simplisia

Ekstrak

Rendamen (%)

1000 g

10,18 gram

2,036%

 

 

c.     Hasil analisis Kandungan Proksimat

Tabel 7. Hasil analisis Kandungan Proksimat Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera)

Parameter

Satuan

Hasil

Kadar Air

%

14,79

Karbohidrat

%

44,64

Lemak

%

26,48

Serat Kasar

%

0,85

 

 

 

 

 

 


 

Gambar 8. Hasil Hasil analisis Kandungan Proksimat Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)

 

d.     Hasil Analisis Kadar Polifenol

 

Tabel 4. Hasil analisis Kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera)

konsentrasi (ppm)

Replikasi I

Replikasi II

Replikasi III

Nilai rata-rata Absorbansi

Sampel

 

Kadar Polifenol Total

Asam galat

100 ppm

0,576

0,574

0,576

0,575±0.001

43.15033

 

80 ppm

0,494

0,493

0,494

0.493±0

60 ppm

0,424

0,428

0,427

0.426±0.002

40 ppm

0,364

0,361

0,359

0.361±0.002

20 ppm

0,215

0,216

0,217

0.216±0.001

blanko

0,042

0,039

0,039

0.040±0.001

Ekstrak

2000

0,381

0,384

0,385

0.383±0

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 9. Grafik Hasil Kurva Kalibrasi Kadar Polifenol

 

e.     Hasil Diamete Zona Hambat

     Adapun hasil dari pengukuran zona hambat Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera) pada bakteri Escherichia coli dengan menggunakan metode difusi agar menggunakan paper disk (kertas cakram) terlihat pada tabel.

Tabel 8. Hasil rata-rata Diameter Zona Hambat terhadap Bakteri Escherichia coli.

Konsentrasi

Pemeriksaan

Rata-rata hasil pengamatan

 

Replikasi I (mm)

Replikasi II (mm)

Replikasi III (mm)

Rata-rata (mm)

Kategori zona hambat

40%

Escherichia coli

9

9

9.3

9.1±0.17

Sedang

60%

10

10.3

10

10.1±0.17

Kuat

80%

12.6

12.6

13

12.7±0.23

Kuat

amoxicilin

22.3

22.3

22,3

22.3±0

Sangat kuat

DMSO

0

0

0

0

 

Keterangan:

40%                = ekstrak Kentos Kelapa 40%

60%                = ekstrak Kentos Kelapa 60%

80%                = ekstrak Kentos Kelapa 80%

K+                  = Kontrol positif (amoxicilin)

K-                   = Kontrol Negatif (DMSO)

Sedang            = nilai rata-rata zona hambat 5-10 mm

Kuat                = nilai rata-rata zona hambat 11-20 mm

Sangat Kuat    = nilai rata-rata zona hambat >20 mm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 9. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kentos Kelapa  (Cocos nucifera)

       pada bakteri Escherichia coli

 

2.     Analisis Bivariat

A.    Hasil Uji Statistik Analisis Kadar Polifenol Dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Bakteri Escherichia coli

1.   Hasil Uji Statistik Analisis Kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)

Tabel 9. Hasil Uji Statistik Analisis Kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)

Kelompok

Kelompok Pembanding

Nilai P Signifikansi

Keterangan

100 ppm

80 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

60 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

40 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

20 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

blanko

0,000

Berbeda Signifikan

80 ppm

60 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

40 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

20 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

blanko

0,000

Berbeda Signifikan

40 ppm

20 ppm

0,000

Berbeda Signifikan

blanko

0,000

Berbeda Signifikan

20 ppm

blanko

0,000

Berbeda Signifikan

Keterangan :

Tidak Signifikan  :  Nilai p>0,05, maka tidak terdapat perbedaan atau hampir sama

Signifikan            :  Nila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masin-masing perlakuan.

Hasil pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dalam menentukan normalitas data, Hal ini dibuktikan nilai signifikansi pada setiap konsentrasi yaitu (0,103> 0,05), sehingga terbukti bahwa data terdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dimana nilai signifikansinya yaitu (0,053> 0,05), sehingga terbukti bahwa data homogen dan data dapat dianalisis secara uji parametrik (Anova). Data terdistribusi normal dan homogen sehingga dilanjutkan dengan uji One Way Anova dan didapatkan nilai signifikansi p<0,050 yaitu 0,000 yang menandakan data berbeda signifikan dari masing konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mengetahui konsentrasi berapa yang berbeda signifikan dilakukan dengan uji lanjutan yaitu uji LSD. Dimana bila nilai p>0,05 maka tidak terdapat perbedaan atau hampir sama. Sedangkan bila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masing-masing konsentrasi.

2.   Hasil Uji Statistik Antimikroba Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Bakteri Escherichia coli

Tabel 10. Hasil Hasil uji LSD Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera)   

Terhadap Bakteri Escherichia coli

Kelompok

Kelompok Pembanding

Nilai P Signifikansi

Keterangan

konsentrasi 40 %

Konsentrasi 60%

0,000

Berbeda Signifikan

konsentrasi 80%

0,000

Berbeda Signifikan

kontrol positif

0,000

Berbeda Signifikan

kontrol negatif

0,000

Berbeda Signifikan

konsentrasi 60%

konsentrasi 80%

0,000

Berbeda Signifikan

kontrol positif

0,000

Berbeda Signifikan

konsentrasi 80%

kontrol positif

0,000

Berbeda Signifikan

kontrol negatif

0,000

Berbeda Signifikan

kontrol positif

kontrol negatif

0,000

Berbeda Signifikan

Keterangan :

Tidak Signifikan  :  Nilai p>0,05, maka tidak terdapat perbedaan atau hampir sama

Signifikan            :  Nila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masin-masing perlakuan.

Hasil pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dalam menentukan normalitas data, Hal ini dibuktikan nilai signifikansi pada setiap konsentrasi yaitu (0,103> 0,05), sehingga terbukti bahwa data terdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dimana nilai signifikansinya yaitu (0,053> 0,05), sehingga terbukti bahwa data homogen dan data dapat dianalisis secara uji parametrik (Anova). Data terdistribusi normal dan homogen sehingga dilanjutkan dengan uji One Way Anova dan didapatkan nilai signifikansi p<0,050 yaitu 0,000 yang menandakan data berbeda signifikan dari masing konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mengetahui konsentrasi berapa yang berbeda signifikan dilakukan dengan uji lanjutan yaitu uji LSD. Dimana bila nilai p>0,05 maka tidak terdapat perbedaan atau hampir sama. Sedangkan bila p<0,05 maka terdapat perbedaan dari masing-masing konsentrasi.

C.    Pembahasan

Pada penelitian ini yang berjudul Analisis proksimat, penentuan kadar polifenol total dan uji aktivitas antibakteri  kentos kelapa (cocos nucifera) mendukung pangan fungsional masyarakat sulawesi tenggara untuk bertujuan untuk mencari tau kandungan proksimat, kandungan polifenol total, dan uji aktivitas antibakteri  kentos kelapa (Cocos nucifera) yang berpotensi sebagai antibakteri alami dalam menghambat pertumbuhan mikroba.

Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari karena menurut Dwinatari, (2015) saat pagi hari intensitas cahaya matahari masih rendah, suhu lingkungan rendah, kelembaban udara tinggi, sehingga tingkat evaporasi rendah, transpirasi tanaman rendah, dan tekanan turgor tanaman menjadi tinggi  yang ditandai dengan kondisi fisik yang segar.

Kentos kelapa (cocos nucifera) yang akan diuji diolah dengan cara dicuci dengan air mengalir hingga bersih dengan tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi tanah dari debu yang jamur melekat, kemudian sampel dipotong-potong menjadi kecil lalu dikeringkan. Sampel dibuat ekstrak dengan metode maserasi, menggunakan pelarut metanol.

Kentos kelapa (cocos nucifera) diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi, maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, dilakukan dengan cara merendam bahan simplisia dalam cairan penyari (Octavia, 2009). Pelarut yang digunakan yaitu metanol, pemilihan pelarut tersebut karena lebih mudah melarutkan senyawa-senyawa metabolit aktif yang berefek sebagai antibakteri dan antijamur seperti flavonoid, alkaloid, tannin dan steroid.

Berat simplisia awal Kentos kelapa (cocos nucifera) diperoleh 1000 gram dan hasil maserasi Ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) diperoleh sebanyak 200 ml ekstrak cair yang kemudian ekstrak tersebut dipekatkan menggunakan rotary evaporator dan hair dryer sehingga di peroleh untuk Kentos kelapa (cocos nucifera) 10,18 g ekstrak kental dengan nilai rendamen 2,036 %. 

Dari hasil analisis proksimat yang dilakukan pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) terdapat jumlah kadar karbohidrat yang sangat tinggi dimana kadar karbohidrat pada hasil esktrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 44.6 4%, kadar lemak esktrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 26,48%, kadar air ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 14,79% dan kadar serat kasar esktrak Kentos kelapa (cocos nucifera) berjumlah 0,85%. Pada hasil analisis proksimat yang dilakukan pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) yang memenuhi nilai standar SNI yaitu kadar lemak 26,48% dengan nilai SNI minimal 9,5 hasil ini telah memenuhi syarat SNI dan kadar serat kasar 0,85% dengan nilai SNI maksimal 1,5 hasil ini telah memenuhi syarat SNI. (Koir, Devi and Wahyuni, 2017)

Analisis kuantitatif senyawa fenol dengan spektrofotometri UV-Vis dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kadar fenol yang terkandung dalam ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) Analisis fenol dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis karena dalam fenol terkandung sistem aromatik terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum sinar ultraviolet dan spektrum sinar tampak (Harbone, J.B. 1987).

Pengujian uji kadar fenol fraksi etanol biji pepaya (Carica papaya L.) dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan tujuan untuk mengetahui berapa kadar flavonoid total yang terdapat dalam ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera). Pada penelitian ini, terlebih dahulu dibuat larutan kuersetin yang merupakan pembanding dengan konsentrasi 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm. Kuersetin dipilih sebagai larutan standar karena kuersetin merupakan  fenol yang mempunyai gugus keto pada C-4 dan memiliki gugus hidroksil pada atom C-3 atau C-5 yang bertetangga dari flavon dan flavonol (Aminah, et al., 2017). Selain itu juga, karena salah satu senyawa fenol yang dimana dapat bereaksi dengan alumunium klorida hingga membentuk kompleks (Bangun, et al., 2021).

Digunakan berbagai kosentrasi karena metode yang dipakai dalam menentukan kadar adalah metode yang menggunakan persamaan kurva baku. Untuk membuat kurva baku diawali dengan dibuatnya beberapa deret konsentrasi untuk mendapatkan persamaan regresi linear untuk menghitung persen kadar.

Pengukuran serapan panjang gelombang maksimum pada panjang gelombang 400-800 nm, didapatkan panjang gelombang maksimum standar baku kuersetin berada pada  436 nm. Panjang gelombang digunakan untuk mengukur serapan dari sampel fraksi etanol biji papaya (Carica papaya L.).

Dari hasil pengukuran diperoleh hasil baku kuersetin antara absorbansi kuersetin dengan konsentrasi 20,40,60,80 dan 100 ppm, diperoleh persamaan regresi linear yaitu y = 0,0051x + 0, 0968 dengan nilai R2 yang diperoleh sebesar 0,9537. Menurut Sugiono (2009) interpretasi koefisien determinasi R2 interval koefisien dikatakan sangat kuat jika berkisar antara 0,8 -1, kuat jika berkisar antara 0,60 – 0,799 cukup kuat jika berkisar antara 0,40 – 0,599 rendah jika berkisar antara 0,20 – 0,399 dan sangat rendah jika berkisar antara 0,00 – 0,199.

Berdasarkan hasil one-way ANOVA  Kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera) menunjukan nilai signifikan p<0,05 yaitu sebesar p = 0,00 yang berarti bahwa ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) tidak mempengaruhi kdar polifenol.

Selanjutnya untuk perbedaan antara rata-rata kelompok konsentrasi secara lebih spesifik dapat dilakukan dengan uji LSD (least significance different). Hasil uji LSD kadar Polifenol Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos nucifera) pada konsentrasi 20,40,60,80 dan 100 ppm dan blanko memperlihakan perbedaan hal ini menunjukan semakin meningkat konsentrasi menujukkan aktivitas yang lebih baik, Hal ini membuktikan kenaikan konsentrasi berbanding lurus dengan aktivitas. Hasil analisis dengan semua kelompok perlakukan ekstrak terhadap kontrol positif memperlihatkan adanya perbedaan dan memiliki nilai berbeda signifikan.

Selanjutnya pengujian terhadap bakteri dengan mensterilkan alat dan medium menggunakan oven dan autoclaf untuk menghilangkan mikroorganisme pada alat dan bahan yang akan digunakan, serta membuat biakan bakteri miring.  Medium yang digunakan yaitu medium NA (Nutrient Agar) dipilih media tersebut karena media NA (Nutrient Agar) merupakan salah satu media kultur yang paling umum digunakan, media NA (Nutrient Agar) juga sederhana dan merupakan media terbaik dengan kemampuannya dalam mendukung pertumbuhan dari bakteri (Saha, 2008).

Uji aktivitas antibakteri dari ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan paper disk (kertas cakram). Salah satu metode paling umum digunakan untuk menentukan dengan cepat sensitivitas bakteri dan resistensinya terhadap obat-obatan antimikroba dengan menggunakan cakram kertas kecil yang masing-masing dijenuhkan dengan larutan obat pada konsentrasi yang berbeda-beda (Pollack, 2016).

Penelitian ini dilakukan pengujian terhadap bakteri Escherichia coli Kontrol positif dari penelitian ini adalah amoxicilin, amoxicilin adalah suatu antibiotik semisintetik penicillin yang memiliki cincin β-laktam memiliki aktivitas sebagai antibakteri yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan. Amoksisilin termasuk antibiotic spektrum luas dan memiliki bioavailabilitas oral yang tinggi, dengan puncak konsentrasi plasma dalam waktu 1-2 jam sehingga pengkonsumsiannya sering diberikan kepada anak-anak dan juga orang dewasa dan Kontrol negatif dari penelitian ini adalah DMSO, karena DMSO tidak memiliki sifat antibakteri maupun antijamur sehingga tidak dapat menghambat pertumbuhan keduanya (Athaillah dkk 2020). Pengujian antibakteri pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) dilakukan dengan konsentrasi 40%, 60% dan 80% dengan metode difusi agar menggunakan paper disk (kertas cakram).

Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) terhadap bakteri Escherichia coli memiliki aktivitas di mana pada masing-masing konsentrasi menunjukkan perbedaan daya hambat pada konsentrasi 40% sebesar 9,1 mm, konsentrasi 60% sebesar  10,1 mm, konsentrasi 80% sebesar 12,7 mm, kontrol positif sebesar 22,3 mm dan pada kontrol negatif tidak memiliki zona hambat, pada konsentrasi 40% da 60% dikategorikan sedang kerena memiliki nilai diameter zona hambat 5-10 mm, pada konsentrasi 80% dikategorikan kuat kerena memiliki nilai diameter zona hambat 11-20 mm dan  kontrol positif di kategorikan sangat kuat karena memiliki nilai diameter zona hambat >20 mm (Susanto Sudrajat dan Ruga, 2012).

Berdasarkan hasil one-way ANOVA pada bakteri Escherichia coli menunjukan nilai signifikan p<0,05 yaitu sebesar p = 0,00 yang berarti bahwa ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki aktivitas terhadap bakteri Escherichia coli.

Selanjutnya untuk perbedaan antara rata-rata kelompok konsentrasi secara lebih spesifik dapat dilakukan dengan uji LSD (least significance different). Hasil uji LSD bakteri Escherichia coli pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) pada konsentrasi 40%, 60%, 80% dan kontrol positif memperlihakan perbedaan dengan kontrol negatif hal ini menujukkan perlakuan tersebut memperlihatkan aktivitas antibakteri. Hasil analisis antara kelompok 40%, 60% dan 80% juga menunjukkan perbedaan, semakin meningkat konsentrasi menujukkan aktivitas yang lebih baik, Hal ini membuktikan kenaikan konsentrasi berbanding lurus dengan aktivitas. Hasil analisis dengan semua kelompok perlakukan ekstrak terhadap kontrol positif memperlihatkan adanya perbedaan. Hal ini menunjukkan pada konsentrasi ekstrak 40%, 60%, 80% dan  kontrol postitif menunjukan adanya aktivitas, Hal ini membuktikan kemampuan ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) efektif dalam menghabat pertumbuhan Escherichia coli pada konsentrasi 40%, 60% dan 80% dan pada  kontrol positif amoxicilin memiliki nilai berbeda signifikan.

Dari hasil pengamatan dan Analisa data yang telah di lakukan pada ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki aktivitas pada bakteri Escherichia coli, Hasil skrining fitokimia menurut Nataniel Sambou Christel dkk (2020) ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) mengandung berbagai komponen bioaktif termasuk senyawa fenolik, flavonoid, asam lemak, serat, dan vitamin. Kentos kelapa telah terbukti memiliki berbagai manfaat terapetik, antara lain sebagai antidepresan, antianemia, kardioprotektif, antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, antidiabetes dan antitukak, dimana senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Diduga senyawa yang memberikan efek antibakteri ialah flavonoid dan fenol. Mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri yaitu membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga dapat merusak membran sel bakteri yang diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler, Kandungan lain seperti fenol mampu merusak membran sel, membuat denaturasi protein, dan menginaktifkan enzim Lisozim sehingga dinding sel bakteri akan mengalami penurunan tegangan permukaan sel sehingga terjadi kematian sel.


 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :

1.     Kandungan proksimat ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) yang paling besar yaitu pada karbohidrat demgan kadar 44,64%, kadar air 14,79%, kadar air 14,79 dan kadar serat kasar 0,85%.

2.     Kadar polifenol total ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) yaitu 43.1503 mgQE/g ekstrak

3.     Ekstrak ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli yaitu pada konsentrasi 40% dengan diameter zona hambat 9,1 mm dan konsentrasi 60% yaitu 10,1 mm dikategorikan sedang dan konsentrasi 80% yaitu 12,7 mm dikategorikan  kuat

4.     Ekstrak ekstrak Kentos kelapa (cocos nucifera) memiliki aktivitas paling besar sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli yaitu pada konsentrasi 80% dengan diameter zona hambat 12,7 mm dikategorikan kuat terhadap bakteri Escherichia coli

B.    Saran

Berdasarkan hasil dan kesimpulan diatas disarankan kepada peneliti selanjutnya:

1.     Dapat melanjutkan penelitian uji kadar flavonoid total dengan menggunakan metode fraksinasi yang lain.

2.     Dapat melanjutkan penelitian uji aktivitas antioksidan dengan metode yang lain.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, A. (2020). Potensi Pangan Fungsional Dan Perannya Dalam Meningkatkan Kesehatan Manusia Yang Semakin Rentan—Mini Review. Teknosains: Media Informasi Sains Dan Teknologi14(2), 176-186.

Anam, C. (2019). Mengungkap Senyawa Pada Nata De Coco Sebagai Pangan Fungsional. Jurnal Ilmu Pangan Dan Hasil Pertanian3(1), 42-53.

Apriliana, E., Tjiptaningrum, A., & Julianingrum, R. (2019). Perbandingan Efektivitas Ekstrak Propolis Dalam Menghambat Pertumbuhan Pertumbuhan Bakteri Gram Positif (Staphylococcus aureus) danGram Negatif (Escherichia coli) Secara In Vitro. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung3(1), 129-134.

Azis, A. (2020). Pengaruh Ekstrak Kentos Kelapa (Cocos Nucifera L.) Terhadap Penurunan Immobility Time Sebagai Antidepresan Pada Mencit (Mus Musculus). Jurnal Kesehatan Yamasi Makassar4(1).

Bode, A. (2019). Perbandingan Metode Prediksi Support Vector Machine Dan Linear Regression Menggunakan Backward Elimination Pada Produksi Minyak Kelapa. Simtek: Jurnal Sistem Informasi Dan Teknik Komputer4(2), 104-107.

Chikku, A. M., & Rajamohan, T. (2012). Coconut haustorium maintains cardiac integrity and alleviates oxidative stress in rats subjected to isoproterenol-induced myocardial infarction. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences74(5), 397.

Fitri,A.S.,&Fitriana,Y.A.N.(2020).Analisis Senyawa Kimia Pada Karbohidrat. Sainteks17(1), 45-52.

Hainil, S., Sammulia, S. F., & Adella, A. (2022). Aktivitas Antibakteri Staphyloccocos aureus dan Salmonella thypi Ekstrak Metanol Anggur Laut (Caulerpa racemosa): Antibacterial Activity Staphyloccocos aureus and Salmonella typhi Sea Grapes (Caulerpa racemosa) Methanol Extract. Jurnal Surya Medika (JSM)7(2), 86-95.

Hakim, M. Z. F., Handayani, W. A. F., Fauziah, S. N., & Haryanto, H. (2020). Kajian: Karakter, Proses Dan Potensi Virgin Coconut Oil (VCO) Sebagai Pangan Fungsional. Journal Of Science, Technology And Entrepreneur2(2).

Harborne, J.B, (1987). Metode fitokimia cara moder menganalisis tumbuhan. penerbit ITB Bandung Hermans, M.H.E. 2005. A General OverView Of Burn Care. Int Wound J 2005; 2:3, 206-220

Harbone, J.B, (2006). Metode fitokimia: penuntun cara modern menganalisis tumbuhan edisi kedua. Bandung: Penerbit ITB. 144-147

Hasnaeni, T. (2022). Analisis Proksimat Cookies Subtitusi Tepung Jewawut dan Bekatul Sebagai Sumber Energi dan Protein Balita Underweight Proximate Analysis of Cookies Subtituted with Foxtail Millet Flour and Rice Bran as A Source Of Energy and Protein for Underweight Toddlers (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).

Khairani, K., Busman, B., & Edrizal, E. (2017). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Jamur Tiram Purih (Pleurotus Ostreatus) Terhadap Bakteri Streptococcus Mutans Penyebab Karies Gigi. B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah4(2), 110-116.

Kolondam,L.,Djarkasi, G. S., Leke, J. R., Mamuaja, C. F., & Pongoh, J. (2023). Potential Antioxidant Activity Of Coconut Kentos Flour (Cocos Nucifera L.) And Application In Biscuits. Jurnal Agroekoteknologi Terapan4(2), 284-292.

Kurnia, N., Muhali, M., Hunaepi, H., & Asy'ari, M. (2021). Pangan Fungsional Untuk Proyek Independen Kkn-Tematik Di Masa Pandemi Covid-19. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan5(1), 608-615.

Kusumayanti, H., Hanindito, S. B., & Mahendrajaya, R. T. (2016). Pangan Fungsional Dari Tanaman Lokal Indonesia. Metana12(1), 26-30.

Mansauda, K. L. R., Rumokoy, S. N., Warokka, A., Atmaja, I. G. P., Simanjuntak, C. H., & Kumaat, A. P. (2023). Alat Pengering Simplisia Kentos Kelapa (Cocos Nucifera): Studi Potensi. Jurnal Elektrik2(1), 10-15.

Manso, T., Lores, M., & de Miguel, T. (2021). Antimicrobial activity of polyphenols and natural polyphenolic extracts on clinical isolates. Journal Antibiotics11(1), 46.

Mardesci, H. (2023). Pemanfaatan Limbh Kentos Menjadi Fried Coconut Sprout. Jurnal Teknologi Pertanian12(1), 33-40.

Mardiah, M. (2017). Uji Resistensi Staphylococcus aureus Terhadap Antibiotik, Amoxillin, Tetracyclin dan Propolis. Jurnal Ilmu Alam Dan Lingkungan8(2).

Mardiyanto, A.(2016). Provinsi Sulawesi Tenggara Dalam Angka 2016. BPS Provinsi Sulawesi Tenggara

Narayanankutty, A., Job, J. T., Kuttithodi, A. M., Sasidharan, A., Benil, P. B., Ramesh, V., ... & El-Din, M. M. E. (2023). Proximate Composition, Antioxidant, Anti-Inflammatory And Anti-Diabetic Properties Of The Haustorium From Coconut (Cocos Nucifera L.) And Palmyra Palm (Borassus Flabellifer L.). Journal Of King Saud University-Science35(1), 102404.

Ninda,  H. (2022).  Analisis Proksimat dan Uji Oganoleptik Bolu Kukus Dengan Tepung Kecambah Kacang Hijau (Vigna radiata) dan Tepung Kulit Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum (l.) kunt.). (Doctoral dissertation, UIN RADEN INTAN LAMPUNG).

Ningrum, M. S. (2019). Pemanfaatan Tanaman Kelapa (Cocos Nucifera) Oleh Etnis Masyarakat Di Desa Kelambir Dan Desa Kubah Sentang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang (Doctoral Dissertation, Universitas Medan Area).

Nurjanah, G. S., Cahyadi, A. I., & Windria, S. (2020). Kajian Pustaka: Resistensi Escherichia coli Terhadap Berbagai Macam Antibotik pada Hewan dan Manusia. Indonesia Medicus Veterinus9(6), 970-983.

Pradawahyuningtyas, A., Priastomo, M., & Rijai, L. (2020). Aktivitas Antianemia Filtrat Limbah Kentos Kelapa (Cocos Nucifera) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Natrium Nitrit Antianemic Activity Of Coconut (Cocos nucifera) Haustorium Waste Filtrate In Mice Induced By Sodium Nitrite.

Pratiwi, I. H., Lestari, F., & Suwendar, S. (2020). Kajian Literatur Penggunaan Jenis An

tibiotik pada Pasien Pneumonia Pediatrik yang Digunakan Diberbagai Rumah Sakit. Prosiding Farmasi6(2), 108-114.

Putri, R. W. A. (2016). Identifikasi Bakteri Eschericia coli dan Salmonella sp. Pada Jajanan Batagor Di Sekolah Dasar Negeri Di Kelurahan Pisangan, Cirendeu, Dan Cempaka Putih Ciputat Timur (Bachelor's thesis, FKIK UIN Jakarta).

Rahman, N. A. (2022). Pengaruh Lama Ekstraksi Terhadap Kadar Polifenol Total Dan Katekin Biji Buah Pinang (Areca Catechu L.) Dari Beberapa Daerah Di Sulawesi Selatan Dengan Metode Ultrasonic Assisted Extraction (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).

Riani,  I. (2021). Analisis Cemaran Bakteri Escherichia Coli Pada Bubur Bayi Home Industry Di Kabupaten Tulungagung Dengan Metode Alt Dan Mpn (Doctoral dissertation, Stikes Karya Putra Bangsa Tulungagung).

Rompas, S. A. T., Wewengkang, D. S., & Mpila, D. A. (2022). Uji Aktivitas Antibakteri Organisme Laut Tunikata polycarpa aurata Terhadap Bakteri Escherichia coli Dan Staphylococcus aureus. JOURNAL PHARMACON11(1), 1271-1278.

Sari, A. K. (2015). Penetapan Kadar Polifenol Total, Flavonoid Total, Dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata) Dari Jember Pada Ketinggian Tanah Yang Berbeda.

Siahaya, G. C., Titaley, S., & Rehena, Z. (2021). Pemanfaatan Tombong Kelapa Sebagai Bahan Baku Tepung (Utilitation Of Coconut Tombong As Raw Material Four). Jurnal Agribisnis Perikanan14(1), 25-34.

Siahaya, G. C., Titaley, S., & Rehena, Z. (2021). Pemanfaatan Tombong Kelapa Sebagai Bahan Baku Tepung (Utilitation of Coconut Tombong as Raw Material Four). Jurnal Agribisnis Perikanan14(1), 25-34.

Sibero, M. T., Trianto, A., Frederick, E. H., Wijaya, A. P., Muhammad Ansori, A. N., & Igarashi, Y. (2022). Biological Activities and Metabolite Profiling of Polycarpa aurata (Tunicate, Ascidian) from Barrang Caddi, Spermonde Archipelago, Indonesia. Jordan Journal of Biological Sciences15(1).

Sovia, E., Ratwita, W., Fitriyanto, I. A., & Nurlaela, L. (2023). Edukasi Penggunaan Antibiotika Yang Bijak Dan Aman. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)6(3), 991-1000.

Sumampouw, O. J. (2018). Uji sensitivitas antibiotik terhadap bakteri escherichia coli penyebab diare balita di kota manado. Journal of Current Pharmaceutical Sciences2(1), 104-110.

Suteja, A., Kardhinata, E. H., & Lubis, R. (2019). Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Durian (Durio Zibethinus Murr). Jurnal Ilmiah Biologi UMA (JIBIOMA)1(1), 1-6.

Valli, S. A., & Gowrie, S. U. (2021). Bioprospecting and Therapeutic Applications of Cocos nucifera L. Sprouts. Int J Cur Res Rev| Vol13(22), 35.

Widianingrum, D. C., Noviandi, C. T., & Salasia, S. I. O. (2019). Antibacterial And Immunomodulator Activities Of Virgin Coconut Oil (VCO) Against Staphylococcus Aureus. Heliyon5(10).

Yenrina, R. (2015). Metode Analisis Bahan Pangan Dan Komponen Bioaktif. Andalas University Press, Padang, Hal4-39.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema kerja pembutan ekstrak

Kentos kelapa

Simplisia Kentos Kelapa

Evaporasi

Maserasi Simplisia

Ekstrak Kental

·     Dicuci bersih

·     Disortasi basah

·     Dirajang dikeringkan

·     Disortasi kering

·     Ditimbang

·     Dimasukkan dalam wadah maserasi

·     Ditambahkan metanol

·     Didiamkan 3x24 jam, sesekali diaduk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Lampiran 2.  Skema kerja pembuatan tepung Kentos kelapa

Kentos kelapa

Simplisia Kentos Kelapa

Tepung Kentos kelapa

·     Dicuci bersih

·     Disortasi basah

·     Dirajang dikeringkan

·     Disortasi kering

·     Ditimbang

·     Diblender hingga halus

·     Diayak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Analisis Kadar Air

Lampiran 3. Analisis Kandungan Proksimat

 

Analisis Kadar Karbohidrat

Analisis Serat  

Analisis Kadar Lemak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Ekstrak Kentos kelapa

Lampiran 4. Uji Kadar Polifenol Total

 

Campuran Ekstrak Kentos kelapa dan pereaksi

Hasil

·     Ditambahkan reagen Folin-Ciocalteu

·     Ditambahkan Na2CO3 7,5%

·     Didiamkan pada suhu kamar 70 menit  

·     Diukur absorbansi menggunakan spektrofotmeter UV-Vis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Lampiran 5. Uji Aktivitas Antibakteri

Pembuatan media nutrient Agar (NA)

Pembuatan suspensi bakteri uji

 

Peremajaan bakteri

 

Sterilisasi Alat

Pembuatan larutan kontrol positif

 

Pengujian Luas zona hambat

 

Pengamatan dan pengukuran zona hambat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Lampiran 6. Perhitungan Penimbangan Bahan

1.     Perhitungan Medium Nutrient Agar

Medium NA = gram

2.     Perhitungan Konsentrasi Ekstrak Kentos Kelapa

Ø  Konsentrasi 40%  = ram

Ø  Konsentrasi 60%  = ram

Ø  Konsentrasi 80%  =

3.            Perhitungan kontrol positif Amoxicillin 1% dan kontrol negatif DMSO

Amoxicillin 1% =  x 3 ml = 0,03 gram

DMSO = 3ml

Terbaru Lebih lama

Related Posts

There is no other posts in this category.